Autism and the Inclusion Mandate

By ANN CHRISTY DYBVIK  

“Worst practices in inclusion” include:

• Insisting on inclusion at all costs.

• Settling for a mere physical presence in the classroom.

• Giving priority to the inclusive education model over the individual needs of children.

• Providing little or no training to staff.

• Keeping the paraprofessional out of the loop.

• Teaching rote information so that the student can pass mandated tests instead of teaching needed skills.

• Watering down curriculum.

• Failing to teach peers about the nature of disabilities and how to interact with peers who have a disability.

Daniel walks into his kindergarten classroom and drops his outerwear, backpack, and bus harness in a tangled heap in the middle of the floor. Daniel has a singular focus this morning: building a bridge and a house out of Lincoln Logs.

He does not notice as classmates step around or over him as he plays on the hard floor. If other children move into his space, he pushes them away. One or two children greet him, but he does not answer. Daniel keeps up a running dialogue as he plays, in jargon rarely understandable to anyone but himself.

Daniel’s educational aide approaches him and, using a handmade schedule book with symbolic pictures, shows Daniel that this is not the time for playing. The first picture on the schedule is a locker, indicating that Daniel is to hang up his coat and backpack. Transitions to new activities are very difficult for Daniel, and he begins to scream and kick. Other children watch quietly or walk away.

Daniel is autistic. He is charming, intelligent, creative, and full of energy, just like his 18 classmates. However, he is unable to use language to interact with others. His rare attempts at communication are through imitation and usually in only one or two words. Teachers and aides communicate with Daniel using a combination of picture symbols and words, since children with autism learn best visually. Like other children with autism, Daniel would not understand the activities of the day without his schedule book. When events change and the day does not correspond to his schedule, Daniel may lose control and throw a tantrum. He requires the support of an educational assistant every minute of the school day. Continue reading

Full Moon and Autism: Is There a Connection?

Perfectly Quirky

Now, I don’t want to sound a little crazy, but I am really starting to wonder if the moon cycle plays a role in my son’s all around behavior and ability to function at his best. Sometime last summer, when S’s new teacher started, I remember complaining about S having a rough few days. Her reply? “Well, it is a full moon.” I sort of laughed, as I thought she was joking. She wasn’t laughing though, and she told me that in her many years as a teacher, she has become convinced that the moon’s cycle has a strong effect on children with ASD and those with ADHD.

And so, as months would go by, I would notice that on days where S really seemed to be having a bad day, there would be a big white ball in the sky. He tends to have a harder time transitioning, a more…

View original post 478 more words

Cara Pemilihan Susu Terbaik Bagi Anak, Bukan Yang Terkenal Termahal Disukai

DOKTER INDONESIA ONLINE

PEMILIHAN SUSU FORMULA TERBAIK BAGI ANAK

ASI adalah susu yang terbaik bagi anak. Susu formula terbaik adalah susu yangsesuai dengan kondisi anak dan tidak menimbulkan gangguan. Bukan karena yang disukai, termahal, terkenal atau yang mengandung berbagai macam kandungan kecerdasan

Dr Widodo Judarwanto SpA BREAST IS THE BEST

ASI adalah merupakan makanan terbaik untuk bayi dan anak. Tetapi menjadi masalah bila anak tidak dapat mengkonsumsi ASI dengan cukup karena berbagai kondisi dan keadaan. Penggunaan PASI (Pengganti ASI) menjadi alternatif yang tidak dapat dihindarkan. Orang tua sering dihadapkan pada masalah pemilihan jenis susu formula yang tepat dan baik untuk bayi. Masalah ini diperumit dengan semakin banyaknya susu formula yang beredar di pasaran. Informasi tentang pemahaman pemilihan jenis susu semakin banyak didapatkan, baik dari dokter, sales promotion di supermarket, iklan di media cetak dan elektronik, brosur atau dari pengalaman ibu lainnya. Informasi yang beragam inilah yang kadang membingungkan orang tua, karena sering sangat…

View original post 3,441 more words

Alergi Mengganggu Otak dan Perilaku Anak (Bagian II dari 2)

Sumber: http://www.indosiar.com/ragam/alergi-mengganggu-otak-dan-perilaku-anak-bagian-i_21482.html

Alergi, Sistem Susunan Saraf Pusat dan Gangguan Perkembangan – Perilaku

Sistem susunan saraf pusat adalah bagian yang paling lemah dan sensitif dibandingkan organ tubuh lainnya. Otak merupakan pusat segala koordinasi sistem tubuh dan fungsi luhur. Sedangkan alergi dengan berbagai akibat yang bisa mengganggu organ sistem susunan saraf pusat dan disfungsi sistem imun itu sendiri, tampaknya menimbulkan banyak manifestasi klinik yang dapat mengganggu perkembangan dan perilaku seorang anak.

Ada 2 hal yang berbeda antara hubungan gangguan alergi dan gangguan sistem susunan saraf pusat. Perbedaan tersebut tergantung dari ada tidaknya kelainan organik otak. Bila terdapat gangguan organik di otak seperti autism atau adanya fokus di otak lainnya, maka proses alergi hanyalah memperberat atau mencetuskan timbulnya gejala.

Bila tidak ada kelainan anatomis otak, maka kemungkinan besar proses alergi sangat berkaitan dengan kelainan tersebut. Biasanya bila organ otak tidak ada kelainan atau penyakit lainnya, maka pengaruh alergi pada otak biasanya prognosis baik dan gejalanya tidak berat. Namun bila didapatkan autism atau gangguan organik otak lainnya maka prognosisnya lebih buruk. Bila gangguan tersebut diperberat oleh pencetus alergi maka penatalaksanaan alergi dengan pengaturan diet dapat mengurangi gejalanya.

Menurut G. Kay, Associate Professor Neurology dan Psychology Georgetown University School of Medicine Washington, dampak penyakit alergi pada fungsi otak, bermanifestasi sebagai menurunnya kualitas hidup, menurunnya suasana kerja yang baik, dan menurunnya efisiensi fungsi kognitif. Continue reading

Alergi Mengganggu Otak dan Perilaku Anak (Bagian I dari 2)

Sumber: http://www.indosiar.com/ragam/alergi-mengganggu-otak-dan-perilaku-anak_21481.html

Jangan anggap remeh dengan alergi. Karena dapat menimbulkan komplikasi yang mungkin bisa terjadi.

Beberapa laporan ilmiah baik di dalam negeri atau luar negeri menunjukkan bahwa angka kejadian alergi terus meningkat tajam beberapa tahun terahkir. Tampaknya alergi merupakan kasus yang mendominasi kunjungan penderita di klinik rawat jalan Pelayanan Kesehatan Anak.

Alergi pada anak tidak sesederhana seperti yang pernah kita ketahui. Sebelumnya kita sering mendengar dari dokter spesialis penyakit dalam, dokter anak, dokter spesialis yang lain bahwa alergi itu gejala adalah batuk, pilek, sesak dan gatal.

Padahal alergi dapat menyerang semua organ tanpa terkecuali mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan berbagai bahaya dan komplikasi yang mungkin bisa terjadi. Belakangan terungkap bahwa alergi menimbulkan komplikasi yang cukup berbahaya, karena alergi dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita termasuk gangguan fungsi otak. Karena gangguan fungsi otak itulah maka timbul gangguan perkembangan dan perilaku pada anak seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, keterlambatan bicara, gangguan konsentrasi hingga autism. Continue reading

Mengenal Tourette Syndrome

Tengakarta

Tourette Syndrome adalah gangguan neuropsikiatri yang diwariskan pada masa anak anak yang gejalanya antara lain muncul tic (gerakan spontan) pada anggota tubuh maupun suara yang tidak terkendali dan selalu berulang. Gejala-gejala semacam ini akan mempengaruhi individu yang mengalami Tourette Syndrom terhadap aktivitasnya sehari-hari. Syndrom ini dinamakan Tourette sesuai dengan penemunya yaitu Dr Georges Gilles de la Tourette yang merupakan neurolog asal Prancis yang pertama kali mendeskripsikan Tourette Syndrom ada kalangan bangsawan di Perancis pada tahun 1885. Tourette Syndrom merupakan salah satu sindrom yang sangat langka dan sering dikaitkan oleh orang yang pengumpat dan berkata kotor. Namun saat ini Tourette Syndrom sudah tidak dianggap sebagai sindrom psikiatri yang langka. Sebagain besar orang yang diidentifikasikan mengalami Tourette Syndrom hanya mengalami gejala yang ringan, dan sangat sedikit sekali yang diidentifikasikan mengalami gejala yang berat.

Gejala awal Tourette Syndrom pertama kali muncul pada masa anak-anak terutama usia 3-9 tahun. Tourette Syndrom bisa dialami oleh…

View original post 500 more words

Sarah Stup: About Friendship

Sarah Stup, born in Frederick, Maryland, in 1983, was diagnosed as autistic at an early age. Stup’s disability is considered significant; she does not speak and has limited motor skills. At age 8, she began writing by pointing to letters on an alphabet sheet to spell out words. She now uses a variety of typing devices to converse and work. Stup’s writing skills were further developed during a writing internship at the Arc of Frederick County (Maryland), while she was in her final year of high school.

Currently, Stup has published two books: Do-si-Do with Autism (for children); and Are Your Eyes Listening? Collected Works (for adults). Stup is now at work on her third book, Paul and His Beast, which is for middle school-aged children.

Stup has also launched “Sarah’s Keepsake Collection” of gift booklets. The collection includes Heart and Spirit: Words to comfort, inspire and share, and Nest Feathers: A celebration of family, home, and memories shared. Although Stup’s books deal with the experience of autism, each also touches on universal themes like love, personal meaning and the need to belong. Continue reading