Pendidikan Seks Untuk ABK

Pendidikan Seks untuk Anak Autis

Minggu, 4 April 2010 | 07:43 WIB

KOMPAS.com — Gangguan perkembangan, terutama dalam berkomunikasi, berinteraksi sosial dan berperilaku, yang dialami oleh anak-anak autis membuat kebanyakan orangtua lebih fokus untuk meningkatkan kemampuan anak dalam berkomunikasi dan bidang akademik lainnya.
Padahal, anak-anak berkebutuhan khusus juga akan berkembang menjadi seorang remaja, mengalami masa puber, dan tertarik pada hal-hal yang berbau seksualitas. Itu sebabnya anak-anak autis tetap perlu mendapatkan pendidikan seks sejak dini.
Sementara itu, kebanyakan orangtua sering kali menghindari diskusi masalah seks dengan anak autis. Padahal, seorang remaja autis tidak punya pengetahuan yang cukup untuk mengerti soal seks karena keterbatasan kemampuan motorik dan perilaku.
Itu sebabnya banyak anak autis punya masalah dalam hal seksualitas, misalnya kebiasaan memegang kemaluan atau menyentuh bagian privat tubuh orang lain.
“Masalah-masalah tersebut biasanya baru disadari orangtua saat sudah menjadi masalah besar, misalnya anak terbiasa melakukannya di tempat umum. Ini karena orangtua tidak mencermati atau mengabaikan perilaku seks anaknya,” ungkap Dra Dini Oktaufik, praktisi terapi perilaku.
Dini menuturkan, seorang anak autis juga bisa berkembang layaknya seorang anak normal, baik fisik maupun hormonal. “Mereka juga akan mengalami perkembangan seksual dan punya dorongan yang sama seperti remaja normal,” ungkapnya.
Perlu dilatih
Tidak mudah memang mengajarkan seksualitas kepada anak berkebutuhan khusus seperti anak autis. Namun, bila diajarkan sesuai dengan tingkat pemahaman anak dan dilakukan secara berulang-ulang, maa anak akan mengerti.
“Seks adalah sesuatu yang alamiah dan dorongan ini dimiliki semua manusia. Tak perlu kaget jika anak masturbasi karena itu dorongan naluri. Yang penting, ajarkan anak agar tidak melakukannya di sembarang tempat,” ungkap Dini di acara Tanya Jawab Autisme yang diadakan oleh Masyarakat Peduli Autis Indonesia (Mpati) di Jakarta, Sabtu (3/4/2010).
Dini menambahkan, sebelum mengajarkan hal-hal yang lebih rumit, seperti perubahan hormonal, yang pertama perlu dimiliki adalah kepatuhan anak. Misalnya, mengajari tentang penggunaan toilet, kebersihan badan, dan rasa malu.
“Anak juga perlu memahami privasi dan bagian-bagian tubuhnya sendiri. Apa yang tidak boleh dipandang ketika berbicara dengan orang lain, serta sentuhan yang boleh dan tidak boleh dilakukan orang lain,” paparnya. Untuk anak perempuan, ajarkan mengenai kebersihan saat menstruasi.
Sikap orangtua dan terapis terhadap seksualitas akan memengaruhi pemahaman anak terhadap seks. Untuk itu, Dini menyarankan agar pertama-tama orangtua dan terapis menghilangkan pikiran tabu mengenai seks. “Kita tidak cukup mengasuh anak, tapi juga harus mendidiknya menjadi individu yang mandiri,” katanya.
Penulis: AN   |   Editor: Anna Dibaca : 497

Advertisements

Titip Salam Iedul Fitri Untuk Orangtuamu

Tulisan Rektor untuk mahasiswanya menjadi Viral, rektor idaman 😍

TERUNTUK MAHASISWAKU: TITIP SALAM IEDUL FITRI UNTUK ORANGTUAMU

Ditulis Prof. Joni Hermana

Saya turun menuju kendaraan dinas yang sudah menunggu di pelataran gedung Rektorat. Segera rasa sepi menyergap, suasana tampak lenggang, tidak seperti biasanya. Tempat parkir yang saat waktu nomal masih penuh, juga tampak kosong. Dengung candaria dan lalu lalang para mahasiswa masih tertancap dalam bayangan saya walaupun saya tidak melihat seorang mahasiswa pun sore itu.

Lalu mobil berjalan di sepanjang koridor jalan kampus ITS yang hijau dan rindang, mengantarkan saya menuju kediaman. Saya merasakan suasana yang hening dan kemudian  mata terasa mulai membasah…

Hanya 3 hari lagi lebaran tiba, namun suasana haru sudah mulai hinggap. Gaung takbir yang menggetarkan sebentar lagi akan kembali terdengar. Bayang keteduhan pohon di sepanjang jalan kampus yang saya lewati justru membuat hati bercampur aduk. Sebab biasanya pada saat-saat seperti ini, saya dan keluarga sedang melaju di jalan raya lintas utara Surabaya- Bandung untuk mudik dan bertemu orangtua. Walaupun menyupir dalam keadaan berpuasa, bahkan untuk perjalanan yang sangat jauh karena setidaknya membutuhkan waktu 16 jam untuk mencapainya, saya tetap melakoninya dengan semangat dan sabar. Terbayang kebahagiaan saya bertemu orangtua dan saudara-saudara keluarga besar. Sebagian bahkan hanya setahun sekali kami sempat bertemu karena kesibukan rutinitas masing-masing. Perjalanan panjang seperti itu hanyalah bagian dari tantangan menyenangkan untuk bisa saya lewati. Walaupun berat, tetap hal ini ini tidaklah cukup kuat untuk menahan rasa rindu berkumpul kembali dengan keluarga besar.

Suasana dan peristiwa  itu, tanpa terasa, sudah berlalu lebih dari 10 tahun, saat terakhir saya masih mendapat kesempatan bertemu ibunda yang sudah sepuh termakan usia. Sekarang semua itu tinggal kenangan belaka. Walaupun terasa sedih, namun kehidupan memang harus terus berjalan dan berubah. Tinggallah semua yang terjadi diantaranya yang akan melekat memberi pelangi kenangan yang kadang akan bangkit kembali ketika ada momen yang mendukung. Seperti saat sore itu, di sepanjang koridor jalan kampus ITS yang sepi nan redup tertutup oleh rindangnya pohon-pohon Akasia yang berjajar di sepanjang jalan. Semua bayang-bayang kenangan tercetus begitu saja. Air mata hangat terasa mulai menggayut.

Duh Gusti, betapa bahagianya mereka yang masih memiliki orangtua, sebab mereka adalah perekat yang mampu membuat anak-anaknya rela menempuh jarak jauh untuk datang dan berkumpul bersama di saat hari lebaran. Bukan semata berkumpul sebenarnya, tetapi lebih dari itu, kita seolah akan kembali ke masa kanak-kanak lagi dengan apa yang ibunda dan ayah lakukan. Tidak peduli berapa usia dan status anaknya saat ini, bagi mereka kita tetap lah anak-anaknya. Terbayang, berbagai makanan kecil,  kue dan jajanan kesukaan kita saat masih anak-anak akan tersedia begitu saja di atas meja makan. Ah, betapa kangennya suasana seperti itu lagi, kita dimanjakan kasih sayang orangtua walau tidak pernah mereka nyatakan dengan kata. Indahnya cinta orangtua…. Karena itu sungguh terlalu jika ada anak-anaknya yang lalu lupa. Kita harus ingat bahwa karena perjuangan orangtua lah kita sampai sekarang ini. Tidak heran jika Allah SWT lalu bersabda bahwa hanya dengan ridho orangtualah maka DIA akan ridho pada kita. Ibu dan ayahanda adalah tiket bagi kita untuk mendapatkan surganya Allah SWT. Karena itu, bagi mereka yang pintar, mereka tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk memuliakan orangtuanya, mumpung mereka masih hidup. Sebab, mereka adalah ladang pahala bagi kita, anak-anaknya. Jangan sia-siakan kesempatan ini, sebab hal seperti ini pasti tidak akan pernah datang kembali.

Dan lebaran Iedul Fitri adalah saat yang tepat untuk menyampaikan rasa sayang kita sebagai anaknya, sekaligus memohon doa dan maafnya.

Selamat mudik anak-anakku, titip salam saya pada orangtua kalian, sampaikan salam hormat saya, dan permohonan maaf jika dalam menjalankan amanah putra-putrinya untuk dididik di ITS masih banyak hal yang belum sempurna. Memang proses pendidikan memerlukan waktu panjang, apa yang kita tanam saat ini, mungkin baru berbuah setelah sekian belas bahkan puluh tahun Ananda lulus kuliah dari ITS…

Selamat Iedul Fitri 1348 H, Taqobalallaahu minna wa minkum,

Shiyaamana wa shiyaamakum,

Mohon maaf lahir dan bathin.

Semoga Allah selalu membimbing kita semua untuk menjadi insan yang bertaqwa, yang cinta orangtua, saudara, bangsa, negara dan agamanya…
AamiinYRA
Joni Hermana, Rektor ITS

(Kampus ITS Sukolilo, Surabaya

Kamis, 22 Juni 2017, pk 17.15…)

Beasiswa LPDP

 

KOMPAS.com – Kehabisan jatah beasiswa seharusnya sudah jadi mitos basi untuk pelajar zaman sekarang. Pasalnya, seperti jalan menuju Roma, ada banyak skema beasiswa yang bisa diraih. Salah satunya adalah pembiayaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan atau beasiswa LPDP.

“Pada 2016 ini akan ada 40 angkatan penerima beasiswa dari berbagai daerah di Indonesia,” ujar Mohammad Kamiluddin, Ketua Persiapan Keberangkatan LPDP, seperti dikutip dari Kompas.com, Selasa (26/1/2016).

Pelajar dapat mengajukan beasiswa untuk berbagai program pendidikan tinggi, baik di dalam maupun luar negeri. Peminat juga bisa daftar dengan tujuan pendaan untuk riset akademis.

Beasiswa ini berhak diperoleh bagi seluruh penduduk yang tercatat sebagai warga negara Indonesia. Tentunya, peminat harus memiliki kemampuan akademis, mempunyai semangat kepemimpinan, serta lolos seleksi.

“Setelah diterima nanti, pelajar juga diharuskan mengikuti Program Kepemimpinan selama enam hari. Penerima beasiswa akan ditanamkan nilai-nilai kenegaraan dengan berdiskusi, membuat karya ilmiah, dan outbond,” ujar Kamil.

Program tersebut ditujukan untuk menyatukan visi dan misi sebelum menempuh pendidikan. Nantinya, penerima beasiswa diharapkan bisa menerapkan ilmunya agar bermanfaat bagi masyarakat dan negara setelah lulus.

Biaya penuh

Beruntungnya bagi mahasiswa, beasiswa LPDP menutup semua biaya yang sekiranya akan dikeluarkan selama masa studi. Penerima beasiswa berhak atas biaya pendaftaran, uang semester, biaya buku, seminar, publikasi, dan wisuda.

Skema ini pun menanggung dana yang bersifat non-pendidikan. Pelajar akan diberikan biaya hidup, meliputi uang bulanan, asuransi, transportasi, dan dana darurat. Jika memilih kampus luar negeri, aplikasi visa serta biaya keberangkatan akademisi pun ditanggung oleh pihak LPDP.

Skema pendanaan tersebut ditujukan agar mahasiswa dapat melanjutkan pendidikan tinggi dengan serius. Beasiswa akan berlaku selama masa tempuh studi, maksimal dua tahun bagi program magister dan empat tahun untuk program doktor.
Pendaftaran

Untuk mendaftar beasiswa ini, peminat wajib menyandang gelar sarjana dan tidak sedang menjalani masa studi di perguruan tinggi mana pun. Peminat juga sebaiknya belum pernah mengambil program studi yang diminati.

Misalnya, mahasiswa S2 tidak diperkenankan untuk mendaftar beasiswa program magister. Namun, ia dapat mengajukan skema beasiswa tesis.

Sekadar catatan, peminat sebaiknya memperhatikan waktu pendaftaran dengan awal masa studi. LPDP menyaratkan minimal rencana perkuliahan dimulai enam bulan setelah tutup pendaftaran di setiap periode seleksi.

Tidak hanya itu. Pelajar disarankan telah mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum mendaftar. Pasalnya, peminat hanya boleh gagal pada seleksi wawancara maksimal dua kali dan setelahnya tidak diperkenankan mendaftar kembali.

Adapun keterangan lengkap mengenai berbagai skema beasiswa LPDP dapat diakses pada situs web http://www.lpdp.depkeu.go.id. Peminat juga bisa mengajukan pertanyaan langsung melalui surel ke cso.lpdp@kemenkeu.go.id.

Selain LPDP, Anda bisa mengetahui berbagai informasi seputar beasiswa lainnya di dalam dan luar negeri pada laman Visual Interaktif Kompas, “Berburu Beasiswa”. Selamat mencari jalan menuju kampus impian! http://edukasi.kompas.com/read/2016/09/02/13030051/Catat.Serba-serbi.Beasiswa.LPDP.yang.Perlu.Mahasiswa.Tahu.

What Teens Need Most From Their Parents

Artikel ini ditulis oleh Sue Shellenbarger sue.shellenbarger@wsj.com
Link artikel: http://www.wsj.com/articles/what-teens-need-most-from-their-parents-1470765906

Apa Yang Paling Dibutuhkan Remaja Dari Orangtuanya

Ketika remaja menjalani tahun-tahun heboh dalam perkembangan mereka, mereka perlu pembinaan, dukungan, contoh yang baik dan yang terpenting: pemahaman dari orangtuanya  Usia remaja dapat menjadi masa yang membingungkan bagi orang tua. Ketika sifat anak berubah, dari yang sebelumnya anak yang rasional menjadi anak yang emosional dan moody, dari yang sebelumnya remaja yang bijak mendadak menjadi remaja yang gemar mengambil tindakan ber resiko.

Berbagai penelitian baru menawarkan penjelasan untuk misteri ini. Pencitraan otak menambahkan jenis lain data yang dapat membantu menguji hipotesis dan menguatkan penyebab remaja berubah perilaku dan emosi mereka. Puluhan penelitian bertahun-tahun terakhir ini telah menelusuri perkembangan remaja dari waktu ke waktu, bukan hanya membandingkan kelompok-kelompok remaja pada satu waktu.

Penelitian baru ini mengubah pandangan ilmuwan tentang peran orang tua dalam membantu anak-anak menjalani masa perubahan ini. Jika dahulu masa ini dilihat sebagai waktu bagi orang tua untuk melangkah mundur, justru sekarang semakin dilihat sebagai kesempatan bagi orangtua untuk tetap memonitor dan terhubung secara emosional.

Penelitian ini memungkinkan kita untuk mengidentifikasi empat fase penting dalam pengembangan keterampilan intelektual, sosial dan emosional yang sebagian besar remaja akan mengalami pada usia tertentu. Berikut adalah panduan untuk temuan terbaru tersebut: Continue reading

Why Ignoring May Backfire: Positive Alternatives for Disruptive Behavior

by Jessica Minahan

Some students will stop at nothing to get attention in class. Banging on the desk, making burping sounds, making inappropriate comments – we have all experienced these tedious behaviors that stop the learning and wear down even the most dedicated and experienced teacher.

Over time, most learn more appropriate ways of drawing the teacher’s attention. The distracting behavior subsides. However, there some for whom attention-seeking behaviors are a comfort zone. They continue to yell, throw things, and otherwise highjack the classroom while the helpless teacher is frustrated and out of patience.

In these cases, ignoring seems logical – we’ve been taught when a student wants attention and we give it to them, we might be reinforcing the behavior. But it is not that simple. When a student a student seeks attention in disruptive ways, it may be due to underlying distress or uncomfortable feelings, such as anxiety. Ignoring the behavior can increase anxiety or discomfort and subsequently increase the student’s behavior.

Ignoring can accidentally reinforce less safe behavior

Continue reading

The Highs and Lows of Functionality

Another perspective on autism, and I love it! I want to ask your permission to translate this great post to Bahasa Indonesia and share it on my facebook…

Autism and expectations

I want to talk about my relationship with the functionality of Autism. This is not based on research. This is not based on how I compare myself to other autistic people, and how we fit on some imaginary scale of usefulness. This is just about me.

I don’t like the term High Functioning. Perhaps it’s partly an instinctive reaction. It sounds snooty. It sounds arrogant. It sounds aloof and cold. And these are all things that I’ve been assumed to be, because I don’t project my emotions the way neurotypicals do.

I don’t like the term because it suggests that I’m on a separate plain to the Low Functioning Autistic. I don’t like it because it belittles how much effort I put in to functioning. It makes it ok to brush my needs off as already dealt with by me.

I don’t like the term because I hear these words…

View original post 757 more words

Stimming and Escaping

Ini sebagian diskusi di website Putera Kembara (arsipnya di:http://puterakembara.org/archives/00000157.shtml) . Topiknya seperti judul postingan ini. Tapi saya ambil sebagian saja, karena bagus banget untuk reminder.

Anak ASD itu kan memiliki problem keterbatasan dalam interaksi &

perilaku sosialnya terutama dalam

– memahami konsep2 ‘sosial’ yang abstrak, seperti perasaan (feeling),

bohong/jujur, sopan/tidak sopan, sayang, kangen, kecewa dll

– memahami gradasi emosi, misal marah besar vs marah vs sebal vs

terganggu dikit tp belum marah vs sebal tp lucu (senyum kecut) dll

– berempati pada perasaan & sikon orang lain

– mengekspresikan & berbagi perasaaan serta pemikirannya dengan orang

lain

Jadi kalau orang ‘normal’ pintar sekali cari beribu alasan berlainan

sesuai sikon org yg dihadapi yang semua pada intinya escaping behavior

tsb, maka anak ASD dengan keterbatasannya baru mampu mulai dengan yg

dia tahu & sudah coba sebagai efektif & tidak terpikir olehnya (sampai

diberi tahu atau dicoba sesuatu yg baru) untuk menciptakan sendiri

escaping behavior yg baru. Continue reading