Beasiswa LPDP

 

KOMPAS.com – Kehabisan jatah beasiswa seharusnya sudah jadi mitos basi untuk pelajar zaman sekarang. Pasalnya, seperti jalan menuju Roma, ada banyak skema beasiswa yang bisa diraih. Salah satunya adalah pembiayaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan atau beasiswa LPDP.

“Pada 2016 ini akan ada 40 angkatan penerima beasiswa dari berbagai daerah di Indonesia,” ujar Mohammad Kamiluddin, Ketua Persiapan Keberangkatan LPDP, seperti dikutip dari Kompas.com, Selasa (26/1/2016).

Pelajar dapat mengajukan beasiswa untuk berbagai program pendidikan tinggi, baik di dalam maupun luar negeri. Peminat juga bisa daftar dengan tujuan pendaan untuk riset akademis.

Beasiswa ini berhak diperoleh bagi seluruh penduduk yang tercatat sebagai warga negara Indonesia. Tentunya, peminat harus memiliki kemampuan akademis, mempunyai semangat kepemimpinan, serta lolos seleksi.

“Setelah diterima nanti, pelajar juga diharuskan mengikuti Program Kepemimpinan selama enam hari. Penerima beasiswa akan ditanamkan nilai-nilai kenegaraan dengan berdiskusi, membuat karya ilmiah, dan outbond,” ujar Kamil.

Program tersebut ditujukan untuk menyatukan visi dan misi sebelum menempuh pendidikan. Nantinya, penerima beasiswa diharapkan bisa menerapkan ilmunya agar bermanfaat bagi masyarakat dan negara setelah lulus.

Biaya penuh

Beruntungnya bagi mahasiswa, beasiswa LPDP menutup semua biaya yang sekiranya akan dikeluarkan selama masa studi. Penerima beasiswa berhak atas biaya pendaftaran, uang semester, biaya buku, seminar, publikasi, dan wisuda.

Skema ini pun menanggung dana yang bersifat non-pendidikan. Pelajar akan diberikan biaya hidup, meliputi uang bulanan, asuransi, transportasi, dan dana darurat. Jika memilih kampus luar negeri, aplikasi visa serta biaya keberangkatan akademisi pun ditanggung oleh pihak LPDP.

Skema pendanaan tersebut ditujukan agar mahasiswa dapat melanjutkan pendidikan tinggi dengan serius. Beasiswa akan berlaku selama masa tempuh studi, maksimal dua tahun bagi program magister dan empat tahun untuk program doktor.
Pendaftaran

Untuk mendaftar beasiswa ini, peminat wajib menyandang gelar sarjana dan tidak sedang menjalani masa studi di perguruan tinggi mana pun. Peminat juga sebaiknya belum pernah mengambil program studi yang diminati.

Misalnya, mahasiswa S2 tidak diperkenankan untuk mendaftar beasiswa program magister. Namun, ia dapat mengajukan skema beasiswa tesis.

Sekadar catatan, peminat sebaiknya memperhatikan waktu pendaftaran dengan awal masa studi. LPDP menyaratkan minimal rencana perkuliahan dimulai enam bulan setelah tutup pendaftaran di setiap periode seleksi.

Tidak hanya itu. Pelajar disarankan telah mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum mendaftar. Pasalnya, peminat hanya boleh gagal pada seleksi wawancara maksimal dua kali dan setelahnya tidak diperkenankan mendaftar kembali.

Adapun keterangan lengkap mengenai berbagai skema beasiswa LPDP dapat diakses pada situs web http://www.lpdp.depkeu.go.id. Peminat juga bisa mengajukan pertanyaan langsung melalui surel ke cso.lpdp@kemenkeu.go.id.

Selain LPDP, Anda bisa mengetahui berbagai informasi seputar beasiswa lainnya di dalam dan luar negeri pada laman Visual Interaktif Kompas, “Berburu Beasiswa”. Selamat mencari jalan menuju kampus impian! http://edukasi.kompas.com/read/2016/09/02/13030051/Catat.Serba-serbi.Beasiswa.LPDP.yang.Perlu.Mahasiswa.Tahu.

What Teens Need Most From Their Parents

Artikel ini ditulis oleh Sue Shellenbarger sue.shellenbarger@wsj.com
Link artikel: http://www.wsj.com/articles/what-teens-need-most-from-their-parents-1470765906

Apa Yang Paling Dibutuhkan Remaja Dari Orangtuanya

Ketika remaja menjalani tahun-tahun heboh dalam perkembangan mereka, mereka perlu pembinaan, dukungan, contoh yang baik dan yang terpenting: pemahaman dari orangtuanya  Usia remaja dapat menjadi masa yang membingungkan bagi orang tua. Ketika sifat anak berubah, dari yang sebelumnya anak yang rasional menjadi anak yang emosional dan moody, dari yang sebelumnya remaja yang bijak mendadak menjadi remaja yang gemar mengambil tindakan ber resiko.

Berbagai penelitian baru menawarkan penjelasan untuk misteri ini. Pencitraan otak menambahkan jenis lain data yang dapat membantu menguji hipotesis dan menguatkan penyebab remaja berubah perilaku dan emosi mereka. Puluhan penelitian bertahun-tahun terakhir ini telah menelusuri perkembangan remaja dari waktu ke waktu, bukan hanya membandingkan kelompok-kelompok remaja pada satu waktu.

Penelitian baru ini mengubah pandangan ilmuwan tentang peran orang tua dalam membantu anak-anak menjalani masa perubahan ini. Jika dahulu masa ini dilihat sebagai waktu bagi orang tua untuk melangkah mundur, justru sekarang semakin dilihat sebagai kesempatan bagi orangtua untuk tetap memonitor dan terhubung secara emosional.

Penelitian ini memungkinkan kita untuk mengidentifikasi empat fase penting dalam pengembangan keterampilan intelektual, sosial dan emosional yang sebagian besar remaja akan mengalami pada usia tertentu. Berikut adalah panduan untuk temuan terbaru tersebut: Continue reading

Why Ignoring May Backfire: Positive Alternatives for Disruptive Behavior

by Jessica Minahan

Some students will stop at nothing to get attention in class. Banging on the desk, making burping sounds, making inappropriate comments – we have all experienced these tedious behaviors that stop the learning and wear down even the most dedicated and experienced teacher.

Over time, most learn more appropriate ways of drawing the teacher’s attention. The distracting behavior subsides. However, there some for whom attention-seeking behaviors are a comfort zone. They continue to yell, throw things, and otherwise highjack the classroom while the helpless teacher is frustrated and out of patience.

In these cases, ignoring seems logical – we’ve been taught when a student wants attention and we give it to them, we might be reinforcing the behavior. But it is not that simple. When a student a student seeks attention in disruptive ways, it may be due to underlying distress or uncomfortable feelings, such as anxiety. Ignoring the behavior can increase anxiety or discomfort and subsequently increase the student’s behavior.

Ignoring can accidentally reinforce less safe behavior

Continue reading

The Highs and Lows of Functionality

Another perspective on autism, and I love it! I want to ask your permission to translate this great post to Bahasa Indonesia and share it on my facebook…

Autism and expectations

I want to talk about my relationship with the functionality of Autism. This is not based on research. This is not based on how I compare myself to other autistic people, and how we fit on some imaginary scale of usefulness. This is just about me.

I don’t like the term High Functioning. Perhaps it’s partly an instinctive reaction. It sounds snooty. It sounds arrogant. It sounds aloof and cold. And these are all things that I’ve been assumed to be, because I don’t project my emotions the way neurotypicals do.

I don’t like the term because it suggests that I’m on a separate plain to the Low Functioning Autistic. I don’t like it because it belittles how much effort I put in to functioning. It makes it ok to brush my needs off as already dealt with by me.

I don’t like the term because I hear these words…

View original post 757 more words

Stimming and Escaping

Ini sebagian diskusi di website Putera Kembara (arsipnya di:http://puterakembara.org/archives/00000157.shtml) . Topiknya seperti judul postingan ini. Tapi saya ambil sebagian saja, karena bagus banget untuk reminder.

Anak ASD itu kan memiliki problem keterbatasan dalam interaksi &

perilaku sosialnya terutama dalam

– memahami konsep2 ‘sosial’ yang abstrak, seperti perasaan (feeling),

bohong/jujur, sopan/tidak sopan, sayang, kangen, kecewa dll

– memahami gradasi emosi, misal marah besar vs marah vs sebal vs

terganggu dikit tp belum marah vs sebal tp lucu (senyum kecut) dll

– berempati pada perasaan & sikon orang lain

– mengekspresikan & berbagi perasaaan serta pemikirannya dengan orang

lain

Jadi kalau orang ‘normal’ pintar sekali cari beribu alasan berlainan

sesuai sikon org yg dihadapi yang semua pada intinya escaping behavior

tsb, maka anak ASD dengan keterbatasannya baru mampu mulai dengan yg

dia tahu & sudah coba sebagai efektif & tidak terpikir olehnya (sampai

diberi tahu atau dicoba sesuatu yg baru) untuk menciptakan sendiri

escaping behavior yg baru. Continue reading

Derita Hidup

By Henny Wirawan

(Tulisan ini saya kutip seijin Ibu Henny Wirawan, psikolog, dari facebook beliau)

Untuk yang kesekian kalinya saya mendengar (tepatnya sih membaca) keluhan seperti ini, “kenapa sih mama saya selalu membuat kesan kalau saya yang salah? Beliau yang menjatuhkan kemudian memecahkan tumbler yang saya tabung dengan uang sendiri, dan barang limited edition juga, malah saya yang disalahkan. (…) Bukannya meminta maaf, malah saya yang dicaci maki oleh beliau. Ketika saya kesal dan masuk ke kamar, malah diancam, ‘Di kamar saja terus seharian. Jangan pernah keluar lagi!’ Ponakan saya saja bisa meminta maaf jika merusak atau menyakiti saya.”

Pertanyaan lain yang dibacanya juga mendatangkan rasa sesak di dada kurang lebih seperti ini, “Bu, kenapa mama aku selalu punya hati untuk menghancurkan saya? Saya itu jahat apa sih ke dia? Saya itu justru mau tolongin dia, tapi kenapa sampe bahasa yang orang bodoh pun mengerti, dia tetap tolak?”

Keluhan lain yang tidak kalah menghancurkan hati kurang lebih seperti ini, “Aku merasa sudah melakukan yang terbaik versi diriku sendiri tapi keluargaku di rumah seperti tidak pernah puas dan selalu membandingkan. Padahal aku melakukan itu semua, selain karena memang aku suka melakukannya, juga karena demi membuktikan kalo aku bisa. Tapi aku ngerasanya kaya bego amat. Tiap hari selalu dibilang salah. Ada aja yang salah dari diriku untuk diomelin. Sampe mikir, sebnernya aku ini anak yg membanggakan apa memalukan sampe tiap hari kok salah terus?” Continue reading

Quiet Hands

So sad… but true.

Just Stimming...

TW: Ableism, abuse

Explaining my reaction to this:

means I need to explain my history with this:

quiet handsquiet hands1.

When I was a little girl, they held my hands down in tacky glue while I cried.

2.

I’m a lot bigger than them now. Walking down a hall to a meeting, my hand flies out to feel the texture on the wall as I pass by.

“Quiet hands,” I whisper.

My hand falls to my side.

3.

When I was six years old, people who were much bigger than me with loud echoing voices held my hands down in textures that hurt worse than my broken wrist while I cried and begged and pleaded and screamed.

4.

In a classroom of language-impaired kids, the most common phrase is a metaphor.

“Quiet hands!”

A student pushes at a piece of paper, flaps their hands, stacks their fingers against their palm, pokes at…

View original post 798 more words