What Teens Need Most From Their Parents

Artikel ini ditulis oleh Sue Shellenbarger sue.shellenbarger@wsj.com
Link artikel: http://www.wsj.com/articles/what-teens-need-most-from-their-parents-1470765906

Apa Yang Paling Dibutuhkan Remaja Dari Orangtuanya

Ketika remaja menjalani tahun-tahun heboh dalam perkembangan mereka, mereka perlu pembinaan, dukungan, contoh yang baik dan yang terpenting: pemahaman dari orangtuanya  Usia remaja dapat menjadi masa yang membingungkan bagi orang tua. Ketika sifat anak berubah, dari yang sebelumnya anak yang rasional menjadi anak yang emosional dan moody, dari yang sebelumnya remaja yang bijak mendadak menjadi remaja yang gemar mengambil tindakan ber resiko.

Berbagai penelitian baru menawarkan penjelasan untuk misteri ini. Pencitraan otak menambahkan jenis lain data yang dapat membantu menguji hipotesis dan menguatkan penyebab remaja berubah perilaku dan emosi mereka. Puluhan penelitian bertahun-tahun terakhir ini telah menelusuri perkembangan remaja dari waktu ke waktu, bukan hanya membandingkan kelompok-kelompok remaja pada satu waktu.

Penelitian baru ini mengubah pandangan ilmuwan tentang peran orang tua dalam membantu anak-anak menjalani masa perubahan ini. Jika dahulu masa ini dilihat sebagai waktu bagi orang tua untuk melangkah mundur, justru sekarang semakin dilihat sebagai kesempatan bagi orangtua untuk tetap memonitor dan terhubung secara emosional.

Penelitian ini memungkinkan kita untuk mengidentifikasi empat fase penting dalam pengembangan keterampilan intelektual, sosial dan emosional yang sebagian besar remaja akan mengalami pada usia tertentu. Berikut adalah panduan untuk temuan terbaru tersebut:

Usia 11 sampai 12

Ketika pubertas sedang bergejolak, remaja dapat benar-benar tergelincir mundur dalam beberapa keterampilan dasar. Hasil penelitian menunjukkan pembelajaran spasial dan beberapa jenis penalaran dapat menurun pada tahap ini. Bagian otak yang bertanggung jawab untuk calon memori, atau mengingat apa yang Anda lakukan di masa depan, masih dalam proses pematangan. Inilah mungkin sebabnya mengapa remaja mungkin tampak tidak mengerti jika diminta untuk memberikan guru catatan sebelum sekolah.

Pembinaan remaja dalam keterampilan organisasi dapat membantu. Orang tua dapat membantu membangun petunjuk memori ke rutinitas sehari-hari, seperti menempatkan tas gym dekat pintu depan, atau membantu membuat pengingat pada ponsel. Orangtua dapat memberitahukan teknologi utk membantu, seperti aplikasi (apps) task-manager.

Orang tua dapat membantu remaja mempelajari proses pengambilan keputusan yang baik dengan mengajak mereka berpikir tentang pro/kontra dan juga dengan mempertimbangkan sudut pandang lain. Anak-anak yang pada usia 10 atau 11 yang sudah tahu bagaimana membuat keputusan dengan baik cenderung lebih sedikit menunjukkan kecemasan dan kesedihan, lebih sedikit terlibat dalam perkelahian dan memiliki lebih sedikit masalah dengan teman-teman di usia 12 dan 13, menurut sebuah penelitian tahun 2014 yang diambil dari 76 peserta yang diterbitkan dalam Journal of Behavioral Decision Making.

Dengan tetap bersikap hangat dan mendukung, orang tua mungkin dapat mempengaruhi cara otak remaja mereka berkembang pada tahap ini. Sebuah penelitian tahun 2014 dari 188 anak-anak membandingkan efek dari ibu yang hangat, penuh kasih sayang dan pemahaman saat berbeda pendapat, dengan ibu yang menjadi marah dan argumentatif. Remaja pada usia 16, yang memiliki ibu dengan rasa sayang ketika mereka berusia 12, menunjukkan perubahan otak yang terkait dengan tingkat kesedihan dan kecemasan yang lebih rendah dan kontrol diri yang lebih tinggi, menurut penelitian yang dipimpin oleh para peneliti di University of Melbourne di Australia.

Usia 13 sampai 14

Orang tua harus mempersiapkan diri untuk suatu masa emosional yang liar. Remaja muda menjadi sensitif terhadap pendapat teman-temannya dan bereaksi keras kepada mereka. Namun keterampilan sosial yang mereka butuhkan untuk mencari tahu apa yang benar-benat dipikirkan temannya masih belum sepenuhnya matang selama bertahun-tahun kedepan, sehingga membuat masa ini menjadi masa yang membingungkan dan menyengsarakan.

Pada masa ini, respon remaja terhadap stres berjalan kacau, memicu lebih banyak bantingan pintu dan air mata. Dampak tekanan sosial memuncak sekitar waktu ini: pada orang dewasa dengan gangguan mental yang dipicu oleh stres, 50% menerima diagnosis sebelum usia 15. Penelitian lain menunjukkan remaja dari usia 11 hingga 15 menjadi sedih dan cemas ketika mengalami tekanan sosial seperti tidak diikutkan dalam kelompok sosial, sementara pada orang dewasa tidak menunjukkan efek yang sama.

Bagian otak yang paling rentan terhadap stres masih dalam proses pematangan, sehingga strategi mengatasi masalah yang digunakan remaja pada tahap ini bisa menjadi tertanam di sirkuit otak sebagai pola seumur hidup, menurut review 2016 penelitian di Developmental Science Review. Psikolog menyarankan orangtua mengajarkan dan mencontohkan keterampilan menenangkan diri, seperti meditasi, olahraga atau mendengarkan musik.

Latihlah keterampilan persahabatan para remaja, termasuk cara membaca ekspresi rekan-rekan mereka dan bahasa tubuh. Dorong mereka untuk memilih teman berdasarkan kepentingan bersama, bukan popularitas, dan untuk menjauhi teman-teman yang tidak baik. Ajarkan mereka bagaimana untuk memperbaiki persahabatan setelah bertengkar dengan meminta maaf, memperbaiki kesalahan atau berkompromi.

Dukungan keluarga merupakan pertahanan terhadap stres. Remaja yang keluarganya memberikan pendampingan, pemecahan masalah dan dukungan emosional akan cenderung tidak menjadi depresi setelah terpapar stres berat, menurut sebuah studi 2016 dari 362 remaja Israel di Journal of Family Psychology.

Usia 15 sampai 16

Keinginan remaja untuk mengambil risiko mencapai puncaknya pada usia ini, menurut sebuah penelitian tahun 2015 atas lebih dari 200 peserta usia 8-27 dipimpin oleh para peneliti di Universitas Leiden di Belanda. Reseptor reward otak yang berkembang memperkuat respon remaja terhadap dopamin, suatu neurotransmitter yang berhubungan dengan perasaan senang dan kepuasan. Hal ini menyebabkan remaja di usia ini sangat senang mencari sensasi.

Rasa takut yang normal terhadap bahaya untuk sementara menjadi sangat rendah selama masa remaja, suatu pergeseran yang menurut ilmuwan berakar pada kebutuhan evolusioner untuk meninggalkan rumah dan menjelajahi habitat baru. Penelitian menemukan remaja tidak dapat mengubah penilaian mereka atas situasi berisiko, bahkan setelah diperingatkan bahwa bahayanya lebih besar dari yang mereka perkirakan.

Kemampuan untuk memperoleh dan terus bersama teman-teman yang baik sangat berguna pada tahap ini. Remaja dengan teman-teman yang mereka percaya dan dapat diandalkan dukungannya cenderung tidak terlibat dalam perilaku berisiko seperti mengutil, naik kendaraan dengan sopir yang berbahaya atau berhubungan seks tanpa kondom (note: ini artikel dari dunia Barat), menurut sebuah penelitian tahun 2015 dari 46 remaja yang dipimpin oleh Dr. Eva Telzer, asisten profesor psikologi di University of Illinois di Champaign-Urbana. Remaja yang sering berdebat dengan teman-teman dekatnya lebih tinggi kemungkinannya untuk membuat keputusan yang ber resiko tersebut.

Pada masa ini tidaklah terlalu terlambat bagi orangtua yang hangat dan mendukung untuk membuat perubahan. Dalam suatu tes pengambilan risiko, remaja yang tumbuh lebih dekat dengan orang tua mereka mulai usia 15 menunjukkan aktivasi  lebih sedikit di wilayah otak yang terkait dengan pengambilan risiko dan mengambil peluang lebih sedikit 18 bulan kemudian, menurut sebuah penelitian tahun 2015 dari 23 remaja yang dipublikasikan di Developmental Cognitive Neuroscience. Kedekatan dengan orang tua termasuk adanya respek dan bantuan orang tua ketika berbicara tentang suatu masalah, dan tidak adanya perdebatan atau teriakan ketika berbicara.

Usia 17 sampai 18

Pesatnya kemampuan otak remaja untuk berubah dan berkembang nampak nyata pada tahap ini. Beberapa remaja menunjukkan peningkatan IQ. Intelektual remaja berbakat (gifted teens) adalah yang paling mungkin untuk mencapai lonjakan dalam skor IQ, sehingga remaja yang sudah pintar akan tumbuh bahkan lebih pintar, menurut sebuah penelitian tahun 2013 atas 11.000 pasangan kembar yang dipimpin oleh para peneliti di Penn State University, di University Park, dan university of Colorado di Boulder.

Pada remaja yang lebih dewasa, bagian-bagian dari prefrontal korteks yang bertanggung jawab untuk penilaian dan pengambilan keputusan biasanya sudah cukup berkembang untuk bertindak sebagai rem pada emosi dan pengambilan risiko. Keterampilan executive-function, seperti pemecahan masalah dan perencanaan strategi, terus mengembangkan setidaknya sampai usia 20, menurut sebuah penelitian tahun 2015 oleh para peneliti di Universitas Sheffield Hallam, Inggris.

Keterampilan sosial dan daerah otak yang terkait masih terus berkembang, menurut para peneliti termasuk Sarah-Jayne Blakemore, seorang profesor ilmu saraf kognitif di University College London. Pada tahap ini, remaja dapat lebih baik memperhatikan perasaan orang lain dan menunjukkan empati. Mereka masih tidak memiliki kemampuan untuk menguraikan motif dan sikap masyarakat dalam situasi sosial yang kompleks, seperti mencari tahu mengapa temannya tiba-tiba merubah topik percakapan pada sebuah pesta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s