Stimming and Escaping

Ini sebagian diskusi di website Putera Kembara (arsipnya di:http://puterakembara.org/archives/00000157.shtml) . Topiknya seperti judul postingan ini. Tapi saya ambil sebagian saja, karena bagus banget untuk reminder.

Anak ASD itu kan memiliki problem keterbatasan dalam interaksi &

perilaku sosialnya terutama dalam

– memahami konsep2 ‘sosial’ yang abstrak, seperti perasaan (feeling),

bohong/jujur, sopan/tidak sopan, sayang, kangen, kecewa dll

– memahami gradasi emosi, misal marah besar vs marah vs sebal vs

terganggu dikit tp belum marah vs sebal tp lucu (senyum kecut) dll

– berempati pada perasaan & sikon orang lain

– mengekspresikan & berbagi perasaaan serta pemikirannya dengan orang

lain

Jadi kalau orang ‘normal’ pintar sekali cari beribu alasan berlainan

sesuai sikon org yg dihadapi yang semua pada intinya escaping behavior

tsb, maka anak ASD dengan keterbatasannya baru mampu mulai dengan yg

dia tahu & sudah coba sebagai efektif & tidak terpikir olehnya (sampai

diberi tahu atau dicoba sesuatu yg baru) untuk menciptakan sendiri

escaping behavior yg baru.

Selain itu, dibalik escaping behavior itu ada sesuatu yang sebenarnya

ingin dia ungkapkan atau share dengan kita, tapi kembali karena

keterbatasannya tadi dia baru bisa mengekspresikan secara terbatas

dengan perilaku yg dia sudah pelajari & kuasai saja.

Jadi sebenarnya kasihan banget lho, anak2 kita ini sebenarnya mau

menyampaikan sesuatu tp ‘alat’nya yg dikuasai masih terbatas jadi yg

dipakai ‘itu2’ aja.

Kalau dalam konsep floortime, setiap tindakan anak itu ada maknanya &

tugas kita untuk membantu dia menggali lebih dalam & membimbing dia

untuk memperluas & memampukan dia untuk berpikir lebih kompleks (cari

alasan/ solusi/ cara ekspresi yg lain).

Kalau pinjam contoh pak David, misalnya seornang anak sudah menguasai

bahwa kalau dia bilang mau pipis (aksi) pasti ortunya akan bawa dia

keluar/pindah dari suatu tempat (reaksi). Dan karena ortunya sangat

konsisten dengan reaksi ini maka dia jadi belajar bahwa dengan bilang

mau pipis dia bisa pindah/keluar dari suatu tempat/ aktivitas. Lantas

dalam situasi dimana dia mungkin sebenarnya merasa bosan, tidak suka,

overload sensory nya, takut dll mungkin satu2nya ekspresi yang dia

ingat dan sudah kuasai untuk bisa lolos / mengekpresikan kemauan/

perasaannya adalah dengan bilang mau pipis tadi karena dia akan

mendapatkan hasil yg dia maui yaitu berhenti/keluar dari aktivitas yg

dia bosan, tidak suka, overload sensory nya, takut tidak mau tsb.

Saya pernah baca kalau dalam floortime, even tsb bisa dipakai sebagai

bahan untuk menggali lebih & mengajak anak untuk mengenali & melabel

perasaannya & membimbing dia untuk berpikir lebih logis & kompleks.

Misalnya kalau setelah dibawa ke wc ternyata tidak pipis, ajak dia

‘diskusi’ kenapa dia tadi bilang pipis, kalau blm bisa menjawab kita

tawarkan opsinya, apakah karena tidak suka, takut, terlalu sulit dll.

Kalau misalnya pilih karena tidak suka, kita ackowledge ‘oh kamu tidak

suka ya. Nggak apa2, kalau tidak suka kamu bisa bilang sama mama ‘tidak

suka’ jangan bilang ‘mau pipis’ (membenarkan label feeling & ekspresi

verbal & menumbuhkan pede)’.

Lalu dibahas lagi apanya yg dia tidak sukai. Lalu, kenapa dia kog tidak

suka (misalnya biasanya suka). Lalu dibahas lagi apa

alternatifnya,misal kalau dia tidak suka disuruh menulis, dibahas apa

mau ganti kertas/ pinsilnya supaya lebih nyaman, atau ganti soal

(jangan2 sudah menguasai subjek) atau pindah tempat duduk, tidak suka

gurunya, atau lompat2 dulu 10 kali baru nulis lagi dll. Bisa dibahas

juga apa kegunaan & tujuan kegiatan tsb untuk dia, apa benefitnya.

Kalau tidak mau juga bisa dinegosiasikan apa/berapa yg dia mau dll.

Bisa dibahas juga apa akibat pilihan dia pada orang lain, misalnya

kalau dia tidak mau sama sekali maka mama jadi kecewa/ sedih/ marah

dll, jadi dia bisa belajar memahami sudut pandang orang lain.

Jadi proses berpikir anak bisa distimulasi lebih dalam & jauh. Tidak

terlalu penting pilihan dia apa akhirnya (terutama kalau masih balita!)

yang penting dia belajar mengekspresikan diri dengan lebih tepat

(bosan., marah & tidak suka adalah hal yg sah2 & wajar aja kan),

belajar berempati, berinteraksi lebih dalam & intens, closing lots of

circles of communication, belajar memahami konsep2 abstrak & otaknya

berlatih berpikir runut & mendalam.

Sebenarnya kalau dari sudut floortime masih bisa dibahas aspek2 lainnya

lagi misalnya segi sensory issues nya. Jadi setuju banget, jangan

marahi anak yg lagi belajar atau memadamkan kreativitasnya yg sedang

dalam tahap tumbuh.

Salam,

Ci

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s