Derita Hidup

By Henny Wirawan

(Tulisan ini saya kutip seijin Ibu Henny Wirawan, psikolog, dari facebook beliau)

Untuk yang kesekian kalinya saya mendengar (tepatnya sih membaca) keluhan seperti ini, “kenapa sih mama saya selalu membuat kesan kalau saya yang salah? Beliau yang menjatuhkan kemudian memecahkan tumbler yang saya tabung dengan uang sendiri, dan barang limited edition juga, malah saya yang disalahkan. (…) Bukannya meminta maaf, malah saya yang dicaci maki oleh beliau. Ketika saya kesal dan masuk ke kamar, malah diancam, ‘Di kamar saja terus seharian. Jangan pernah keluar lagi!’ Ponakan saya saja bisa meminta maaf jika merusak atau menyakiti saya.”

Pertanyaan lain yang dibacanya juga mendatangkan rasa sesak di dada kurang lebih seperti ini, “Bu, kenapa mama aku selalu punya hati untuk menghancurkan saya? Saya itu jahat apa sih ke dia? Saya itu justru mau tolongin dia, tapi kenapa sampe bahasa yang orang bodoh pun mengerti, dia tetap tolak?”

Keluhan lain yang tidak kalah menghancurkan hati kurang lebih seperti ini, “Aku merasa sudah melakukan yang terbaik versi diriku sendiri tapi keluargaku di rumah seperti tidak pernah puas dan selalu membandingkan. Padahal aku melakukan itu semua, selain karena memang aku suka melakukannya, juga karena demi membuktikan kalo aku bisa. Tapi aku ngerasanya kaya bego amat. Tiap hari selalu dibilang salah. Ada aja yang salah dari diriku untuk diomelin. Sampe mikir, sebnernya aku ini anak yg membanggakan apa memalukan sampe tiap hari kok salah terus?”

ini cuma tiga sampel saja. Saya masih punya sederetan daftar keluhan lainnya. Hm, mungkin kata rintihan jauh lebih tepat, ketimbang keluhan. Siapa yang merintih? Para gadis berusia dua puluhan hingga tiga puluhan. Siapa yang ditangisi dan dipertanyakan relasinya? Ibu mereka yang mereka cintai dan yang semestinya mencintai mereka. (usianya diperkirakan 50-60 tahunan). Namun ternyata mereka menemukan kenyataan pahit, kasih ibu yang seyogianya sepanjang masa ternyata tidak mereka rasakan. Ada tuntutan, ada ancaman, ada sikap buruk, ada reaksi yang menyakitkan sekaligus mengecewakan. Apa yang sebenarnya terjadi dalam relasi di antara ibu dan anak ini, relasi yang semestinya karib dan mendalam, penuh makna dan lazimnya positif?

Setelah menelusuri berbagai riwayat hidup, saya menemukan beberapa fakta. Pertama, ibu mereka memiliki masalah pribadi di masa lalu yang belum selesai. Biasanya masalah pribadi itu mereka alami dengan ibunya lagi (jadi nenek si korban, dan/atau dengan ayahnya juga, alias kakek si korban). Kedua, ibu mereka memiliki harapan besar kepada suami mereka (alias ayah mereka) dan ternyata harapan itu tidak terwujud, biasanya karena tokoh suami kurang mampu mengayomi, kurang dapat diandalkan, kurang dapat dipercayai juga. Akibatnya, di dalam pernikahan, ibu itu merasakan kesendirian, berjuang sendiri, berkutat sendiri dengan beragam masalah, sementara itu, masalah mereka pun belum sempat mereka selesaikan (entah dipending atau dibiarkan begitu saja). Ketiga, perasaan negatif yang bertumpuk-tumpuk pada akhirnya meluap, karena tangki emosi sudah penuh, meledaklah, duarrr!!! Siapa yang kena ledakannya? Putri mereka, si korban. Selalu ada titik lemah yang dapat dijadikan alasan untuk menyalahkan, melihat kejelekan, alias kekurangan anak. Akibatnya, ketimbang menyatakan kasih sayang, mereka cenderung bersikap sinis, berkata sarkastik, berperilaku diskriminatif, berpikiran negatif mengenai segala aspek kehidupan anak.

Jadi, tidak selalu ibu adalah seorang yang bijak bestari, kecuali sudah mengalami kesembuhan batin dan menjalani prosesi pengenalan diri yang mumpuni. Ibu yang tidak pernah sembuh dari derita hidupnya, akan mengakibatkan orang-orang terdekatnya turut menderita. Hal yang menyedihkan lagi, penderitaan itu akan turun temurun ke generasi selanjutnya. Karena itu saran saya bu, berapa pun usia Anda, jika Anda merasakan ada yang aneh dengan cara pikir, cara bertutur, dan cara berekspresi emosi, mari segera mengobati diri. Kunjungi psikolog atau psikoterapis yang Anda percayai, atau setidaknya yang Anda yakini dapat membantu Anda. Terbukalah, jujurlah, ceritakanlah beban hidup Anda. Siapa tahu Anda pun mengalami keringanan beban, dan langkah Anda menjadi lebih riang. Orang-orang di sekitar Anda pun akan mampu merasakan cinta Anda yang membara, kasih Anda yang nyata, sikap manis Anda yang tiada tara. Selamat menyembuhkan diri. Kiranya Tuhan berkenan menunjukkan belas kasihanNya yang berlimpah bagi Anda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s