Alergi Mengganggu Otak dan Perilaku Anak (Bagian II dari 2)

Sumber: http://www.indosiar.com/ragam/alergi-mengganggu-otak-dan-perilaku-anak-bagian-i_21482.html

Alergi, Sistem Susunan Saraf Pusat dan Gangguan Perkembangan – Perilaku

Sistem susunan saraf pusat adalah bagian yang paling lemah dan sensitif dibandingkan organ tubuh lainnya. Otak merupakan pusat segala koordinasi sistem tubuh dan fungsi luhur. Sedangkan alergi dengan berbagai akibat yang bisa mengganggu organ sistem susunan saraf pusat dan disfungsi sistem imun itu sendiri, tampaknya menimbulkan banyak manifestasi klinik yang dapat mengganggu perkembangan dan perilaku seorang anak.

Ada 2 hal yang berbeda antara hubungan gangguan alergi dan gangguan sistem susunan saraf pusat. Perbedaan tersebut tergantung dari ada tidaknya kelainan organik otak. Bila terdapat gangguan organik di otak seperti autism atau adanya fokus di otak lainnya, maka proses alergi hanyalah memperberat atau mencetuskan timbulnya gejala.

Bila tidak ada kelainan anatomis otak, maka kemungkinan besar proses alergi sangat berkaitan dengan kelainan tersebut. Biasanya bila organ otak tidak ada kelainan atau penyakit lainnya, maka pengaruh alergi pada otak biasanya prognosis baik dan gejalanya tidak berat. Namun bila didapatkan autism atau gangguan organik otak lainnya maka prognosisnya lebih buruk. Bila gangguan tersebut diperberat oleh pencetus alergi maka penatalaksanaan alergi dengan pengaturan diet dapat mengurangi gejalanya.

Menurut G. Kay, Associate Professor Neurology dan Psychology Georgetown University School of Medicine Washington, dampak penyakit alergi pada fungsi otak, bermanifestasi sebagai menurunnya kualitas hidup, menurunnya suasana kerja yang baik, dan menurunnya efisiensi fungsi kognitif. Continue reading

Advertisements

Alergi Mengganggu Otak dan Perilaku Anak (Bagian I dari 2)

Sumber: http://www.indosiar.com/ragam/alergi-mengganggu-otak-dan-perilaku-anak_21481.html

Jangan anggap remeh dengan alergi. Karena dapat menimbulkan komplikasi yang mungkin bisa terjadi.

Beberapa laporan ilmiah baik di dalam negeri atau luar negeri menunjukkan bahwa angka kejadian alergi terus meningkat tajam beberapa tahun terahkir. Tampaknya alergi merupakan kasus yang mendominasi kunjungan penderita di klinik rawat jalan Pelayanan Kesehatan Anak.

Alergi pada anak tidak sesederhana seperti yang pernah kita ketahui. Sebelumnya kita sering mendengar dari dokter spesialis penyakit dalam, dokter anak, dokter spesialis yang lain bahwa alergi itu gejala adalah batuk, pilek, sesak dan gatal.

Padahal alergi dapat menyerang semua organ tanpa terkecuali mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan berbagai bahaya dan komplikasi yang mungkin bisa terjadi. Belakangan terungkap bahwa alergi menimbulkan komplikasi yang cukup berbahaya, karena alergi dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita termasuk gangguan fungsi otak. Karena gangguan fungsi otak itulah maka timbul gangguan perkembangan dan perilaku pada anak seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, keterlambatan bicara, gangguan konsentrasi hingga autism. Continue reading

Mengenal Tourette Syndrome

Tengakarta

Tourette Syndrome adalah gangguan neuropsikiatri yang diwariskan pada masa anak anak yang gejalanya antara lain muncul tic (gerakan spontan) pada anggota tubuh maupun suara yang tidak terkendali dan selalu berulang. Gejala-gejala semacam ini akan mempengaruhi individu yang mengalami Tourette Syndrom terhadap aktivitasnya sehari-hari. Syndrom ini dinamakan Tourette sesuai dengan penemunya yaitu Dr Georges Gilles de la Tourette yang merupakan neurolog asal Prancis yang pertama kali mendeskripsikan Tourette Syndrom ada kalangan bangsawan di Perancis pada tahun 1885. Tourette Syndrom merupakan salah satu sindrom yang sangat langka dan sering dikaitkan oleh orang yang pengumpat dan berkata kotor. Namun saat ini Tourette Syndrom sudah tidak dianggap sebagai sindrom psikiatri yang langka. Sebagain besar orang yang diidentifikasikan mengalami Tourette Syndrom hanya mengalami gejala yang ringan, dan sangat sedikit sekali yang diidentifikasikan mengalami gejala yang berat.

Gejala awal Tourette Syndrom pertama kali muncul pada masa anak-anak terutama usia 3-9 tahun. Tourette Syndrom bisa dialami oleh…

View original post 500 more words

Sarah Stup: About Friendship

Sarah Stup, born in Frederick, Maryland, in 1983, was diagnosed as autistic at an early age. Stup’s disability is considered significant; she does not speak and has limited motor skills. At age 8, she began writing by pointing to letters on an alphabet sheet to spell out words. She now uses a variety of typing devices to converse and work. Stup’s writing skills were further developed during a writing internship at the Arc of Frederick County (Maryland), while she was in her final year of high school.

Currently, Stup has published two books: Do-si-Do with Autism (for children); and Are Your Eyes Listening? Collected Works (for adults). Stup is now at work on her third book, Paul and His Beast, which is for middle school-aged children.

Stup has also launched “Sarah’s Keepsake Collection” of gift booklets. The collection includes Heart and Spirit: Words to comfort, inspire and share, and Nest Feathers: A celebration of family, home, and memories shared. Although Stup’s books deal with the experience of autism, each also touches on universal themes like love, personal meaning and the need to belong. Continue reading

Mamah Dedeh dan Istilah Autis

Sejak  bulan ramadhan yang lalu, sudah terdengar berita bahwa Mamah Dedeh, penceramah di stasiun tivi Indosiar menggunakan kata autis ketika menjawab pertanyaan seorang hadirin. Sayangnya autis disitu adalah untuk menggambarkan orang-orang yang tidak perduli dengan sekelilingnya karena asik bermain hp.

Saya merasa beliau ini bukanlah bermaksud menghina, melecehkan atau mengolok-olok penyandang autis. Namun ketidak tahuannya membawa kritikan dari banyak pihak, diberitakan oleh berbagai media, dan akhirnya berujung pada pembuatan petisi yang menuntut agar Mamah Dedeh meminta maaf.

Akhirnya, hari ini, hari Minggu tanggal 2 Agustus 2015 Mamah Dedeh meminta maaf, dan disiarkan di televisi. Satu lagi pembelajaran bagi semua orang agar tidak lagi menggunakan kata autis untuk meledek, mengolok-olok dan merendahkan.

Berikut ini berita dan artikel dari website National Geography (http://nationalgeographic.co.id),  berita permintaan maaf dari stasiun tv Indosiar, dan video permintaan maaf Mamah Dedeh dari Youtube.

Mari Dukung Petisi Autisme Bukanlah Istilah untuk Ejekan

http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/07/mari-dukung-petisi-autisme-bukanlah-istilah-untuk-ejekan

“Autisme bukan sebuah bahan lelucon, autisme bukan sebuah ejekan.”

Penceramah Dedeh Rosidah atau Mamah Dedeh dikritik lantaran menyamakan penyakit autis dengan orang yang terlalu asyik dengan gawai atau gadget. Hal ini diungkapkan ketika Mamah Dedeh bercemarah di sebuah stasiun televisi pada pertengahan Juli 2015.

“Maap, saya sekarang lihat banyak orang yang autis gara-gara HP (handphone). Ada sodaranya, ada lakinya, ada anaknya, ngariung duduk, cengar-cengir aja sendirian begini, kayak orang gokil,” ujar Mamah Dedeh. (Baca juga Menyelami “Dunia Sepi” Autisme) Continue reading