BUKAN SEKADAR TIDAK BERTERIAK

Di group Dono Baswardono Parenting yang saya ikuti di facebook, ada tantangan untuk mencoba tidak berteriak kepada anak selama 40 hari. Berikut ini artikel yang ditulis opa Dono Baswardono setelah masa 40 hari tersebut.

Kepada para Ibu dan Ayah yang masih mencoba untuk tidak berteriak.

Pertama, saya undang untuk menyimak PERJUANGAN bu Silvia Dewi dari hari pertama sampai dengan hari ke 40. Sangat sering ia mendapat ‘pencobaan,’ seperti putranya tantrum. Ia kadang bersembunyi dulu di dalam kamar sampai cukup tenang dan baru kemudian ke luar lagi untuk berbicara dengan putranya. Bahkan sesudah menenangkan diri pun tak jarang putranya masih tantrum untuk melakukan tindakan yang oleh kebanyakan orangtua dianggap sebagai “bertingkah” atau “menguji kesabaran” padahal tidak kedua-duanya. Itu adalah tindakan anak untuk memberitahu orangtua bahwa ia butuh dicintai karena ada satu atau beberapa kebutuhan dasarnya yang BELUM kita penuhi.

Jadi, dalam keadaan seperti itu, kita malah dituntut untuk menganalisis anak, menganalisis situasi dan sekaligus introspeksi diri. Ya, saat ini ia menginginkan ABC, tetapi apa sebenarnya yang ia butuhkan? Apakah ia butuh ditemani, butuh didengarkan, butuh diakui bahwa ia sudah besar, butuh penghargaan bahwa ia sudah mampu, butuh waktu bersendiri? Kebutuhan ini timbul dalam situasi seperti apa; kapan dan di mana, serta bersama siapa? Mengapa selama ini kita tidak memberinya kebutuhan-kebutuhan dasarnya? Apakah ada persoalan dengan pasangan yang membuat kita kurang peka terhadap kebutuhan emosional anak? Apakah ada persoalan rasa percaya diri atau kecemasan di dalam diri sehingga kita sulit mengenali perasaan sendiri? Mengapa kita memilih untuk tidak menyelesaikan persoalan dengan pasangan dan lebih memilih untuk melampiaskan kekesalan, kejengkelan, kemarahan kepada anak dengan berteriak? Apakah memang sungguh-sungguh lebih “murah dan mudah” menyemburkan perasaan-perasaan negatif kita terhadap anak daripada berusaha menyelesaikan masalah dengan pasangan atau memulihkan luka hati sendiri? Apa dampak jangka panjangnya pada kehidupan anak?

KEDUA, mengapa ada yang berhasil dan ada yang berkali-kali mencoba mesti mengulang dari awal lagi? Mesti difahami bahwa tantangan ‪#‎40HariTakBerteriak‬ ini sama sekali BUKAN tidak boleh mengekspresikan perasaan atau tak boleh marah. Sama sekali tidak!
Sesungguhnya, ini adalah tantangan ganda. Anda ditantang untuk tetap mengekspresikan perasaan-perasaan Anda, dan sekaligus ditantang untuk mengekspresikannya tanpa berteriak, tanpa menjerit.
Anda tetap boleh marah, tetapi tidak dengan berteriak, tidak dengan mencubit, tidak dengan menabok atau memukul. Anda cukup berkata, “Mami marah sama kamu karena kamu melanggar aturan yang sudah kita sepakati.” “Ayah jengkel kepadamu karena ayah sudah memberitahu kalau ayah mau memperbaiki dulu mobil kita baru kita akan main bola bersama tetapi kamu terus rewel.”

Jadi, jika Anda mencoba untuk tidak berteriak dengan cara tidak menyampaikan perasaan Anda, maka ya wajar saja jika Anda sulit, bahkan sangat sulit melakukannya. Mengapa? Karena perasaan itu adalah hal yang alamiah. Perasaan itu malah mesti disampaikan. Keliru besar pendapat yang mengatakan bahwa kita tidak boleh menyatakan perasaan kita. Perasaan itu ya mesti dikeluarkan, dinyatakan dengan cara yang tepat dan layak. Marah itu boleh dan baik, maka marah mesti dikeluarkan, dengan cara yang LAYAK yaitu tidak dengan memukul, menghina, merendahkan, dll. Sedih juga mesti disampaikan secara layak, tidak perlu sampai menangis bergulingan atau histerik. Gembira dan bahagia juga mesti disampaikan, dengan tertawa, dengan berpelukan, bernyanyi, tersenyum, berlompatan, dsb. Hlo, jangan dikira semua orang mampu mengungkapkan kebahagiaan atau kegembiraannya secara layak. Tak sedikit orang yang malah merasa malu kalau menunjukkan kegembiraannya.

Pertanyaan saya, apakah Anda sudah mengekspresikan perasaan Anda secara TEPAT? Maksudnya? Aneka perasaan itu, selain mesti disampaikan dengan cara-cara yang layak, juga mestilah berupa perasaan yang sesuai aslinya.
Hlo, ada ya perasaan yang tidak asli? Ya banyak; sangat sering malahan. Boleh jadi, tiap pagi Anda mengantar suami dengan bangga karena ia bekerja keras untuk keluarga; tetapi benarkah tidak ada sama sekali sebersit atau setetes pun perasaan iri karena Anda sendiri juga ingin bekerja? Jadi, jika ia pulang terlambat dan telah memberitahu Anda bahwa ia ada tugas lembur, mengapa Anda marah kepadanya? Jika di dalam diri Anda hanya ada rasa bangga, lalu mengapa bisa timbul marah — jika semua tindakannya tidak keliru?
Mengapa Anda memarahi anak yang merengek meminta ini dan itu, apalagi di depan ibu-ibu lainnya? Apakah benar-benar karena ia memang melanggar aturan? Ataukah karena Anda merasa malu dianggap tidak becus mengatur anak? Ataukah karena Anda merasa iri kepada ibu-ibu lainnya yang dapat memberikan semua keinginan anaknya? Ataukah Anda merasa diperdaya oleh anak yang rewel di depan orang lain? Kalau misalnya, perasaan aslinya adalah malu, lalu mengapa Anda mesti marah, apalagi sambil berteriak?

Jadi, semakin Anda mampu mengidentifikasi apa sebenarnya perasaan asli Anda, maka semakin besar kemungkinan Anda tidak melampiaskannya berupa kemarahan. Sebaliknya, semakin Anda tidak tahu apa sejatinya perasaan Anda, maka besar kemungkinan Anda akan terus menerus marah dan marah. Sedih karena sahabat mengalami masalah dan merasa tak berdaya menolong, eh munculnya marah. Kecewa karena suami tak menepati janji, timbulnya juga marah. Gembira mendapat kiriman sepatu baru, tetapi terpaksa menahan rasa gembira itu karena ada mertua di rumah, hla ujung-ujungnya marah lagi. Khawatir anak sedang menghadapi ujian, juga malah marah-marah.

Padahal, misalnya, kalau khawatir dan ternyata kekhawatiran itu tidak terjadi, bukankah semestinya kita malah bersyukur? Jadi, mengapa mesti marah? Anak-anak kan jadi tidak mengerti, jadi bertanya-tanya apa kesalahannya koq dimarahi, sehingga mereka malah mogok belajar. Sebaliknya, jika kekhawatiran itu yang Anda sampaikan, anak dan diri Anda sendiri akan tahu bahwa sumber masalahnya ada di dalam diri Anda yang memiliki pengharapan yang tak sesuai dengan potensi dan kapasitas anak. Maka, Anda dan anak dapat bersama-sama mencari solusi yang lebih sesuai.

Para ibu dan ayah yang sedang mencoba tantangan #40HariTakBerteriak, agar berhasil, ada beberapa hal yang mesti Anda lakukan. Setiap kali ada situasi yang mendorong Anda untuk berteriak, jedalah sejenak (boleh ambil nafas dalam, boleh duduk di sofa sambil memejamkan mata, boleh minum air sejuk, dan boleh masuk kamar atau kamar mandi) untuk memikirkan tiga hal ini:
1. “apa ya sebenarnya yang dibutuhkan anakku?”
2. dan “apa ya sesungguhnya perasaan terdalamku (di balik rasa marahku ini sebenarnya perasaan apa yang memicunya?)
3. dan perasaan asli itu disebabkan oleh tidak terpenuhinya kebutuhanku yang mana? Apakah kebutuhanku itu dapat kupenuhi jika aku menyelesaikan masalahku dengan… (pasanganku, mertuaku, tetanggaku, temanku, saudaraku, atau diriku sendiri)?

Bila Anda mampu menjawab tiga pertanyaan dasar itu, tentu Anda akan mampu tidak berteriak. Bukan hanya itu saja keberhasilan Anda. Anda juga akan sekaligus mampu menyatakan perasaan Anda yang asli. Itu berarti kecerdasan emosional Anda juga meningkat. Sekaligus hubungan dengan pasangan juga akan membaik, keluarga Anda menjadi lebih bahagia. Dan berbagai persoalan yang selama ini seakan-akan tiada habisnya, akan berganti dengan berkat karuniaNya yang tiada henti mengaliri diri dan keluarga Anda. DB

Untuk penjadwalan konsultasi masalah perkawinan dan keluarga, silahkan menghubungi 0878-8170-5466 atau 0812-9119-2671 atau pin BB: 259DDE69 atau 542AD286.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s