Kasih Ibu (Maleficent)

maleficent

by Dono Baswardono

Ketika orang-orang sibuk menonton debat capres, saya bersama bungsu saya yang sudah mahasiswa dan istri, berangkat ke bioskop untuk menonton Maleficent.
Karena hari Senin, bioskop memang sepi. Ada beberapa keluarga mengajak bayi, balita atau anak-anak mereka. Saya bertanya kepada anak saya, “Apakah ini film untuk “segala umur?” “Kalau melihat label di poster dan papan elektronik tiket sih memang tertulis SU, pak,” jawabnya. “Tetapi mari kita lihat saja apakah memang sesuai untuk segala umur,” lanjutnya.
***

Setelah berjalan belasan menit, beberapa bayi dan batita mulai menangis. Bahkan ada seorang bayi dan kakaknya yang batita berbarengan menangis yang langsung ditutup mulutnya oleh ayahnya. Ya tambah kencang lah tangisnya.
***

Mengapa banyak bayi dan batita menangis? Karena visualisasi ceritanya memang gelap. Seandainya Anda menonton dari DVD bajakan, dapat dipastikan tidak kelihatan apa-apa karena gelapnya itu. Kegelapan – bagi banyak bayi – adalah hal yang tidak nyaman.
Jalan ceritanya sih sangat mudah dicerna oleh balita. Adegan kekerasan memang ada, tetapi tidak banyak. Tentu tetap tidak oke buat balita, tetapi masih cukup oke untuk anak SD kelas besar – asal diajak membahasnya seusai menonton film.
Kata-kata kasar, seingat saya, tidak ada. Adegan seks, sama sekali tidak ada. Memang ada adegan berciuman, tetapi itu pun cium sayang. (Dan saya jadi teringat oleh pesan seorang ibu yang sangat sibuk naik-turun tangga untuk membeli makanan ketika trailer film-film diputar agar bayinya menutup mata saat ia hendak turun membeli makanan. He..he…tentu saja anaknya sama sekali tidak menurut. Bagusnya, bioskop ini hanya memutar trailer film-film anak-anak.)
***

Inti kisahnya sih sangat baik: bahwa selalu ada cinta kasih yang murni dan tulus. Entah itu dari ibu kandung atau ibu yang selama ini mengasuh kita. Juga: bahwa di dalam diri seseorang selalu ada sifat-sifat baik dan sekaligus sifat-sifat buruk.
***

Jadi, seperti yang selama ini selalu saya sarankan: apa ruginya sih Anda membuang Rp 25-50 ribu untuk menonton sendiri dulu sebuah film sebelum Anda mengajak anak-anak menontonnya di bioskop? Uang sebesar itu kan sangat kecil dibandingkan kesejahteraan psikologis anak-anak? Dibandingkan dengan perkembangan kepribadiannya? (Ya kalau Anda tak mau rugi duit, bisa saja kan melihat trailernya dulu dari internet?)
Daripada Anda nekad mengajak anak-anak ke bioskop – katakanlah menghabiskan uang sampai Rp 200 ribu – dan ternyata ia menangis yang memaksa Anda ke luar dari studio sambil jengkel atau bahkan marah-marah kepadanya? (Jika anak-anak bisa berdebat sepintar orangtuanya, sesungguhnya mereka ingin berkata, “Hlo siapa sih yang mengajak dan memutuskan menonton film yang menyeramkan atau menakutkan bagi diriku ini?”)
***

Cobalah belajar menjadi anak-anak kembali. Keadaan seperti apa sih yang menakutkan bagi anak-anak? Suasana seperti apa sih yang mencekam? Musik seperti apa yang membuat anak-anak merasa gentar? Apakah lampu-lampu gelap bioskop juga membuat anak-anak merasa sendirian? Apakah layar yang begitu besar dan gambar-gambar yang begitu besar dalam suasana sekitar yang gelap membuat anak-anak merasa dirinya berada di dalam adegan yang tengah berlangsung?
Bila setelah membaca paragraf terakhir ini Anda masih kesulitan berempati pada perasaan anak-anak ketika menonton film, ingatlah pedoman mudah berikut ini: ajaklah anak-anak menonton film Segala Umur (SU) setelah mereka kelas 3 SD. Hla, kalau mereka yang merengek-rengek minta nonton karena dipengaruhi teman-temannya? Percayalah bahwa Anda adalah orangtuanya, bukan temannya, bukan bawahannya. Anda adalah kapten kapal di rumah Anda. Rengekannya memang terasa tidak nyaman di telinga Anda, tetapi jika Anda konsisten, dalam tempo beberapa menit saja, rengekan itu sudah akan berlalu. DB

NB: Saya pribadi adalah seorang pecandu film. Dulu ketika SMA dan mahasiswa, saya bisa menonton film sampai di tiga bioskop dalam sehari. Setelah menikah, saya masih gemar menonton – dengan frekuensi yang berkurang, tetapi hanya berdua bersama istri. Anak-anak saya titipkan selama dua jam saja ke tetangga atau saudara atau kakek-neneknya. Bila filmnya memang layak ditonton anak-anak, baru kemudian saya ajak mereka nonton. Bagi saya, tidak pernah rugi menonton film bagus untuk kedua atau ketiga kalinya.

————————–

Diambil dari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s