ALERGI MAKANAN PADA ANAK AUTIS

Autisme pada anak merupakan gangguan perkembangan yang muncul pada usia balita (bawah tiga tahun), yang menyebabkan mereka tidak mampu membentuk hubungan sosial atau mengembangkan komunikasi normal. Kondisi kelainan pada anak autis dapat berbeda-beda mulai dari yang ringan sampai berat sehingga dikatakan suatu spektrum kelainan atau Autis Spectrum Disorder (ASD). Salah satu kelainan yang dijumpai pada anak autis adalah gangguan sistem imun yang mendasari adanya alergi makanan pada individu tersebut. Sistim imun sebagian besar berlokasi dedalam atau dekat dengan saluran cerna untuk mencegah masuknya benda-benda asing kedalam berbagai bagian tubuh yang lain.
Defek pada sistem imun dapat menyebabkan peningkatan pertumbuhan mikroorganisme tertentu, salah satunya adalah jamur yaitu Candida Albicans kedalam saluran cerna. Kerusakan barier-barier pertahanan didalam saluran cerna yang menyebabkan peningkatan pengambilan alergen makanan. Hal ini akan menimbulkan reaksi alergi dengan Ig E sebagai mediator. Menifestasi penyakit alergi yang timbul dapat bermacam-macam tergantung pada kepekaan penderita. Gejala alergi ini dapat juga timbul pada beberapa tempat secara bersamaan. Manifestasi penyakit alergi dapat berupa gangguan pencernaan, urtikaria, dan gangguan perilaku seperti dijumpai pada autism spektrum disorder.

TIPE-TIPE DEFISIENSI IMUN PADA ANAK AUTIS

Defisiensi Myeliperoxidase
Mieliperoxidase adalah enzim yang dijumpai didalam sel-sel darah putih (neutrofil) yang mereaksikan hidrogen peroksida dan ion klorida untuk membentuk ion hipoklorit, yaitu suatu zat aktif yang sama dengan yang terkandung dalam pemutih yang biasa digunakan dirumah tangga. Ion hipoklorit membunuh jamur seperti juga pemutih yang digunakan dirumah tangga. Jika enzim ini mengalami defisiensi maka sel-sel darah putih tidak dapat memproduksi ion hipoklorit untuk membunuh jamur, sehingga terjadi pertumbuhan jamur yang berlebihan. Pasien-pasien dengan gangguan ini sering mengalami infeksi jamur pada kuku atau dapat pula mengalami infeksi jamur sistemik. Defisiensi myeloperoxidase dapat merupakan kelainan genitik atau suatu kelainan didapat. Kelainan genetik tersebut berubungan dengan mutasi pada pasangan kromosom 17 atau berhubungan dengan defisiensi biotinidasa. Kelainan enzim myeloperoxidase dapat berhubungan dengan keracunan logam berat, defisiensi asam folat atau vitamin B-12, infeksi yang berat dan leukemia.

Immunodefisiensi Berat/ Severe combinet immunodeficiency disease (SCID)
Pada immunodefisiensi berat kelainan yang dijumpai adalah cacat pada limfosit T dan limfosit B sehingga baik imunitas selulas maupun imunitas hormonal mengalami gangguan. Penyakit ini dapat berhubungan dengan kelainan genetik pada kromosom X atau pada salah satu kromosom yang lain. Kelainan genetik yang menimbulkan defisiensi enzim purin nukleoside phosporylase atau adenosine diaminase juga menyebabkan SCID. Infeksi Candida Sp, sering dijumpai pada penyakit imunodefisiensi berat ini.

Defisiensi Ig A yang Selektif
Imunodefisiensi ini terjadi pada satu orang dari 600-1000 orang Eropa. Penyebab defisiensi Ig A masih belum deketahui. Pada beberapa kasus imunodefisiensi ini tampaknya dipengaruhi oleh faktor keturunan tetapi pada beberapa kasus lainnya tidak. Pada beberapa kasus, defisiensi Ig A ini disertai dengan kelainan pada kromosom 18, namun pada umumnya defisiensi IgA tidak disertai kelainan kromosom. Obat-obat atau infeksi virus dapat menimbulkan defisiensi IgA juga sensitif terhadap glutein.

Defisiensi Komplemen C4b
Sistem komplemen merupakan sistem yang komplek yang terdiri dari 20 protein yang disebut komplemen. Komplemen merupakan bagian dari sistem imun yang berfungsi untuk menghancurkan jamur, virus dan bakteri. Sistem komplemen dapat berintegrasi dengan membran sel sebagai spesies bakteri dan hasil tambahan komplemen menarik sel-sel darah putih untuk menghancurkan sekaligus membersihkan sisa bakteri yang telah dihancurkan tersebut.
Beberapa komponen komplemen dapat menyelimuti bakteri sehingga bakteri tersebut dapat dengan mudah “dimakan” oleh sel-sel darah putih. Konsentrasi komplemen C4b pada penderita autis mengalami penurunan. Penderita yang mengalami defisiensi komplemen C4b ini mudah terinfeksi oleh jamur dan bakteri seperti Streptococcus pneumoniae dan Haemopilus influenza, dua bakteri yang sering menimbulkan infeksi telinga.

Kelainan Autoimun pada Anak Autis
Penderita dengan kandidasis sering memproduksi antibodi terhadap kandida yang juga bereaksi terhada berbagai jaringan tubuh manusia seperti otak, ginjal, pankreas limfa, timus, dan hati. Bahkan antibodi jamur yang sama ini ternyata juga bereaksi pada protein gandum.Hal inilah yang menjelaskan mengapa titer antibodi terhadap protein gandum sangat tinggi pada anak autis dan mengapa mereka sangat sensitif terhadap protein gandum. Salah satu bagian utama protein gandum yang disebut alfa-gladin sangat mirip dengan salah satu bagian protein jamur yang terlibat pada reproduksi jamur.

Fenomena Alergi Makanan pada Anak Autis
Alaergi makanan adalah salah satu bagian dari reaksi simpang makanan. Alergi makanan secara umum dapat didefinisikan sebagai suatu reaksi sistem imun tubuh yang berlebihan (reaksi hipersensitif) akibat kontak dengan makanan atau bahan pelengkap makanan (alergen ) yang tidak menimbulkan tidak menimbulkan keluhan bagi sebagian besar orang normal. Raeaksi imun pada individu yang alergi ini berlebihan dan menimbulkan kerusakan jaringan serta ganggaun fugsi organ-organ tubuh individu yang bersangkutan.
Saluran cerna manusia diperkirakan memproses 100 ton makanan selama masa hidupnya dan individu dalam populasi tetentu yang mengalami alergi makanan hanya sedikit saja. Hal ini disebabkan karena usus dalam keadaan normal memiliki sistem pertahanan yang baik. Mukosa usus memiliki epitelium yang bertindak sebagai sawar (barier) fisik. Barier saluran cerna ini memiliki fungsi pertahanan terhadap berbagai anti gen seperti bekteri, virus, parasit dan protein makanan/alergen makanan. Barier ini berupa: (1) barier imunologik yang menghambat penetrasi antigen/alergen makanan, yaitu IgA spesifik dalam lumen usus yang memblok pengambilan alergen dari lumen usus, (2) barier imunologik yang membersihkan antigen/ alergen makanan yang berhasil melakuakn penetrasi yaitu IgA, IgG spesifik, dan sistem retikulo indotelial. Selain itu saluran pencernaan juga mempunyai (1) barier fisiologik yang memecah antigen dalam lumen saluran cerna, yaitu asam lambung, pepsin, enzim pankreas, enzim-enzim usus dan aktivitas lisozim sel-sel epitel usus, dan barier fisiologik yang menghambat penetrasi antugen berupa sairan mukus usus yang dapat mengurangi kontak mukosa dengan substansi antigenik dalam lumen usus.
Seperti telah disebutkan diatas sistem imun yang merupakan bagian dari barier usus pada anak autis mengalami berbagai gangguan antara lain (1) defisiensi enzin myeloperoxidase, yang berperan untuk menekan pertumbuhan jamur,, (2) defisiensi sistem imun yang berat, dengan adanya defek pada limfisit T dan limfosit B, sehingga tidak mampu mengatasi infeksi kandida, (3) defisiensi IgA yang berfungsi melindungi sepanjang dinding saluran cerna terhadap paparan benda asing , dan (4) defisiensi komplemen C4b yang merupakan bagian sisitem imun untuk menghancurkan jamur, virus, dan bakteri. Selain itu saluran cerna anak autis mengalami kerusakan struktur akibat berbagai zat- zat toksik yang dijumpai dari lingkungannya. Defisiensi sistem imun dalam saluran cerna akan menyebabkan peningkatan pertumbuhan organisme seperti jamur dan masuknya benda-benda asing termaasuk alergen makanan kedalam berbagai bagian tubuh yang lain. Perkembangna jamur seperti Candida albicans secara berlebihan dalam saluran cerna nak autis akan menimbulkan peradangan menahun dan menambah kerusakan barier usus. Peradangan menaun pada saluran cerna ini disebut sebagai inflamatory bowel syndrome(IBS). IBS pada anak autis ini dicurigai akibat infeksi persisten virus morbili yang dalam faksin MMR, salah satu pencetus ASD.

Reaksi Simpang Makanan Tanpa Mediator IgE
Enzim-enzim pencernaan pada anak autis juga mengalami gangguan. Enzim pencernaan yang paling sering terganggu pada anak autis adalah Dipeptidylpeptidase IV (DPP IV). DPP IV adalah pencernaan yang berfungsi untuk menguraikan ikatan peptida setelah gugus karboksil prolin sehingga gangguan fungsi DPP IV akan menimbulkan gangguan pencernaan berbagai protein, sehingga gangguan fungsi DPP IV akan menimbulkan gangguan pencernaan berbagai protein. Dengan demikian protein susu sapi (casein) dan protein gandum (glutein) tidak akan tercerna sempurna dan hanya menjadi molekul peptida saja yang disebut caseomorphin dan gluteomorphin. Caseomorphin dan gluteomorphin dapat diserap oleh saluran cerna anak autis yang mengalami peradangan dan didalam otak bertindak sebagai neurotransmiter palsu dan berikatan dengan reseptor morfin, sehingga terjadi gangguan perilaku.

Tes Alergi
Zat anti atau antibodi yang khusus tehadap alergen tertentu adalah imunoglobulin E spesifik (Ig E spesifik). Antibodi IgE spesifik ini beredara keseluruh tubuh termasuk dalam darah dan jarinagn bawah kulit. Keberadaan IgE spesifik ini dalam tubuh penderita dapat dibuktikan melalui tes alergi. Tes alegi ini terdiri dari tiga macam yaitu tes kulit, tes darah dan tes provokasi. Tes kulit dapat berupa tes kulit tusuk, tes kulit tempel, dan tes kulit gores. Tes laboratorium darah memeriksa imunoglobulin E (IgE) dan tes provokasi pada penderita dilaksanakan dengan memberikan alergen terduga pada organ yang bergejala dengan maksud membuktikan alergen teduga iniah yang menjadi penyebab timbulnya gejala, tetapi tes provokasi ini tidak dapat dilakukan secara rutin.

Prosedur tes alergi dengan tes tusuk pada kulit
1. Mula –mula kulit lengan bawah yang akan dites dibersihkan dengan alkohol.
2. Kemudian kulit tersebut ditetesi dengan sejumlah alergen dan ditusuk dengan jarum kecil yang steril. Tusukannya amat dangkal dan tidak menimbulkan perdarahan atau nyeri.
3. Tetesan alergen tersebut dibiarkan selama 15-20 menit.
4. Setelah itu tetesan alergen dibersihkan dan dilihat ada tidaknya bentol kemerahan pada daerah tusukan yang kemudian dibandingkan dengan kontrol negatif dan positif.
Catatan: tes alergi ini dapat dilaksanakan pada individu yang sehat berumur 4 tahun atau lebih dan dalam 4 hari tidak minum obat golongan antihistamin karena obat-obat ini akan mengganggu pemeriksaan tes alergi.

Tes laboratorium darah memeriksa imunoglobulin E spesifik (IgE RAST)
Tes laboratorium darah memeriksa imunoglobulin E spesifik (IgE RAST) memerlukan darah penderita yang kemudian diperiksa dilaboratorium dengan cara radioaktif (Radio Allergo Sorbent Test). Keuntungan test ini adalah hasilnya yang tidak dipengaruhi oleh obat-obatan seperti antihistamin dan tidak adanya resiko bagi penderita yang sangat sensitif.

Pemeriksaan IgG spesifik RAST
Selain pemeriksaan IgE spesifik RAST, pemeriksaan IgG spesifik RAST perlu dilakukan juga pada anak autis dengan alergi makanan yang kronik guna penilaian alergi tipe lambat. IgG yang berperan pada reaksi alergi adalah IgG dengan subtipe G. Pemeriksaan IgE dan IgG spesifik RAST harus didahului diet bebas casein selama 3 minggu, bebas glutein selama 3 bulan, bebas bagi (yerst) dan fenol selama 1-3 minggu.

Penaggulangan Alergi Makanan pada Anak Autis
Penanggulangan alergi makanan yang paling penting adalah eliminasi alergen makanan tersebut dari diet penderita. Makanan-makanan yang dipantang ini sebaiknya ditentukan dengan tes alergi misalnya dengan pemeriksaan IgE RAST dalam darah. Dengan demikian makanan yang menyebabkan alergi saja yang dipantang oleh penderita dan tidak terjadi kekurangan gizi. Pemeriksaan IgE dan IgG spesifik akan memperoleh hasil dengan 4 katagori yaiti tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah. Makanan yang harus dipantang oleh penderita adalah makanan dengan katagori rendah dan sedang. Dan berdasarkan pemeriksaan IgE dan IgG spesifik, penderita melakukan diet rotasi 4 hari yaitu dengan merotasikan makanan makanan yang memiliki kategori rendah dan sangat rendah. Protein kasein dan glutein yang berasal dari susu sapi dan gandum sebaiknya dihindari karena enzin untuk mencerna protein ini pada anak autis mengalami kerusakan dan sisa pencernaannya menimbulkan gangguan pada otak. Bahan-bahan pelengkanp makanan seperti bahan pewarna sintetik dan MSG, dan bahan-bahan kimia lain (seperti formal dehid, fenol, etanol, amonia, hydrokarbon, petrochemical, cairan pembersih, cat, asap (rokok), bensin minyak pelumas, parfum pewarna pakaian sintetik, pestisida, bahan plastik, bahan dasar untuk konstruksi banguna, karpet baru sebaiknya dihindari, karena bahan-bahan ini juga mempengaruhi perilaku penderita. Minuman yang dianjurkan adalah air suling.
Obat obat anti alergi dan anti radang seperti antihistamin penghambat reseptor H1 dan H2, ketotifen, kortikosteroid, dan penghambat sistem prostaglandin dapat diberikan namun penggunaannya masih kontroversial.
Pada saluran cerna yang memiliki barier pertahanan yang baik alergi makanan jarang terjadi. Oleh karena itu, pencegahan alergi makanan dapat dilekukan dengan pemberian ASI selama mungkin karena ASI mengandung IgA yang memblok pengambilan alergen dari lumen usus.
Berbagai gangguan barier pertahanan pada saluran cerna akan menimbulkan dan memperberat manifestasi penyakit alergi makanan. Oleh karena itu, inflamatory Bowl Syndrome pada anak autis, yang dapat juga menimbulkan defisiensi zat-zat gizi, harus ditanggulangi. Salah satu cara penaggulangannya adalah dengan pemberian antioksidan dan vitamin serta mineral.
Para ahli menganjurkan dilakukan pengobatan terhadap Candida Albicans yang dapat menimbulkan reaksi hipersensitif berupa diet, suplementasi makanan tertentu, dan beberapa obat tertentu. Diet yang dienjurkan berupa pengurangan asupan gula, pengurangan ragi dan makanan lain yang dianggap dapat meyuburkan pertumbuhan Candida Albicans. Obat-obat nistatin, ketokonazol, dan kadang-kadang amfoterisin B dapat diberikan dengan dosis sangat rendah per oral. Probiotik seperti Lactobacillus Gg dapat diberikan untuk menjaga flora usus dalam keadaan seimbang.

Sumber: Penatalaksanaan Holistik AUTISME, Kongres Nasional Autisme Indonesia Pertama.
Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian Ilmu Pe ta,2003nyakit Dalam FKUI, Sekolah Khusus Matahati Jakarta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s