Kita Dan Konflik

Pagi ini tanpa sengaja saya menonton liputan KompasTV tentang kejadian pembunuhan seorang mahasiswi yang dilakukan oleh rekannya. Sudah membaca tentang ini berkali-kali, sudah mengetahui juga alasan mereka melakukan pembunuhan, tapi yang menancap dihati adalah interview dengan ibunda korban, yang dengan tegarnya menjawab pertanyaan-pertanyaan reporter, dan tidak terlihat dendamnya karena “Saya sudah mengampuni pelaku” kata beliau. Saya yang meneteskan airmata menonton liputannya jadi merasa berat di dada, dan mematikan tivi setelah liputan tersebut selesai.

Lalu ketika membuka facebook, saya membaca tulisan dari opa Dono Baswardono. Kebetulan sekali tulisan itu pas sekali dengan liputan yang baru saya lihat, dan saya jadi ingin share kepada para orangtua, kepada siapapun yang kebetulan membaca blog saya ini.

——————————-

Setiap hari, kita maupun anak kita – entah masih kecil atau pun sudah remaja, tentu menemui berbagai persoalan. Mulai dari udara dingin sampai sikap orang lain yang dingin.
Ada yang diam-diam ambil jaket karena udara dingin lalu bikin wedang jahe. Tapi ada yang lebay teriak-teriak ke teman-temannya bahwa ia kedinginan di Twitter tapi tetap tak mau bergerak ambil selimut apalagi berolahraga.
Ada yang bertanya langsung, “Apa salah dan dosaku sehingga dikau mendiamkan diriku?” saat pacarnya bersikap dingin. Dan ada pula yang kemudian membunuh mantan pacarnya karena tidak ditanggapi.

Perbedaan itu karena perbedaan dalam fungsi-fungsi untuk “menghadapi persoalan hidup.” (Dalam khasanah psikoanalisis disebut sebagai “fungsi-fungsi ego).

Salah satu fungsi itu adalah menyadari bahwa persoalan yang dihadapinya ini masih alam nyata, bukan impian atau khayalan. Bahwa sikap dingin mantan pacar itu adalah hal yang nyata, bukan sekadar imajinasinya semata.

Lalu ia tahu dan mampu menanggung perasaan yang timbul atas persoalan itu. Ada orang bersikap dingin terhadap kita, tentu bisa saja kita jengkel atau marah, tapi bisa juga sedih atau kecewa; bergantung konteksnya. Ia tahu beda perasaan itu dan mampu bertindak sesuai perasaannya. Kalau sedih ya menangis – bukan marah, apalagi menyetrum.
Ia juga sadar bahwa perasaan itu ada di dalam dirinya sendiri, bukan disebabkan oleh orang lain. Mau sedih atau bahagia, itu tergantung diri sendiri, bukan tanggung jawab orang lain.

Karena mampu mentolerir perasaan-perasaan yang berat itu, maka kita juga mampu menjalin hubungan secara bermakna. Kita mampu mengungkapkan perasaan kita secara layak dan tepat kepada orang lain. Hubungan pun menjadi tidak dangkal, tidak di permukaan saja. Hubungan bisa berlangsung lama dan sehat.

Di dalam hubungan apa pun tentu timbul konflik, seperti berbeda pendapat. Dibutuhkan “pertimbangan” kuat agar konflik itu tidak membesar. Bagian pertamanya adalah memikirkan persoalan itu dengan benar, dan bagian kedua yang jauh lebih penting adalah “mampu bertindak sesuai dengan hasil pemikiran tersebut.” Sebagai contoh, kita bisa berfikir bahwa dingin bisa dihilangkan dengan memakai jaket, tetapi kita tidak melakukannya. Atau Anda tahu kalau sate kambing bakal meningkatkan tekanan darah, tetapi Anda tetap menyantapnya. Dan kita tahu bahwa disetrum itu sakit, tetapi kita tetap menyetrum orang lain. Itu menunjukkan lemahnya “pertimbangan” kita.

Seringkali, ada dua hal yang membuat bagian kedua pertimbangan itu tidak berjalan. Yang pertama adalah sulit mengontrol impuls atau nafsu. Begitu melihat sate, langsung makan. Begitu lihat paha, langsung hormon testosterone menderas. Begitu diabaikan seseorang langsung marah-marah.

Pertimbangan yang macet itu juga terjadi karena fungsi superego yang lemah. Bukan hanya karena sedikitnya pengetahuan benar-salah di dalam ingatannya – karena kurangnya pendidikan moral-spiritual misalnya, tetapi juga karena kurangnya teladan perbuatan baik dan benar, serta jarang menanggung konsekuensi dari perbuatannya. Mungkin pendidikan agama sudah baik, dan teladan juga baik, tetapi kalau sejak kecil setiap kali ada masalah selalu ditolong, ya fungsi superego ini tetap tidak jalan.

Masih ada sekitar delapan fungsi diri lainnya, tetapi empat yang sudah saya paparkan di atas adalah yang fundamental. Bila sebagian besar dari fungsi fundamental dan fungsi lainnya itu mengalami hambatan atau lemah, maka seseorang bisa mengalami gangguan kepribadian, antara lain gangguan kepribadian antisosial atau buku-buku populer menyebutnya psikopat atau sosiopat. Salah satu ciri pokok gangguan kepribadian antisosial ini adalah lemahnya superego dan lemahnya kontrol impuls seperti contoh di atas. Banyak tindakan kriminal, termasuk korupsi, dilakukan oleh orang yang berkepribadian antisosial ini. (Oh ya, berbeda dari kepribadian asosial).

Hikmahnya? Tugas orangtua dan lingkungan untuk menguatkan fungsi-fungsi diri dalam menghadapi berbagi persoalan hidup, selain menguatkan fungsi superego. DB

Dikutip dari: https://www.facebook.com/dono.baswardono1/posts/735267999840473

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s