What’s Wrong With Autism Speaks?

Untuk masyarakat Indonesia mungkin hanya sedikit yang mengenal Autism Speaks, sebuah lembaga yang katanya mendukung kepedulian terhadap autisme. Belakangan ini saya mendengar suara sumbang tentang Autism Speaks, namun masih belum terlalu peduli karena ini terjadi disana, bukan di negara tercinta.

Namun ketika pagi ini membaca salah satu blog yang sering saya baca, barulah saya merinding. Apa yang dijelaskan pada blog Emma’s Hope Book baru memberikan efek, karena dijelaskan disini bahwa Autism Speaks berkerja sama dengan Judge Rotenberg Center. Pertama kali saya mendengar tentang Judge Rotenberg Center adalah ketika ada kasus pengaduan dari orangtua anak autis yang menitipkan anaknya disana, lalu mendapatkan bahwa anaknya di terapi dengan terapi kejut listrik, yang bukannya membuat kondisi anak mereka membaik tapi malahan jatuh memburuk.

Saya tidak memahami alasan Autism Speaks bekerja sama dengan lembaga Judge Rotenberg Center tersebut, namun setuju dengan pendapat banyak orang di US sana: Autism Speaks bukan lagi lembaga yang mendukung kepedulian pada penyandang autisme.

Please read this blog.

Emma's Hope Book

When my daughter was diagnosed, we heard about Autism Speaks.  Their message supported everything else we were reading and hearing about autism, so I didn’t spend much time thinking about what they were saying or who they were involved with or even what they were doing with all the money they received.  In fact, we gave money to them during those early years.  When friends and family asked who they should donate money to, I encouraged them to give to Autism Speaks.

“Autism Speaks has a long and continued pattern of exclusion of Autistic voices from its work on autism. As an organization without a single Autistic person on its board of directors, Autism Speaks is the last group our nation’s leaders should be entrusting with the creation of a “national plan to address autism”. ~ ASAN (Autistic Self Advocacy Network)

“No reasonable person would dare suggest that an organization…

View original post 672 more words

Advertisements

Autism and the stigma of parenting

by Rachel McNamara

At the end of this article, I want you to tally up your score to see how you rate as a parent…….NOT! But it may have almost seemed like a reasonable request given the how readily advice is given on parenting in magazines, books and on websites.

The awareness that we can affect the course of our children’s life journey has made us paranoid that every little thing we say and do could mean the difference between them being unhappy and happy in life.

Advice is wonderful; pick and choose which strategies you and your family feels most comfortable with but avoid sources of advice that suggest that their way is the best way for everyone and/or that you will be a ‘bad’ parent or ‘practice bad parenting’ if you choose to do things differently.

There is no ‘good’ or ‘bad’ parenting, just different parenting styles and different choices by different parents under different circumstances for different children.

With regards to your own parenting, don’t ask how you can be a better parent; ask how you can help your child to achieve a specific goal or to manage a specific challenge. Doubting your overall parenting is not helpful and it puts your mental health at risk by increasing your anxiety and feelings of guilt. Continue reading

Gaya Belajar Anak

by Dono Baswardono

Anda tentu tahu bahwa mayoritas guru di Indonesia mengajar secara verbal. Mereka banyak bicara, bla…bla… hampir untuk semua mata ajaran. Bahkan sebagian guru tetap memakai gaya verbal ketika mengajarkan materi yang mestinya diajarkan dengan gaya berbeda, seperti matematika, fisika, kimia, biologi, sejarah, kewargaan, dan agama.

Nah, gaya mengajar verbal itu punya pasangan klop: murid-murid yang gaya belajarnya auditoris. Materi pelajaran cepat meresap, cepat difahami, cepat terhafalkan lewat pendengaran.

Tentu saja, gaya mengajar verbal itu tidak sesuai untuk anak-anak dengan gaya belajar lain: kinestetik, metakognitif, visual, sosial-emosional. Padahal, jumlah anak yang gaya belajarnya auditoris itu hanya sekitar 20-an persen. Artinya, sekitar 80 persen anak bukan merupakan pasangan sejati guru-guru bergaya mengajar verbal. Continue reading

Tips Mengurangi Stres Anak

by Dono Baswardono

Ada banyak cara orangtua bisa menolong anaknya mengatasi stres dan situasi penuh stres.

– Jangan mencoba menyelesaikan semua hal untuk anak Anda. Hindari memberi nasehat. Kadang-kadang dengarkan saja. Jika anak merasa sungguh-sungguh didengar sudah cukup mengurangi stres mereka.

– Sambil mendengar, ajukan pertanyaan-pertanyaan yang mendorong anak Anda untuk memikirkan keadaannya secara menyeluruh. “Lalu apa langkah berikutnya?” atau “Bagaimana seharusnya kamu mengatasi hal itu?” adalah pertanyaan yang bagus. Juga, ajukan beberapa pertanyaan “bagaimana kalau…?”

– Bantu anak-anak untuk mendengarkan diri sendiri. Misalnya dengan teknik “saat-saat hening” di mana anak-anak bisa mendengarkan suara-suara alam seperti tetesan hujan atau ombak menerpa pantai, atau detak jantungnya sendiri, juga mendengarkan rekaman suara ikan paus, lumba-lumba atau kicau burung. Continue reading