Sekolah Dan Autisme

Judul asli: Seputar Autisme

by Stanley Bratawira

Keadaan individu penyandang autisme antara satu dengan lainnya bisa sangat beragam. Dalam hal pendidikan formal misalnya, sebagian dari penyandang  autisme ada yang bisa dan sesuai untuk bersekolah di sekolah umum, sebagian lagi ada yang memerlukan pendidikan  di sekolah khusus. Tulisan berikut ini berkaitan dengan persoalan penyandang autism yang bersekolah di sekolah umum.

Ada sejumlah pertanyaan yang mungkin timbul di antara para orangtua pada umumnya, seputar keberadaan anak penyandang autisme yang bersekolah di sekolah regular, yang kami coba ungkapkan dan jelaskan dalam  bentuk tanya-jawab berikut ini.

Tanya (T): Apakah kalau anak saya sering bergaul dan bermain dengan anak autis, maka bisa tertular menjadi autis juga?

Jawab (J): Autisme adalah suatu gangguan perkembangan yang dialami seseorang karena ada gangguan secara noerologis (gangguan pada susunan syaraf pusat) dan bukan merupakan suatu penyakit. Baik secara medis maupun klinis, autisme sama sekali tidak menular. TIDAK akan terjadi anak yang semula baik-baik saja perkembangannya,  kemudian karena sering  bergaul dengan anak autis maka ia tiba-tiba menjadi autis juga.

 T: Anak saya mempunyai teman sekelas yang penyandang autisme, bagaimana kalau anak saya jadi sering menirukan gerakan atau tingkah laku temannya yang autis itu?

J: Anak-anak memang biasa meniru apa yang dilihat dan dialami dari lingkungan sekitarnya, dari teman-teman, dari orang yang lebih besar maupun dari apa yang dilihatnya melalui media masa seperti dari siaran televisi misalnya. Anak mungkin saja akan meniru hal-hal yang positif dan juga yang negatif dari lingkungannya. Adalah tugas dari orangtua dan guru atau pendidik, untuk selalu berusaha membimbing, mengingatkan dan meluruskan, apabila menjumpai tingkah laku anak yang kurang berkenan, yang diperoleh anak karena ia meniru dari apa yang dilihatnya di sekitarnya, termasuk  yang dilihatnya dari anak-anak pada umumnya maupun dari temannya yang penyandang autisme. 

Kita tidak perlu terlalu khawatir bila suatu saat anak menirukan gerakan atau tingkah laku tertentu yang didapat dari temannya yang penyandang autisme, oleh karena hal ini bisa segera hilang apabila orangtua dan guru cukup tanggap menasehati/memperbaiki dan memberi pengertian yang baik kepada anak (tanpa perlu memojokkan temannya yang autis); sama halnya dengan kalau anak menirukan suatu tingkah laku buruk yang diperoleh dari temannya yang tidak autis yang bisa terjadi sehari-hari.

Dapat dikatakan, dalam proses perkembangan, pada umumnya anak-anak akan lebih banyak menirukan tingkah laku negatif  (misalnya kata-kata dan perbuatan  kasar, ketidak-jujuran dsb), yang didapat dari temannya yang tidak autis dibandingkan dengan apa yang ditiru dari temannya yang penyandang autisme. Jadi kita juga perlu bertanya, mengapa jika anak meniru satu atau dua tingkah laku dari temannya yang autis maka itu menjadi masalah besar, sedangkan jika meniru hal negatif dari  temannya yang tidak autis maka dianggap biasa dan tidak apa-apa.

Tidak semua tingkah laku anak penyandang autisme adalah negatif. Mungkin justru ada cukup banyak hal positif yang dapat ditiru anak dari temannya yang autistik, seperti  misalnya mungkin saja temannya yang autis itu cukup disiplin, patuh pada peraturan, jujur, baik hati dsb.

Pada anak penyandang autisme, bila ia menampilkan tingkah laku tertentu yang unik dan tidak lazim dan berulang-ulang, itu karena memang ia mengalami masalah secara neorologis atau karena persoalan sensori yang dialaminya dan hal itu mungkin di luar kemampuannya untuk mengontrolnya. Sedangkan  kalau anak biasa menirukan tingkah laku tertentu dari temannya yang autis, maka ini adalah hal yang  masih dalam batas   bisa dikontrol, sehingga tingkah laku yang tidak berkenan tersebut bersifat sementara saja dan dapat segera dimodofikasi hingga hilang, tidak merupaka sesuatu yang bersifat menetap lama.

T: Bagaimana jika anak autis itu mengganggu di kelas atau mengganggu temannya?

J: Keadan anak dengan spektrum autisme yang bersekolah di sekolah umum sangat beragam, ada yang dapat dengan tertib mengikuti pelajaran di kelas dan juga sama sekali tidak mengganggu teman-temannya. Jadi kita sebaiknya juga tidak menyamaratakan dan menganggap bahwa semua anak autis itu pasti akan membuat kesulitan di sekolah. Memang  mungkin ada sebagian murid penyandang autisme yang masih tampak hiperaktif atau berperilaku yang dapat dianggap mengganggu suasana kelas atau mengganggu temannya.

Pihak sekolah dan guru-guru yang menerima anak autis di sekolah regular, seyogianya memiliki cara-cara penanganan yang memadai dan sesuai bagi murid yang autistik, sehingga kemungkinan untuk terjadinya anak mengganggu di kelas bisa diperkecil dan jika timbul tingkah laku yang mulai mengganggu  maka bisa dilakukan penanganan yang baik dan tidak menjadi masalah besar yang berlarut-larut.

Orangtua dari anak  autistik dan guru-guru, seyogianya juga terus menerus berusaha melakukan berbagai upaya intervensi (dengan terapi-terapi dsb.), sesuai dengan masalah dan kebutuhan anak, agar anak kian hari tingkah lakunya kian menjadi lebih baik, sehingga menjadi tidak terlalu bermasalah lagi di sekolah. Jadi keadaan bermasalah di sekolah itu seharusnya merupakan masa sementara yang terus menerus dalam proses perbaikan yang sungguh-sungguh.

Banyak anak-anak, baik yang normal maupun yang berkebutuhan khusus,  yang pada awal-awal masuk sekolah menampilkan tingkah laku  bermasalah, setelah beberapa lama, dengan kesabaran, toleransi dari teman-temannya dan juga orangtua lainnya, dengan bimbingan dari guru dan orangtuanya, ternyata kemudian bisa menjadi lebih baik dan tidak lagi terlalu bermasalah. Dengan perspektif demikianlah hendaknya kita melihat persoalan ini, sehingga kita bisa memberi kesempatan bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk mengecap pendidikan di sekolah umum, khususnya bagi anak yang keadaannya memang memungkinkan bersekolah di sekolah umum.

Dari berbagai pengalaman, kita dapat melihat bahwa ternyata anak-anak  biasanya mempunyai rasa saling memaafkan dan toleransi yang besar terhadap teman-temannya. Apabila suatu ketika terjadi pertentangan ataupun ketidak-cocokan di antara anak-anak misalnya, biasanya mereka akan bisa dengan cepat berbaikan kembali, apalagi jika guru cukup tanggap dan bisa menfasilitasi dan menengahi dengan baik. Demikian kita sering melihat misalnya,  dua anak yang saling bertengkar atau marahan karena sesuatu hal, tidak lama kemudian (bisa cuma dalam hitungan beberapa menit) ternyata mereka sudah bisa berbaikan dan bermain bersama kembali seakan tidak terjadi apa-apa sebelumnya.  Jadi dalam hal ini kita para orangtua juga tidak perlu terlalu khawatir jika sesekali terjadi pertentangan di antara anak dengan temannya, termasuk dengan temannya yang autis, sepanjang itu masih dalam kontrol dari guru.

Jumlah murid penyandang autisme di dalam satu kelas biasanya relatif sedikit dibandingkan dengan jumlah murid keseluruhannya. Dengan demikian diharapkan murid penyandang autism bisa belajar banyak hal positif dari teman-temannya, termasuk dalam hal sosialisasi. Sedangkan pengaruh negatif yang mungkin ada yang disebabkan karena keberadaan murid penyandang autisme itu relatif kecil.

Kenyataan menunjukkan, sering juga terjadi murid penyandang autisme  diganggu oleh murid-murid lainnya, seperti misalnya diolok-olok, diejek, dipermainkan dsb. Oleh karena itu, sebagai orangtua dari anak “normal”, adalah sangat baik jika dapat menyampaikan kepada anak-anak agar dapat menerima keberadaan temannya yang berkebutuhan khusus, dan menyarankan anak supaya bisa bergaul, bersikap wajar dan menghargai serta sedapat mungkin membantu temannya yang autis itu.

 

T: Di sekolah, murid penyandang autisme sering tampak memperoleh perlakuan istimewa, lebih diperhatikan oleh guru, atau ada yang boleh didampingi oleh guru pendamping, atau diizinkan melakukan hal-hal yang bagi murid lainnya tidak boleh. Bagaimana jika hal ini dirasakan/dilihat sebagai  “tidak adil” bagi murid-murid lainnya?

J: Perlakuan khusus dari sekolah/guru terhadap murid penyandang autisme, semata-mata bukan karena guru pilih kasih atau mengistimewakan anak , tetapi karena keadaan anak yang autis, dalam beberapa hal memang membutuhkan perlakuan  khusus, dalam rangka membantu anak supaya dapat berkembang lebih  baik. Pada prinsipnya anak penyandang autism perlu diperlakukan secara wajar, sesuai dengan apa yang memang dibutuhkannya, namun bukan harus diistimewakan secara berlebihan. Karena kekurangan/keterbatasan yang dimilikinya, dan juga karena mungkin masalah sensori yang dialami anak penyandang autisme, maka  anak mungkin saja memang membutuhkan  perlakuan khusus seperti misalnya: Cara guru menyampaikan sesuatu perlu disesuaikan dengan kekhususan anak dan lain sebagainya. Hal ini hendaknya tidak dilihat sebagai bentuk ketidak-adilan terhadap murid-murid lainnya.

T: Sebagai orangtua yang tidak memiliki anak berkebutuhan khusus, memang kenapa  saya perlu memberi dukungan dan kesempatan bagi anak penyandang autisme untuk bersekolah di sekolah umum bersama-sama dengan anak saya, dan apa pula manfaatnya bagi anak saya?

J: Jika kita tanya kepada para orangtua pada umumnya apa alasan “memasukkan” anak ke sekolah, maka salah satu jawaban yang sering dikemukakan ialah: “Agar anak belajar bersosialisasi”. Jadi memang, sosialisasi adalah hal yang sangat penting yang diharapkan diperoleh anak dengan bersekolah, di samping tentunya anak juga mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan akademik. Marilah kita lihat, apa yang sesungguhnya dimaksud dengan “sosialisasi” itu?

Dalam bersosialisasi, anak belajar berteman, bergaul dan bermain dengan teman-temannya. Anak-anak belajar saling memberi dan berbagi, mengikuti berbagai aturan sosial yang umum berlaku,  belajar bertenggang rasa, sopan santun, saling membantu, saling memperhatikan, berempati dan saling mengasihi dsb. Anak juga belajar, bahwa teman-teman di sekitarnya dalam berbagai aspek ternyata berbeda-beda (termasuk berbeda dalam hal kemampuannya), dan semua anak perlu saling menerima serta menghargai perbedaan yang ada di antara teman-temannya itu. Inilah makna sosialisasi yang seyogianya didapat di sekolah.

Jadi, jika anak-anak bisa belajar menerima dan menghargai teman-temannya yang memang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, termasuk teman yang berkebutuhan khusus, apalagi jika anak juga dapat belajar membantu, berempati dan mengasihi,  maka itulah “sosialisasi” yang memang kita harapkan. Hal ini sangat mungkin terwujud apabila  sekolah, guru dan orangtua dapat menciptakan suasana yang kondusif dan mendukung untuk itu.

Sebagai orangtua, kita juga perlu memberi dukungan positif serta teladan yang baik kepada anak, salah satu bentuknya ialah berupa kepedulian terhadap anak-anak berkebutuhan khusus. Sikap dan kepedulian yang positif dari para orangtua, yang menghargai  anak berkebutuhan khusus setara dengan anak lain pada umumnya, dan mau memberi kesempatan serta dukungan agar anak penyandang autisme dapat berkembang lebih baik, adalah cermin dari cara pandang dan cara berpikir yang maju dan mulia. Ke arah demikianlah hendaknya kita sama-sama berusaha.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s