Sekolah Dan Autisme

Judul asli: Seputar Autisme

by Stanley Bratawira

Keadaan individu penyandang autisme antara satu dengan lainnya bisa sangat beragam. Dalam hal pendidikan formal misalnya, sebagian dari penyandang  autisme ada yang bisa dan sesuai untuk bersekolah di sekolah umum, sebagian lagi ada yang memerlukan pendidikan  di sekolah khusus. Tulisan berikut ini berkaitan dengan persoalan penyandang autism yang bersekolah di sekolah umum.

Ada sejumlah pertanyaan yang mungkin timbul di antara para orangtua pada umumnya, seputar keberadaan anak penyandang autisme yang bersekolah di sekolah regular, yang kami coba ungkapkan dan jelaskan dalam  bentuk tanya-jawab berikut ini.

Tanya (T): Apakah kalau anak saya sering bergaul dan bermain dengan anak autis, maka bisa tertular menjadi autis juga?

Jawab (J): Autisme adalah suatu gangguan perkembangan yang dialami seseorang karena ada gangguan secara noerologis (gangguan pada susunan syaraf pusat) dan bukan merupakan suatu penyakit. Baik secara medis maupun klinis, autisme sama sekali tidak menular. TIDAK akan terjadi anak yang semula baik-baik saja perkembangannya,  kemudian karena sering  bergaul dengan anak autis maka ia tiba-tiba menjadi autis juga.

 T: Anak saya mempunyai teman sekelas yang penyandang autisme, bagaimana kalau anak saya jadi sering menirukan gerakan atau tingkah laku temannya yang autis itu?

J: Anak-anak memang biasa meniru apa yang dilihat dan dialami dari lingkungan sekitarnya, dari teman-teman, dari orang yang lebih besar maupun dari apa yang dilihatnya melalui media masa seperti dari siaran televisi misalnya. Anak mungkin saja akan meniru hal-hal yang positif dan juga yang negatif dari lingkungannya. Adalah tugas dari orangtua dan guru atau pendidik, untuk selalu berusaha membimbing, mengingatkan dan meluruskan, apabila menjumpai tingkah laku anak yang kurang berkenan, yang diperoleh anak karena ia meniru dari apa yang dilihatnya di sekitarnya, termasuk  yang dilihatnya dari anak-anak pada umumnya maupun dari temannya yang penyandang autisme.  Continue reading

Raising a Teacher’s Awareness About LD and AD/HD – Parents as Educators

By Gina Robuck, M.Ed.

Every August parents and kids alike eagerly await the start of a new school year. But, for parents who have a child with a learning disability (LD), Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (AD/HD), or any other disability, the anticipation usually creates feelings of anxiety, worry, and even dread.

One of the biggest worries for parents is whether this year’s teacher will have any awareness or knowledge about their child’s disability – how the child learns best, what she struggles with, and what she needs to be successful in the classroom. Why does it sometimes seem like parents know more than the teacher about how LD and/or AD/HD impact their children? If a child with a disability is to have a successful school year, parents are often put in the situation of having to educate their child’s teacher about these issues.

Why General Education Teachers Often Don’t Understand LD and AD/HD

There are some common reasons why general education teachers have very little knowledge about disabilities in general. First, teacher training programs devote little to no class hours to understanding challenges students with particular disabilities face and how to help them learn. Second, general education teachers typically don’t sign up for continuing education classes that focus on effective ways to teach kids with learning disabilities or AD/HD. Last, most school districts do not provide ongoing in-service training for teachers about teaching kids with special needs.

In my experience as a consultant and psychologist in the schools, many general education teachers do their best to provide the appropriate support to the kids in their classrooms with disabilities. But to be effective in teaching these students, general education teachers need much more interaction with, and guidance and support from, their special education colleagues than most schools typically provide. This is a huge frustration for teachers as well as parents. Continue reading

Apakah Dyspraxia itu?

Terjemahan mentah dari post dibawah

Apakah dyspraxia itu?

dyspraxia

Dyspraxia dapat mempengaruhi setiap atau semua area perkembangan – intelektual, emosional, fisik, bahasa, sosial dan sensorik – dan dapat merusak proses normal seseorang belajar. Biasanya dikatakan adanya penurunan atau ketidakmatangan organisasi gerakan, tapi mungkin juga terkait dengan ini masalah pada bahasa, persepsi dan pemikiran.

Masalah akan timbul dalam proses pembentukan ide-ide, perencanaan dan pelaksanaan motorik, karena orang-orang dengan dyspraxia memiliki pemahaman yang buruk dari pesan yang disampaikan indra mereka dan kesulitan yang berkaitan pesan tersebut ke tindakan.

Ini berarti sulit untuk mempelajari aktivitas fisik, sulit untuk mempertahankan, dan ragu-ragu juga canggung dalam tindakan.

Dyspraxia mempengaruhi setiap orang dengan cara yang berbeda dan pada tahap perkembangan yang berbeda. Bagaimana seorang individu dipengaruhi tidak konsisten juga. Misalnya, suatu hari mereka mungkin dapat melakukan tugas tertentu, keesokan harinya mereka tidak bisa. Continue reading

Dyspraxia

BBC Health

What is dyspraxia?

Dyspraxia can affect any or all areas of development – intellectual, emotional, physical, language, social and sensory – and may impair a person’s normal process of learning. Usually, it’s said to be an impairment or immaturity of the organisation of movement, but associated with this may be problems of language, perception and thought.

Problems arise in the process of forming ideas, motor planning and execution, since people with dyspraxia have poor understanding of the messages their senses convey and difficulty relating those messages to actions.

This means physical activities are hard to learn, difficult to retain, and hesitant and awkward in performance.

Dyspraxia affects each person in different ways and at different stages of development. How an individual is affected is inconsistent, too. For example, one day they may be able to perform a specific task, the next day they can’t.

Causes of dyspraxia Continue reading

Mandiri

by Riska Timothy

Therapist

5 Hal yang perlu diajarkan pada Para Spesial kita agar dapat mandiri :

1. Kebersihan diri
2. Mengenali makanan sehat
3. Mempelajari Norma dan Nilai Masyarakat
4. Sosialisasi
5. Pendidikan Kognitif

1. Kebersihan diri

Mandi sendiri, berpakaian sendiri, makan sendiri, kebersihan tubuh, cara menggososk gigi, cara menggosok badan dengan sabun, membilasnya dengan air, membersihkan telinga, memotong kuku, masuk rumah kaki harus bersih, menyapu, mencuci baju, mencuci piring, dll Continue reading