Menciptakan Lingkungan Ramah Anak: Dimulai Dari Rumah & Sekolah

Oleh: Elly Risman, Pakar Parenting

Tingginya angka kekerasan yang terjadi pada pelajar dan remaja saat ini tidak lepas dari hilangnya ruang-ruang terbuka. Ruang-ruang yang anak-anak butuhkan untuk berekspresi dan melakukan aktifitas fisik sebagai penyaluran energi mereka yang berlebih. Akibatnya, anak-anak dan remaja kesulitan menyalurkan emosi dan energi mereka hingga mengubah mereka menjadi sosok yang emosionalnya labil.

Perubahan hormon pada remaja membuat masalah emosi pada anak-anak menjadi lebih kompleks.
Perubahan hormon seiring perkembangan organ-organ reproduksi memicu kekacauan emosi. Pada anak laki-laki yang sudah baligh, mereka membutuhkan saluran untuk menyalurkan libidonya. Olahraga sangat efektif untuk mengelola emosi dan libido remaja karena pada anak laki-laki aktifitas ini membuat sperma bisa terserap kembali dalam tubuh. Sebaliknya, ketika mereka tidak punya ruang aktifitas fisik mereka mencari penggantinya melalui salah satunya melalui game online. Tidak banyak orangtua yang paham bahwa game online mengajarkan anak-anak kita kekerasan dan kecanduan seksual mengakibatkan kerusakan otak. Sebuah konsekuensi yang amat sangat, sangat mahal akibat hilangnya ruang-ruang terbuka untuk buah hati kita.
Agresivitas vs Cita-cita setinggi langit
Cita-cita apa yang kita dambakan untuk anak-anak kita kelak? Pilot? Dokter? Ilmuwan hingga entrepreneurkah? Demi mencapai cita-cita tersebutlah anak-anak kita tuntut untuk belajar sangat keras di sekolah hingga mengikuti berbagai les tambahan. Sesungguhnya ada yang terlewatkan oleh kita semua para orangtua saat ini. Apa itu?
Sebelum mendapatkan pendidikan akademis, anak semestinya mendapatkan pendidikan emosi yang cukup sejak mereka lahir hingga usia 8 tahun. Kebutuhan didengarkan perasaannya, pengenalan emosinya hingga penerimaan terhadap perasaan dan diri sang anak. Bukanlah les calistung (baca tulis hitung) yang kini lazim terjadi.
Ketidakmatangan emosi ditambah beban sekolah yang sangat berat, menghasilkan dampak yang sangat merugikan. Hal ini membuat terjadinya ketidakseimbangan Intelligence Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ) dan Spiritual Quotient(SQ) sang anak. Akhirnya anak tumbuh menjadi sosok yang agresif dan selalu mencari ruang untuk menyalurkan emosi mereka diluar rumah.
Kecanduan games online, kebut-kebutan dijalan hingga kecanduan narkoba adalah bentuk nyata agresifitas anak. Mereka jadi menyukai kekerasan dan tantangan berbahaya sebelum mereka mengerti tentang akibat/resiko tingkah laku yang dilakukannya.

Dimanakah para ayah ketika anak-anaknya tawuran?
Lingkungan pergaulan anak-anak remaja seringkali menjadi kambing hitam penyebab tawuran pelajar yang kini semakin menakutkan. Asal tuding ini sesungguhnya bentuk nyata ketidakpedulian orangtua, masyarakat maupun pihak sekolah dan pemerintah yang cenderung tidak mau disalahkan. Benarkah tawuran bukan disebabkan oleh kurangnya figur orangtua, terutama ayah bagi anak-anak lelakinya?
Anak laki-laki semestinya tidak hanya memperoleh pengasuhan di rumah dari ibunya saja. Dibutuhkan peran seorang ayah untuk memenuhi perkembangan otak, perilaku,emosi dan kebutuhan fisik seorang anak laki-laki. Hal ini karena kebutuhan seorang anak laki-laki sangat berbeda dengan anak perempuan.
Para ayah masa kini yang sibuk dengan pekerjaan kantornya melupakan kewajiban mengasuh anak-anak lelakinya. Mulai dari mengajak anak lelakinya shalat berjamaah dimesjid hingga meluangkan waktu untuk transfer knowledge dan emosi yang sangat berperan bagi pertumbuhan sang anak. Ayah dibutuhkan untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan dan sikap sejati laki-laki yang siap bertanggungjawab atas perilaku dan resiko yang harus dihadapi. Juga untuk mengarahkan anak-anak laki-lakinya untuk bisa membedakan pilihan yang baik dan yang buruk.
Jika saja setiap anak laki-laki kita memiliki figur seorang ayah dirumah dan memperoleh penerimaan dan pengakuan dari orangtuanya, mereka tidak akan berada di jalanan dan terlibat tawuran.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s