Kenapa Kamu Tertawa?

By Endah W Soekarsono

Sore ini lengan kiri saya bengkak. Ya, tadi pagi saya digigit Lukman, anak spesial di sekolah kami. Dia menggigit saya ketika saya berusaha mengurai jari-jarinya yang mencengkeram jari seorang kakak sambil menangis. Begitu datang dia memang menangis keras sambil mengatakan, “Aku tidak mau sekolah.”

Ibunya langsung pulang karena beliau pasti sudah mafhum bahwa cara terbaik ya meninggalkan anak sekalipun dalam keadaan menangis. Mungkin itu adalah trik si anak saja. Dari nada tangisnya memang tampaknya ada sesuatu di rumah, tetapi tidak berarti tidak sekolah kan …..

Pembiasaan adalah hal yang kami tanamkan kepada setiap anak di sekolah kami. Sekali mereka diizinkan tidak bersekolah bukan karena sakit, kami khawatir itu akan melekat di benaknya. Dan dengan tangisan, kami akan meluluskan permintaannya.

Maka, sekalipun dari gerbang hingga pintu masuk, Lukman terus menangis, seorang kakak tetap menggiringnya ke dalam.

Dan saya kena gigitannya ….

Tidak sakit, namun lama kelamaan menjadi bengkak dan lengan saya pegal. Mungkin ada aliran darah yang terhenti di sekitar gigitan itu.

Rasa sakit itu terlupakan ketika datang seorang tamu.

Selagi saya berbincang dengan tamu, terlihat Lukman di depan pintu membawa minyak tawon. Oh kakak kelasnya sudah berhasil menenangkan dia, dan pasti kemudian memintanya membawakan obat untuk saya.

Dia ragu untuk masuk, tapi saya beri kode, setelah minta maaf pada tamu. Kemudian Lukman ikut duduk di karpet, dan membuka tutup botol minyak tawon.

“Kak Endah, aku obatin,” katanya.

“Jangan kena lukanya ya, Lukman, nanti perih. Bagian yang bengkak saja.”

Telunjuknya yang kecil mengoleskan minyak tawon di lengan saya.

Kemudian saya tanya, “Kenapa tadi pagi Lukman menangis?”

“Aku tidak mau sekolah,” jawabnya.

“Kenapa tidak mau sekolah?”

“Kami tidak mau ke Kelas Merkurius,” jawabnya. Tampaknya dia sedang senang mengucapkan “kami” sebagai pengganti “aku”. Jawabannya mungkin merupakan penjelasan bahwa di sekolah ada Kelas Merkurius, nama kelasnya (kelas 1 SD kami). Tapi tampaknya sulit bagi Lukman untuk menjawab pertanyaan “mengapa” secara berlapis.

Dia menatap saya dengan mata masih basah oleh air mata, dan mulut terbuka, menampakkan gigi kelincinya. Saya pun tertawa geli, dan dia bertanya, “Kenapa kamu tertawa?”

“Lukman lucu.”

Dia tersenyum malu, dan menunduk.

“Sudah Lukman, sudah sembuh nih. Terima kasih, ya.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s