Duniaku Mulai Berwarna

By Endah W Soekarsono

Kelasku tetap sama, Kak Wiwik tetap di sana, namun teman-temanku tidak ada. Mereka ada di kelas sebelah. Foto-foto mereka ada di pintu kelas sebelah, tapi fotoku tidak ada di sana. Kupegangi kertas yang ditempeli foto-foto itu, dan kubalik setiap kali aku melewatinya. Aku tidak suka.

Ya, aku tidak suka dengan kelas baruku. Teman-temanku tidak kukenal. Apalagi ada seorang anak yang selalu dekat Kak Wiwik, Lukman*) namanya.

Aku heran, kenapa Kak Wiwik sayang kepada Lukman, padahal anak itu kadang-kadang menyakiti Kak Wiwik. Pernah, karena marah, aku berteriak, “Lukman, kau tidak boleh!”

Lukman membalas berteriak, sambil menuding jari  ke arahku, “Jangan berkata begitu, Tiaz!”

Kak Wiwik tidak marah kepadaku maupun kepada Lukman, padahal kami saling berteriak. Selama ini aku tidak pernah bertengkar di sekolah. Aku hanya marah kalau di hari berenang, aku tidak berenang; atau teman-teman mendahuluiku berangkat; atau aku diajak ke ruang terapi, sementara yang lain pergi ke mesjid. Aku tidak pernah punya keinginan marah kepada teman.

Aku sayang teman-temanku, apalagi teman-teman di kelas lamaku. Sampai sekarang aku masih sering dipeluk Ariel kalau kami bertemu, dan Ariel bilang, “Tiaz, aku kangen.” Dira juga sering mendorong-dorong aku di pagi hari, memintaku untuk mengisi kertas absensi.

Pernah juga kudengar Lukman mencoret namaku di kertas absensi.  “Tiaz tidak!” katanya. Padahal aku belum mengisi absen. Yang dia coret adalah nama Tian.

Suatu kali aku rindu pada teman-teman lamaku. Aku pun main ke kelas sebelah, ikut kegiatan di sana. Aku duduk di kelompok Dira dan Ariel. Lagi-lagi Ariel memelukku. Aku senang. Dan aku dengan iseng menusuk-nusuk pangkal lengan Dira yang gendut dengan pulpen, sampai dia berteriak, “Iiih Tiaz, jangan.”

Keesokan harinya aku ikut kelas mereka lagi. Namun ketika Brain Gym, aku teringat Kak Wiwik. Aku rindu Kak Wiwik, karena itu aku pun lari ke kelas sebelah sambil berteriak, “Tiaz sama Kak Wiwik.”

Aku sayang Kak Wiwik, dan aku mulai belajar berbagi Kak Wiwik dengan Lukman. Tidak mudah.  Kalau dia terus-menerus ada di sofa perpustakaan, dan ada kakak yang menemani Lukman, aku pun melirik-lirik ke sana, mondar-mandir di balik rak buku, dan makan penganan kecil berlama-lama.

Lukman menjadi sumber kecemburuanku, dan aku cukup menatap sambil melirik diam-diam kalau Kak Wiwik mendekatinya terlalu lama. Kak Wiwik pasti sudah tahu aku hampir menangis, dan segera menghampiriku juga.

Sejak adanya Lukman, aku ingin menyatakan sesuatu.  Bukan hanya mengenai perasaanku terhadap Lukman, tetapi juga kepada orang lain.  Aku pernah memuji Kak Samsul guru Iqro, “Kak Samsul anak soleh.” Aku juga pbuernah bilang, “Kak Endah cantik.”

Aku juga punya keinginan mendapat giliran, terutama ketika kami bermain musik. Suatu kali teman-temanku dipanggil kakak pembimbing bermain keyboard. Aku belum mendapat giliran dan duduk memperhatikan sambil makan kue. Tiba-tiba ada desakan dari diriku yang membuatku berteriak, “Aku! Aku!”

Aku pun diajak memainkan lagu Mars Tetum di keyboard dengan indah.

Keindahan duniaku … yang mulai berwarna dengan perasaanku yang membuatku bisa bertengkar, marah, sedih, tertawa dan punya keinginan.

(Untuk ayah Tiaz yang setia menunggu putranya di sekolah. Semoga doanya untuk Tiaz diijabah Allah SWT. Selamat ulang tahun)

*) Lukman adalah salah satu murid kami yang didiagnosis memiliki kecenderungan PDD-NOS (Pervasive Developmental Disorder – Not Otherwise Specified). Istilah ini digunakan untuk anak-anak yang memenuhi sebagian besar, tapi tidak semua, dari kriteria autisme. Cerita mengenai Lukman silakan baca di http://mamanya.wordpress.com.

Menempatkan Lukman dan Tiaz dalam satu kelas membuat mereka lebih peka terhadap perasaan sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s