Reza, Alexander dan Filsafat Ilmu

By Endah W Soekarsono

Reza dulu bersekolah TK di tempat kami, dan hingga sekarang masih kerap datang kalau libur.

Minatnya pada sejarah mendorongnya untuk menulis note di FB tentang Alexander Agung, dan memberi tag Sekolah Tetum. Saya cukup tersanjung bahwa sekolah pertamanya tetap ada di hatinya. Saya pun memberi komentar: “Alexander = Iskandar. Apakah dulu papa dan mamanya terinspirasi oleh Alexander the Great sehingga memberi nama putranya dengan Iskandar?”

Dia tidak mengomentari komentar saya, tapi ibunya kemudian menulis surat bahwa Reza akan mengajak saya berdebat soal Alexander dan Iskandar. Menurut Reza, Alexander bukanlah Iskandar karena Alexander Agung lahir jauh sebelum Islam muncul.

Weeeks ….

Saya geli tapi juga terperangah. Seorang anak kelas 4 SD mengajak saya berdebat tentang sejarah. Rasanya baru kemarin saya mengajaknya membuat komik dinosaurus di kegiatan ekskul bahasa Inggris, dan membuatkannya proyek wartawan. Bahkan ketika dia berlibur ke sekolah, masih terbayang senyum manisnya dalam kegiatan-kegiatan yang diikutinya.

Dan kini dia menantang saya untuk berdebat kalau dia hadir di Family Gathering sekolah kami. Saya pun bilang kepada ibunya bahwa saya akan menjelaskan dari segi etimologi. Yah, sejarah Alexander Agung sudah menjadi bayangan kabur untuk saya, tapi karena pernah belajar linguistik, saya tahu adanya kata serapan, atau kata yang masuk ke dalam suatu bahasa dan lebur menjadi kata baru sesuai dengan lidah penutur bahasa itu.

Jadi Alexander adalah bentuk Latin dari nama Yunani Alexandros yang berarti lelaki pembela. Nama itu berasal dari kata Yunani “alexo” yang mengandung makna “membela, membantu” dan “aner” yang berarti “lelaki”, dan menjadi terkenal di Eropa karena merupakan nama Raja Masedonia yang membangun hegemoni di kawasan Yunani, Mesir, Persia dan sebagian India. Pada masa berikutnya nama itu juga merupakan nama raja-raja Skotlandia, Polandia dan Yugoslavia, kaisar-kaisar di Rusia dan delapan paus. Kita juga mengenal penyair Inggris abad ke-18, Alexander Pope, dan penyair Rusia abad ke-19, Alexander Pushkin. Bapak telekomunikasi pun bernama Alexander Graham Bell.

Lalu kenapa Alexander disamakan dengan Iskandar? Itu yang akan didebat Reza. Menurut dia, Islam baru berkembang di abad ke-7, jadi tidak mungkin Alexander adalah Iskandar.

Kalau kita kembali ke etimologi, maka Raja Alexander III dari Masedonia, kemungkinan besar bernama Alexandros, karena ia hidup pada masa Yunani Kuno. Hegemoni yang diciptakannya membuat nama itu dikenal di berbagai kawasan, dan pengucapan serta penulisannya disesuaikan dengan bahasa setempat. Kata Iskandar yang kita kenal, boleh jadi bukan berinduk pada Alexander, tapi dari bahasa Arab (Iskandar), dan kata Arab itu berasal dari Alexandros (Yunani Kuno).

Katakanlah ini adalah sebuah hipotesis yang perlu diuji secara ilmiah.

Tak dapat dipungkiri, tiba-tiba saya merasa seperti filsuf renta yang harus mengakui kehadiran pemikir muda. Tidak hanya dalam kecakapan berilmu, tapi juga dalam sikap. Lihat saja kata “berdebat” yang dipakainya. Dalam budaya Timur, tentu orang yang lebih muda tidak akan mengajak berdebat orang yang lebih tua.

Tapi berdebat untuk mendapatkan kepastian adalah sikap ilmiah. Reza menulis tentang Alexander Agung dimulai dari rasa ingin tahunya, dan dia mengajak berdebat untuk mendapatkan kepastian. Reza telah berfilsafat: adanya dorongan untuk mengetahui apa yang diketahuinya, dan yang belum diketahuinya.

Di sisi lain, Reza menantang saya untuk berfilsafat: berendah hati bahwa tidak semuanya kita ketahui, serta mengoreksi diri dalam pengetahuan. Tantangan Reza membuat saya berpikir lagi tentang ontologi, epistemologi dan aksiologi pengetahuan linguistik yang saya punya. Secara ontologis saya menjadi berpikir lebih jauh tentang sejarah nama Alexander dan bagaimana kata itu mengalami perubahan dalam fonologi bahasa Arab. Secara epistemologi saya memikirkan metode penelitian yang saya pakai untuk mendapatkan data itu. Secara aksiologi saya berpikir tentang kemanfaatan hasil temuan itu.

Pemikiran itu bisa menjadi suatu riset ilmiah, dan biarlah Reza yang memikirkannya ketika kuliah kelak. Kuliah? Saat ini pun Reza, di kelas 4 SD, sudah memiliki kerangka nalar yang baik. Ia dapat menangkap suatu fenomena dan sebetulnya bisa diarahkan untuk membuat hipotesis….

Adakah yang mau jadi pembimbing akademik Reza?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s