Dampingi Aku, Ibu

by Endah W Soekarsono

“Rama tidak mengikuti instruksi. Rama menendang teman.”

Laporan itu saya dengar di awal tahun ajaran ini. Saya saksikan di kelas Rama berbeda dengan Rama yang kami kenal sebelum libur. Dalam kegiatan Waktu Lingkaran (Circle Time), dia terus bergerak, menyenggol teman di sebelahnya, dan mengucapkan kata-kata dengan volume suara tinggi.

Dalam kegiatan inti, dia berjalan-jalan keluar ruangan. Ketika kegiatan di halaman, dia masuk ke kelas. Saat berbaris, dia ingin paling depan. Sofa di perpustakaan tidak boleh diduduki anak lain. Meja tempat makan pun, kalau dia sudah ingin di tempat tertentu, dia akan berusaha duduk di sana. Untuk sendok, dia memilih yang bermotif bintang, bukan motif yang lain (kami memiliki dua merek sendok, dengan motif berbeda). Dan … dia memukul seorang anak saat bersama-sama mengambil tas.

Rama berulah?  Ya, jelas, karena dia membuat anak lain terganggu.

Tapi apakah Rama dengan sengaja melakukannya? Tidak.

Rama memiliki keterlambatan perkembangan (developmental delay), yang berpengaruh pada kemampuan kognisi (daya nalar), emosi dan motorik (fisik).

Rama dengan kondisinya, tidak terlalu mudah menghadapi perubahan di sekelilingnya. Ruang kelas baru, guru baru dan teman-teman baru. Bahkan dalam lingkup pribadinya, dia juga tengah beradaptasi dengan rumah baru. Kondisi diperburuk pula dengan terapis yang berhenti di klinik tumbuh kembangnya. Saya baru mengetahui hal terakhir ketika bertemu dengan ibunya, ketika Rama sudah sebulan bersekolah, dan proses adaptasi tidak menunjukkan perbaikan.

Rumah baru adalah perubahan yang tak dapat dihindari, terapis yang berganti adalah situasi yang tak dapat kita kendalikan. Namun ada hal yang dapat diantisipasi dan dipersiapkan: kenyamanan anak menghadapi situasi baru di sekolah. Karena itu kami menetapkan jadwal pengambilan Student Kit, yang berlangsung di minggu menjelang hari sekolah, agar orang tua dan anak mengetahui ruang kelas yang baru, dan guru kelas yang baru. Komunikasi semacam, “Dik, ini kelasnya di sini sekarang,” atau, “Wah, nanti Adik akan belajar bersama Kak Nita,” sangat membantu anak mempersiapkan hari pertamanya.

Pada anak balita masih berlangsung masa kepekaan terhadap keteraturan, sehingga bagi mereka perubahan adalah sesuatu yang menegangkan dan bisa terasa mengganggu.

Apalagi untuk anak berkebutuhan khusus, seperti dalam kasus Rama, yang masih perlu waktu panjang untuk menjadi fleksibel menghadapi perubahan.

Karena orang tuanya baru mengambil Student Kit di hari Rama bersekolah, Rama tidak mendapat bekal bagaimana situasi baru yang akan dihadapinya.

Betul-betul Rama harus berjuang seorang diri mengalami situasi yang membuatnya tidak nyaman. Teman yang belum membuatnya nyaman untuk bermain, kakak kelas yang belum ia percaya, ruangan yang tak dikenal ….

Ketidaknyamanan membuat ia cemas, sehingga ketika beramai-ramai mengambil tas di loker mungkin ia terganggu dengan gerak dan suara di sekelilingnya. Secara refleks Rama memukul teman yang berdiri paling dekat dengan dia, sebagai pertahanannya.

Ketika dia ingin duduk di spot tertentu, atau memilih sendok tertentu, itu adalah cara dia mempertahankan keteraturan yang membuatnya tenang.

Ketika dia keluar kelas dalam kegiatan inti, itu adalah responnya terhadap ketidaknyamanan dengan kakak kelas dan teman baru.

Rama mengatasi persoalan dengan cara yang tidak berterima secara sosial, dan tugas orang tua dan sekolahlah untuk membantunya mengurangi kecemasan.

Kami di sekolah membantunya mengatasi tantrum atau mengajaknya berbicara sebelum dia memulai kegiatan. Orang tuanya kami minta untuk melakukan percakapan tentang teman dan kakak kelas, membantu persiapan Rama di pagi hari atau malam sebelumnya (tidak dilakukan oleh asisten), dan menjemput dengan senyuman dan pelukan (bila menjemput sendiri), agar Rama merasakan adanya jembatan antara rumah dan sekolah.

(Saya membuat tulisan ini setelah menerima email dari Ibu Rosa Elvina Saad tentang posting terbarunya. http://mamanya.wordpress.com/2011/09/01/too-much-going-on-different-environment-meltdown/ Dalam tulisan itu Ibu Rosa memperlihatkan bagaimana beliau mendampingi Lukman di masa sulit menghadapi keramaian silaturahmi Lebaran. Ya, seorang ABK perlu mendapat bimbingan untuk menghadapi situasi tak terkontrol. Ibu Rosa pun melakukan hal serupa ketika Lukman akan masuk sekolah. http://mamanya.wordpress.com/2011/07/18/hari-pertama-lukman-di-sd/)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s