Terapi & Edukasi

by Endah W Soekarsono

“Kak, terapi dong ….” rengek Salsa dan Rania, murid TK A kami. Mereka tidak hanya menagih bila kami berpapasan, tapi juga datang ke meja saya untuk “mendaftar”.

Terapi menjadi obsesi bagi mereka, karena “Enak, bisa lompat-lompat.” Ya, di ruang terapi kami ada trampolin. Belum lagi benda-benda lain yang mengisyaratkan bahwa pemakainya akan bergerak aktif: papan titian, terowongan dan peralatan baseball.

Kegiatan terapi ini kami sebut dengan Kelas Sensori. Dari berbagai literatur kami mendapatkan bahwa usia balita adalah periode kepekaan sensori. Pada saat itu anak memiliki kemampuan besar untuk menyerap informasi dari keseluruhan sensori yang dimilikinya, baik penglihatan, penciuman, pengecapan, pendengaran, perabaan maupun gerak dan persendian. Sayangnya, adakalanya kemampuan itu tidak berkembang seperti seharusnya, entah karena masalah neurologis atau karena stimulasi dari lingkungan.

Apabila perkembangan sensori tidak sesuai dengan garis perkembangan manusia, maka anak tidak dapat mengolah informasi yang disalurkan melalui sensorinya dengan baik. Akibatnya, anak menyerap informasi yang ada di lingkungannya dengan cara yang berbeda. Perilaku yang muncul adalah keinginan bergerak yang tinggi, kesulitan mengukur jarak tubuh dengan suatu benda sehingga cenderung menabrak-nabrak ketika berjalan, kesulitan memahami urutan, baik peristiwa, tindakan maupun urutan bilangan, atau kelelahan ketika menulis.

Masalah sensori akan berdampak di kelas. Ketika diminta bekerja dengan duduk, anak melakukan kompensasi terhadap keinginan bergeraknya dengan banyak bicara, jalan-jalan, menggoyang-goyangkan tubuh, dan lain-lain. Ada kemungkinan juga, anak jadi kehilangan percaya diri bila melihat teman-temannya lebih lancar dalam mengerjakan tugas.

Untuk mengatasi masalah tersebut, hal pertama yang kami lakukan adalah melakukan identifikasi terhadap permasalahan sensori yang dihadapi anak. Setelah melakukan identifikasi/asesmen, barulah kami mencari program terapi yang tepat.

Keinginan mempunyai kelas sensori terpikir sejak empat tahun lalu ketika kami mulai serius menangani anak-anak berkebutuhan khusus dan merasa tidak mendapat jawaban ketika menghadapi masalah akademik tertentu. Pada awalnya kami menggalang kerja sama dengan klinik tumbuh kembang. Cukup membantu dalam penanganan anak, namun saya merasa tidak mudah melakukan kerja sama intensif karena masalah kelembagaan. Harapan bahwa hasil terapi dan perkembangan anak dibahas kedua belah pihak tak mudah dilaksanakan.

Alhamdulillah, Tuhan mendengar keinginan saya dengan “mengirim” seorang terapis kepada kami.

Salah satu orang tua murid anak berkebutuhan khusus, Lukman Ibrahim Salim, mengusulkan agar Kak Indah, terapis Lukman, membantu kakak-kakak kami agar Lukman dapat beraktivitas di dalam kelas. Ya, pada waktu itu Lukman cenderung mengasingkan diri dari teman-temannya. Bila temannya di kelas, dia jalan-jalan mengamati kupu-kupu, awan dan kura-kura. Tapi bila temanya beraktivitas di luar kelas, dia pun masuk ke kelas.

Kak Indah membantu kami agar Lukman merasa bahwa dia adalah bagian dari kelompoknya. Selama program itu, saya dan Kak Indah banyak diskusi tentang masalah anak. Saya merasa bahwa Kak Indah adalah sosok terapis yang saya cari.  Dia dapat mengaitkan ilmu terapi okupasi dengan pendidikan. Kak Indah tidak hanya mampu mencermati anak berkebutuhan khusus, tetapi juga anak-anak “biasa” yang mengalami masalah akademik.

Ketika kami pindah ke gedung baru, tanpa melabel diri sekolah inklusi, kami membuka layanan terapi, yang bertujuan untuk melakukan stimulasi agar sensori anak terintegrasi dengan baik, dan pada akhirnya anak dapat melaksanakan aktivitas akademik dan aktivitas sehari-hari. Tentu saja Kak Indah yang menjadi terapisnya. Saat ini program terapi yang kami berikan adalah Sensori Integrasi dan Terapi Menulis.

Apakah masalah-masalah itu tidak dapat diatasi di kelas saja, begitu mungkin pertanyaan yang muncul. Tidak. Ada perbedaan antara edukasi dan terapi. Edukasi melakukan pengembangan, sedangkan terapi melakukan perbaikan. Ruang terapi ibarat sebuah laboratorium untuk meneliti dan melakukan perbaikan, sementara ruang kelas ibarat sebuah masyarakat kecil tempat hasil terapi diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Kerja sama antara kedua belah pihak merupakan penyatuan antara ilmu pendidikan, psikologi dan kedokteran, yang memang diperlukan untuk perkembangan anak.

Kak Indah sendiri merasa hasil kerja sama guru-terapis menjadi lebih nyata untuk perkembangan anak, dibandingkan program   terapi di klinik yang pernah dilakukannya. Dengan adanya sinergi antara terapis dan guru, perbaikan untuk perkembangan anak menjadi lebih cepat. Hasil temuan Kak Indah di ruang terapi diterapkan di kelas, dan masalah di kelas dilaporkan kepada Kak Indah.

Misalnya saja, guru melapor bahwa Ragil selalu maju ke tengah bila sedang duduk di lingkaran. Teman-temannya pun berkomentar, “Ih Ragil kayak tumpeng.” Kak Indah pun mencari tahu penyebabnya. Keseimbangan, propriosepsi dan atensi Ragil dites di ruang terapi. Ketika sampai pada pengetesan taktil, Kak Indah mendapatkan jawabannya. Ya, Ragil mempunyai hipersensitivitas pada taktilnya sehingga dia tak nyaman bila berdekatan dengan orang lain. Tentu tidak mudah membuat Ragil mengembangkan keseimbangan taktil. Setidaknya di tahap awal, ketika dia menyadari bahwa dia tidak nyaman berdekatan dengan orang lain, dia merentangkan kedua tangan agar teman-temannya menjauh darinya. Tahap berikutnya lagi, ketika atensi terhadap lingkungan membaik, dia melakukan kompensasi dengan berkomentar, maju dan mengangkat tangan dalam suatu diskusi. Saat ini Ragil masih mengikuti program terapi.

Sinergi antara guru dan terapis membuahkan hasil cukup signifikan. Beberapa anak yang mempunyai kecenderungan hiperaktivitas dan impulsivitas (misalnya, adanya perilaku-perilaku menonjol seperti mengolok teman, banyak berbicara, ataupun selalu ingin berada di barisan paling depan) pada akhirnya dapat melakukan pengendalian diri lebih baik setelah mengikuti program terapi. Begitu pula anak-anak yang mengalami masalah motorik halus (misalnya ada indikasi cepat lelah ketika menulis, mengelak tugas, melakukan manipulasi agar terhindar dari kewajiban menulis, dan mulai tampak adanya rasa percaya yang rendah), pada akhirnya memiliki performa lebih baik setelah mengikuti program terapi.

Bila terapi berakhir, kami memberikan sertifikat. Tak jarang sertifikat itu membuat terharu suatu keluarga, karena merupakan penghargaan pertama yang diterima putra mereka. Dengan kondisi motorik halus yang tak baik, mereka tak membayangkan putra mereka akan mendapat pengakuan secara akademis. Namun sertifikat itu membuat mereka percaya diri bahwa selalu ada peluang untuk putra mereka.

Banyak orang mengira bahwa terapi hanya dibutuhkan oleh anak berkebutuhan khusus. Padahal tidak. Contoh-contoh yang saya sebutkan di atas menunjukkan bahwa “anak yang tidak spesial” pun perlu menjalani terapi.

Program terapi di sekolah kami tidak membuat seorang anak menjadi malu karena dia berbeda, tapi justru membuat anak lain ingin mendapatkan treatment khusus. Lihat saja Rania dan Salsa, yang selalu heboh minta diterapi karena “Belum tenang.”  Dengan mengatakan “Aku pengen terapi,” Rania dan Salsa telah melakukan dukungan kepada teman yang butuh diterapi.

Diambil dari blog Endah’s Notes http://endah.sekolahtetum.org/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s