Canda Tawa Agresi

by Lita Edia

“Kalau malam hari, kamu nonton apa?” tanya saya pada seorang siswa. Sebuah acara komedi situasi disebutkan oleh siswa tersebut, sebagai jawaban dari pertanyaan saya. Dari beberapa anak yang saya tanyapun memiliki jawaban yang sama, tampaknya tayangan ini memang menjadi favorit keluarga saat ini.

Kemarin malam, saya coba melihat tayangan tersebut. Acara ini banyak menampilkan gerakan tubuh yang lucu, yang sepertinya merupakan adegan komedi favorit masyarakat Indonesia, penonton di studio pun tertawa. Lalu tayangan berlanjut dengan kata-kata ejekan, diantaranya berupa ejekan anggota tubuh, seperti pesek misalnya, penontonpun kembali tertawa. Padahal mengejek anggota tubuh tidaklah patut karena itu adalah ciptaan-Nya, tetapi siapa yang peduli ya dengan hal itu ketika melihat tayangan komedi, masak iya mau tertawa aja berpikir dulu. Tak berhenti pada ejekan anggota tubuh saja, tayangan berlanjut dengan menghubungkan anggota tubuh ini dengan profesi orangtua lawan main. “Bapak kamu pastinya tuan tanah, lihat saja badanmu yang lebar” (kalimat persisnya saya tidak hafal, kira-kira begitulah), penonton kembali tertawa terbahak-bahak. Di tayangan berikutnya, tampak adegan menjaili orang, dengan menyeruduk lawan mainnya sampai terjatuh, lagi-lagi penonton tertawa. Acara ini memang hebat, setiap adegan selalu mengundang tawa.

Saya sempat ikut tertawa, tetapi tak lama kemudian, saya teringat pada seorang siswa, sebutlah namanya Anto. Anto adalah siswa yang menyenangkan dalam pandangan saya. Kesan pertama saya peroleh dari cara dia menyapa saya. Ia berani menyapa, dengan senyumnya yang tulus, padahal kami belum begitu saling mengenal. Hebat! Saya selalu kagum pada anak-anak yang berani menjalin relasi sosial. Kagum karena dulu saya berbanding 180 derajat dari anak-anak seperti itu:). Namun, kesan pertama saya ini ternyata tidak sama dengan kesan oranglain yang sudah lebih lama mengenalnya. Menurut mereka, anak ini tidak menyenangkan sama sekali, kata-katanya sering kasar dan menyakiti. Wah…rasanya saya tak percaya mendengarnya, atau paling tidak menyayangkan hal itu terjadi. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa? Seorang anak yang saya yakini berpotensi sangat bagus  bisa menjadi anak yang tidak menyenangkan.

Suatu hari teman sekelas Anto, Alisa menangis tersedu-sedu. Ia menangis karena nama orangtuanya diplesetkan oleh Anto. Alisa tidak bisa menerima hal tersebut. Sayapun yang mendengar hal tersebut, tidak bisa menerimanya. Nama orangtua tidak pantas untuk menjadi bahan olokan. Begitulah ternyata Anto, yang saya kenal supel itu, belum bisa memilah mana kata yang layak diucapkan, mana yang tidak.

Sang guru sudah kehabisan kata, “susah sekali dibilangin anak itu, ngga tahu harus bilang apa lagi, ngga berubah sedikit pun”. Ya, memang nasihat apa yang tepat diberikan pada Anto? Jika nyatanya ia melihat betapa orang dewasa menikmati acara mengolok-olok orangtua sebagai bahan canda dan tawa, seperti yang ditayangkan di media televisi tadi.

Jika diamati lebih lanjut, terdapat beberapa tayangan yang semestinya diberi batasan oleh orangtua, apakah tayangan tersebut layak atau tidak ditonton oleh anak. Misalnya saja film kartun T*m .n J*rr*, film ini juga favorit keluarga, artinya bukan hanya anak yang menyukai, tetapi orangtuanya juga. Lihatlah bagaimana para tokoh di film itu bisa saling mencelakakan, dan melukai tokoh lainnya. Sedemikian parahnya luka sang tokoh, ia tidak pernah mati. Sudah gepeng terlindas, tubuhnya bisa kembali dengan utuh. Lalu para penonton, apakah ayah, ibu maupun anak-anak akan tertawa tergelak-gelak, melihat adegan tersebut.

Karenanya tidak mengherankan jika ada anak yang memukul, menendang, menjatuhkan, bahkan mengamplas telinga temannya, hanya dengan satu alasan: bercanda. Tidak pula mengherankan saat ada anak sekolah dasar yang berlari ke lantai dua sekolah dan kemudian mengancam bunuh diri. Mungkin dia berpikir, setelah jatuh dari lantai dua, dia bisa langsung berjalan lagi.

Tak berhenti di tayangan televisi, games-games yang kerap dimainkan oleh anakpun, konon mengandung tayangan agresi yang ditampilkan tanpa resiko, seperti menghidupkan kembali lawan yang sudah ditembak mati, dan sejenisnya, dimana anak bertemu dengan fenomen  mudahnya pemulihan dari resiko perilaku agresi.

Sayangnya ditengah kepungan tayangan canda tawa agresi, orangtua tidak menyadari bahwa hal tersebut perlu diwaspadai. “Film kartun, silakan tonton, Nak!”, “Games, silakan bermain, Nak!”, tanpa batasan sama sekali!

Saya pernah bertemu dengan seorang bunda yang terheran-heran dan tidak habis pikir, mengapa anak bungsunya, sampai berani mengancam kakaknya dengan sebuah pisau, saat mereka bertengkar. Hingga akhirnya, bunda berusaha menyimpan benda-benda tajam di tempat yang sulit dijangkau anak. Padahal anak ini sudah duduk di bangku sekolah dasar. Usia yang semestinya sudah memahami resiko-resiko dari menggunakan benda tajam tersebut. Saya sendiri sebagai pendengar, akhirnya tidak merasa heran,karena dari obrolan dengan bunda tersebut, diketahuilah bahwa anaknya termasuk penonton rutin dari tayangan canda tawa agresi, baik dalam bentuk film kartun,maupun games play station.

Jika anak kerapkali melihat konteks canda saat seorang berprilaku agresi, dan minimnya resiko yang membahayakan akibat perilaku agresi, janganlah heran dan bertanya “kok anak itu kalau berprilaku seperti tidak dipikir ya?” Ya…apa yang mau dipikir oleh anak, jika sehari-hari dia mengamati bahwa perilaku agresi bisa dilakukan untuk bahan bercanda, atau perilaku agresi adalah perilaku tanpa resiko.

Albert Bandura, salah seorang ahli teori perilaku, menyatakan bahwa tidak ada anak yang terlahir untuk menjadi kasar. Perilaku agresi adalah hasil dari belajar dari lingkungan sosialnya. Perilaku agresi berkembang karena adanya model, apakah itu dari anggota keluarganya, tayangan media, maupun lingkungan sekitarnya.

Albert Bandura believed that aggression is learned through a process called behavior modeling. He believed that individuals do not actually inherit violent tendencies, but they modeled them after three principles (Bandura, 1976: p.204). Albert Bandura argued that individuals, especially children learn aggressive reponses from observing others, either personally or through the media and environment. He stated that many individuals believed that aggression will produce reinforcements. These reinforcements can formulate into reduction of tension, gaining financial rewards, or gaining the praise of others, or building self-esteem (Siegel, 1992: p.171). In the Bobo doll experiment, the children imitated the aggression of the adults because of the rewarded gained. Albert Bandura was interested in child development. If aggression was diagnosed early in children, Bandura believe that children would reframe from being adult criminals. “Albert Bandura argued that aggression in children is influenced by the reinforcement of family members, the media, and the environment”(Bandura, 1976: pp. 206-208).*

Mungkin sebagai orangtua kita sudah berusaha untuk tidak menjadi model perilaku agresi. Kita tidak pernah menyubit anak, tidak pernah memukul anak, tidak pernah berprilaku agresi di depan anak. Tetapi masihkah kita menikmati tayangan televisi yang mengandung perilaku agresi, mengajak anak/memberi izin pada anak untuk bermain games yang mengandung perilaku agresi, atau bersama-sama/memberi izin pada anak untuk menonton tayangan komedi situasi yang mengandung perilaku agresi? Jika jawaban kita adalah Ya, Maka kita sebenarnya sudah memberikan faktor pemicu perilaku agresi yang dikemukakan oleh Albert Bandura, yaitu menberikan model perilaku agresi pada anak.

Oleh karenanya, sebaiknya berilah batasan yang jelas bagi anak, tayangan seperti apa yang layak dilihat oleh anak. “Nak, kamu boleh menonton apa saja kecuali yang ada adegan mencelakakan orang lain” misalnya. Selanjutnya berilah contoh konsistensi dari kita sebagai orang dewasa untuk tidak menikmati tayangan kekerasan, baik dalam bentuk menikmati berita yang menayangkan kekerasan, menonton dengan asik tayangan canda tawa agresi, maupun asik bermain games yang mengandung perilaku agresi (apalagi yang bisa dipersepsikan agresi adalah perilaku tanpa resiko membahayakan).

Mudah-mudahan upaya tersebut dapat meminimalisir kemungkinan terbentuknya pemahaman bahwa perilaku agresi adalah hal yang boleh dilakukan sebagaimana yang sering mereka lihat dalam berbagai tayangan.

*http://www.criminology.fsu.edu/crimtheory/bandura.htm

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s