Eat, Pray, Love dan Taman Plastik

Sunday, October 24, 2010

Eat, Pray, Love (EPL) bicara tentang pengembaraan.

Bukan hanya Liz Gilbert yang mengalaminya (seharusnya), tapi juga tidak semua akan mulai mengalaminya. Pengembaraan akan bermula kalau kita dapat bicara dengan diri sendiri. Dan biasanya kita mulai bertanya kepada diri sendiri. Pertanyaannya adalah: kapankah kita mulai menoleh kepada diri sendiri?

Satu kenistaan yang kita lakukan adalah tidak melihat ke dalam, tapi ke luar diri kita.

Bahkan di saat akan menonton EPL, saya menyaksikan hal ini….

Saya dan seorang teman duduk di mezzanine, yang lantai bawahnya dimanfaatkan untuk artificial playground — taman bermain dari plastik berisi udara. Semula saya merasa trenyuh melihat playground itu. Oh, suatu saat anak-anak tidak akan pernah merasakan tekstur tanah dan pasir, tidak melihat pohon pisang sungguhan (di sana ada pohon-pohon pisang plastik), tidak menggerakkan tubuh dengan hirupan oksigen alami tapi AC.

Kami berdua membahas hal ini, tapi mencoba berdamai dengan pikiran kami: yah lebih baik mereka berada di playground ini daripada di rumah nonton TV, komputer atau games. Tokh anak-anak itu menikmatinya. Ya, di sana ada pemuasan untuk kebutuhan dasar mereka: bergerak. Anak-anak dari usia sekitar 2 tahun hingga 10 tahunan, main perosotan, berjalan di jembatan jaring, dan melangkah di swinging boards (papan papan kayu berbungkus plastik.

Yang menarik adalah area swinging boards. Anak-anak harus melewati beberapa bilah-bilah kayu, seperti melangkah di papan duduk ayunan. Kayu itu bisa menjauh dan bergerak sesuai dengan pijakan kita. Di bawah bilah-bilah ada jaring, jadi seharusnya siapa pun yang melangkah di sana akan yakin bahwa mereka tidak akan jatuh. Tapi kemampuan vestibular tidak bekerja dengan panduan kognitif saja kan.

Ada anak perempuan berusia sekitar 6 tahun (perkiraan usia dari tinggi tubuhnya) melewati bilah-bilah itu dengan percaya diri, dan dia melewati area itu beberapa kali.

Tapi ada juga anak yang lebih besar terlihat ragu. Beberapa kali dia mencoba melangkahkan kaki di bilah pertama, tapi tak jadi karena bilah selalu bergerak. Akhirnya dia merangkak. Dua kali dia melewati area itu dengan merangkak.

Dari pemandangan ini terlihat bahwa kemampuan keseimbangan anak dengan cepat berkembang daripada orang dewasa. Anak mencoba dan berhasil, tapi dewasa tidak demikian halnya.

Ya, ada juga orang dewasa yang melewati area itu. Mereka adalah … para pengasuh yang terpaksa uji nyali sekalipun keseimbangan mereka tidak terlalu baik. Di saat mereka harus bergulat dengan keseimbangan diri, di tangan kanan mereka ada anak batita yang mereka gandeng. Pada anak batita, masalahnya sepertinya hanyalah langkah yang pendek, sehingga tidak dapat menjangkau bilah yang menjauh. Namun mereka dapat melangkahkan kaki dengan yakin, sekalipun tubuh agak oleng. Beda dengan sebagian mbak yang terlihat keraguan saat tangan kiri berpegangan erat pada jaring pengaman, tangan kanan mencekal  tangan anak, dan matanya harus berbagi pada bilah yang ada di depannya dan pada anak yang digandengnya.

Para mbak itu menjadi pembimbing batita di saat mereka tertatih-tatih berjalan dari satu papan ke papan lain. Mereka membuat si anak yakin bahwa ada orang dewasa yang menjaga mereka. Ini terlihat dari tarikan tangan yang terkadang menguat dan terkadang mengendur. Menguat bila anak merasa dirinya akan jatuh, atau pengasuh khawatir anak dan dirinya akan jatuh. Mengendur bila keduanya merasa yakin dapat melangkah di bilah itu.

Sebuah bonding pun terbentuk melalui tangan kecil dan tangan besar yang saling berpegangan. Sayang … jalinan itu mengalir bukan antara anak dan bundanya. Hmm … di manakah bunda mereka?

Oh itu dia, di area duduk untuk penunggu …. Beberapa ibu duduk di sana … dengan dua tangan memegang hape (sebagian adalah BB) dan mata menatap layar. Mereka tidak menyaksikan kegembiraan dan pergulatan anak-anak mereka yang tengah bermain; tidak melakukan bonding dengan anak-anak tapi malah menyerahkan kepada orang lain, mereka tidak berbicara dengan diri sendiri dan menghayati tugas kehidupan mereka ….

Mungkin pengembaraan menjadi semakin sulit, karena tantangannya menjadi semakin besar.

Taman plastik dan teknologi komunikasi semakin menjauhkan kita dari diri sendiri.

Kita memang tidak perlu ke Italia, India dan Bali untuk mencari keseimbangan, seperti yang terjadi pada Liz. Tapi untuk memulainya pun kita tidak bisa ….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s