Hari Hana

Wrote by Nurman Priatna

December 27, 2007

Hari senin itu seharusnya biasa-biasa saja. Bangun, shalat subuh,, tidur lagi, bangun lagi, mandi, sarapan, naik ke mobil, menikmati macet, mengantar Chika kantor, menikmati macet lagi lalu ke kantor saya.

Tapi senin, 19 November 2007 memang istimewa. Hari itu sebenarnya hari cuti pertama Chika yang sengaja diambil 2 minggu lebih awal untuk menggeber persiapan fisik, mental spiritualnya menjelang persalinan. Tapi abis subuh Chika ngebangunin saya, katanya udah berkali-kali celananya basah, sedikit-sedikit basahnya dan ia tidak merasa ngompol. Saya masih mengumpulkan nyawa, perasaan semalam baru aja kami ketawa-ketiwi nonton “Get Married”, kmaren sore baru sempat iseng-iseng berbenah belanjaan buat si kecil plus sukses merakit tempat tidur bayi lungsuran dari Uda Eping setelah gagal berkali-kali, paginya kami jalan pagi cukup lama sambil belanja sayur dan sabtunya ikut senam hamil… Sementara Chika menelepon Uni Dheni, kakak tertua kami. “takutnya, air ketuban tuuh… udah sana ke rumah sakit aja!”. Tak lama kami bersiap dan berangkat.

Di luar dugaan saya, kami melakukan semuanya dengan cukup santai, ga pake buru-buru dungdungtangtang kayak adegan film Warkop yang diberi efek fastforward. Di tengah huru hara kemacetan jam 7 pagi pun saya tiba-tiba bisa super sabar, hanya sekali saja klakson saya tekan sepanjang perjalanan Gandul – RS Pondok Indah walaupun berkali-kali diuji manuver spektakuler para angkot, motor dan metro mini (buat seorang Nurman itu prestasi cukup membanggakan). Kami ke RSPI sebenarnya karena lebih dekat, termasuk tempat praktek dr Achmad, dan lebih untuk jaga-jaga karena sebenarnya berencana bersalin di RS Gandaria. Tapi memang jodoh kami ke RSPI, tak lama kami di sana, air ketuban Chika benar-benar pecah. Langsung lah kami ke ruang bersalin sekitar jam 9 pagi itu.

Proses menuju persalinan berjalan cukup panjang. Kami menunggu di ruang observasi mayan lama, mulai pagi hingga sore. Uni Dheni dan suaminya Da Roy, datang, begitu juga Da Eping dan Mama Chika yang terbang dari Palembang pagi itu. Ponakan-ponakan juga datang sepulang sekolah dan menunggu di kamar 3309. Kedatangan mereka bener-bener membuat hati lebih tenang.

Menjelang jam 5 sore, Chika masih dalam kondisi bukaan 2 dengan laju kontraksi lambat. Tentunya masih jauh dari bukaan 10 yang merupakan puncak proses bersalin. Suster memberi tahu bahwa akan dilakukan induksi atau akselerasi kontraksi. “konsekuensinya apa suster?” tanya saya sedikit kuatir. “yaah, si ibu pasti akan lebih sakit pak. Siap-siap ya.”. Saya tertegun menyadari bahwa saya hanya bisa mendoakan dan menyemangati Chika dan si mungil. Sebentar lagi mereka akan menghadapi perjuangan hidup-mati, dan apalah saya sebagai laki-laki?

Bergantian dengan Mama dan Uni Dheni, saya sempat shalat jama’ magrib-isya, makan lalu tidur sebentar di kamar inap. Papa saya datang sekitar jam 9, saya minta restu dan doa beliau sebelum berangkat kembali ke ruang bersalin. Kondisi Chika emang beda ketika saya kembali ke ruang observasi; ia tampak menahan sakit teramat sangat. Saya hanya bisa berdoa agar diberi kekuatan untuk mendampingi istri saya sebaik-baiknya. Karena selain itu, saya bisa apa lagi?

Kami menjalani semua setapak demi setapak. Seingat kami, semuanya berjalan cukup tenang dan lancar (setidaknya buat ukuran orang melahirkan pertama kali). Alhamdulillah Chika tidak perlu banyak akselerasi larutan infus untuk membantu kontraksinya. Namun terasa sekali makin lama makin sakit kontraksinya; tangannya makin keras menggenggam tangan saya. Berbekal tips beberapa teman senior melahirkan, rambut saya udah terpotong pendek agar tidak dijambak-jambak, lalu pake baju berlengan panjang untuk mengantisipasi kemungkinan Chika mencakar-cakar. Lagi-lagi betapa manis dan tabahnya istri saya ini, boro-boro nyakar atau ngejambak, bahkan tak satu pun kata sia-sia keluar dari mulutnya, hanya istighfar dan bacaan-bacaan dzikir. Sementara di salah satu kamar bersalin terdengar suara wanita mengamuk, “dokter ngeheee… dokter ngeheeeeee! Susteeeer! Sakiiit, udah gak kuaaat. Wuaduuuh! *!@#$XX!!!@#!”, dung trak dung trak dung cesss. Agak parno juga sih ngedengernya, Chika sempat sedikit cemas, buru-buru saya bilang “naah, jangan kayak gitu ya sayang… itu contoh buang tenaga sia-sia. Sabar aja, kita butuh tenaga buat Bantu dia keluar nanti… sabar aja, yang ikhlas, ngelahirin pasti sakit. Mau sabar atau marah-marah tetep aja sakit, mendingan sabar doong” sambil ngomong gitu, saya membatin what do u know, man? What do you know?

Banyak kata-kata saya ucap untuk menyemangati Chika: kilas balik betapa banyaknya yang harus kita syukuri setahun terakhir ini juga sedikit dari jaman awal petama ketemu, kondisi Chika yang sangat baik dan si Mungil yang tubuhnya sudah siap dengan berat sekitar 3,35 kilogram, serta semua yang kami rasakan dan jalani selama 9 bulan yang penuh keajaiban itu. Saya bilang bahwa malam itu adalah saat terbaik bagi Chika untuk melahirkan. Semua memang sudah diatur, kami tidak perlu takut, namun berikhtiar ikhlas dan berserah kepada ridha-Nya di babak grand final ini. Padahal saya sebenarnya sangat ketakutan. Takut kehilangan Chika, takut kehilangan bayi kami, takut segala-gala. Berkali-kali saya rasakan pelupuk mata saya bergetar dan jantung saya berdegup hebat tak tega melihat Chika menahan sakit. “ya Allah, aku pasrahkan semua kepada-Mu. Hanya kepada-Mu… Hasbunallah wa ni’mal wakiil, ni’mal maula wa ni’man nashiir… Hanya Engkau sebaik-baiknya pelindung dan penolong”.

Mama menemani kami di ruang observasi tak berapa lama sebelum pindah ke ruang bersalin utama. Chika sempat mohon maaf kepadanya, seolah berpamit, rasanya saya gentar sekali. Setelah itu ia berpaling ke saya, dan saya harus bisa tersenyum sambil serak berkata “yang ikhlas ya sayang… semua bakal baik-baik aja.”. What do you know Man? suara sumbang itu kembali datang. Saya sempat membacakan Ar-Rahman di ruang berisi benda-benda asing yang steril dan dingin itu, “maka nikmat Tuhan-mu yang mana kah yang kamu dustakan?” menghunjam dini hari itu. Chika dan si Mungil masih berjuang. Dua nyawa tersayang kencang teregang.

Dinihari, 20 November 2007. “sudah bukaan 10, siap-siap ya” kata suster menjelang jam 1. dr Achmad Mediana masih dalam perjalanan dari RS Gandaria setelah menangani pasien lain. Tak lama beliau masuk ruangan dan langsung siap membantu persalinan. Fiuuuh… akhirnya. “semua udah siap sayang, bisa ya, yuk kita ketemu si Mungil ini… “. Chika mengumpulkan tenaga ketika suster bilang sudah bisa mengejan. Sekitar 10 kali ia mengejan, saya mulai melihat kepala si bayi mulai muncul. Saya dan Mama terus mengingatkan untuk menarik nafas panjang, lalu mendorong sekuat tenaga. Saking semangatnya, saya malah ikut-ikutan mengejan beberapa kali. Dasar bodoh! Untung akhirnya nyadar dan insyaf. ;P

Kepala si kecil sudah hampir keluar, Chika tampak kecapekan. Sangat cemas, saya terus menyemangati dan berdoa. Jika ini tak juga berhasil, rasanya kami harus bersiap menjalani caesar. Dalam tiga kali dorongan terakhir, Chika tampak benar-benar mengerahkan semua tenaganya. Perlahan kepala mungil itu menyeruak diikuti tubuhnya keluar, bersamaan dengan saya menyebut Allahu Akbar. Si mungil terangkat, tampak putih dan agak abu-abu karena air ketuban, matanya tertutup, saya ingat melihat hidungnya yang mancung dan bibirnya yang merah. “tapi kok dia diem aja?”, jantung saya seperti berhenti berdegup, “ya Allah…”. Lalu pecahlah tangis pertama putri pertama kami di bumi. Berurai air mata saya memeluk Chika yang terkulai lelah. Sebuah tangisan yang tak terdefinisi, lega banget, ga percaya rasanya ujian besar itu udah terlalui. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, lagi-lagi kau hadirkan keajaiban dalam hidup hamba-Mu yang lemah dan hina ini. Subhanallah.

Kami namai dia Rayhana Rayyannisa, klo bahasa planetnya mah “heavenly scent of the woman of heaven”. Chika memanggilnya Hana atau bunga dalam bahasa Jepang. Moga-moga Hana kelak jadi salah satu Bunga Syurga yaa… Moga-moga ayahbunda bisa ngebimbing Hana ke sana. Kini tiap hari bersama si cantik Hana dan bundanya adalah keajaiban. Menatapnya adalah rahmah. Mendengar tangisnya adalah berkah. Kangen terus tiap kali harus pisah. Rupanya seperti ini rasanya jadi ayah? Serba ajaib. Keajaiban kali pertama adzan dan iqamah saya lirihkan di telinganya, atau pertama kali melihat ia menyusu ke bundanya, atau melihat ia sipit-sipit membuka mata, atau merasakan genggaman jemari mungilnya, atau saat melihatnya bagaimana ia begitu menikmati mandi, atau senang diterang mentari pagi, atau saat larut terlelap di sisinya di tiap-tiap penghujung hari.

Keajaiban demi keajaiban.

Hingga suatu nanti; saat maut menjemput. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s