Perjuangan Ibu Spesial

April 10, 2010

By Lita Edia

Thomas Alfa Edison, siapa yang tak mengenalnya. Penemuannya berupa bola lampu pijar listrik pertama di dunia, dirasakan manfaatnya hingga kini. Namun ternyata Thomas Alfa Edison memiliki julukan “si otak udang” dari gurunya. Edison tidak menerima julukan itu dan langsung pulang ke rumahnya.

Keesokan harinya, ibunya harus menerima kenyataan bahwa guru Edison mengatakan bahwa Edison tidak bisa melanjutkan sekolahnya. Sang ibu hanya terdiam, kemudian ia memutuskan untuk mengajari sendiri anaknya di rumah. Tentu dalam perjalanan mendidik Edison, bukanlah hal yang mudah. Tidak bisa seperti membalikkan telapak tangan, mengajari anak yang memiliki julukani “si otak udang”. Hanya ibu yang spesial yang bisa melakukannya.

Kisah-kisah ibu spesial seperti ibu Thomas Alfa Edison, sering kita baca, baik dalam kisah biografi di buku ataupun internet. Tetapi kali ini saya berkesempatan untuk bertemu dengan ibu spesial, langsung bertatap muka, dan mendengar perjuangan mereka. Mereka adalah Ibu Moechiam Herniwatty, ibu dari Osha (Natrio Catra Yoshoha), dan ibu Rosa, ibu dari Lukman Ibrahim Salim.

Osha, adalah mahasiswa tingkat II UGM jurusan Arkeologi. Ia di masa kecilnya adalah anak spesial, dengan diagnosa autis. Bu Herni bertutur, bahwa pada dasarnya ia bersyukur bahwa dua puluh tahun yang lalu tempat terapi belumlah sebanyak saat ini. Kenapa bersyukur? Karena ia menyayangkan sikap para ibu anak spesial sekarang, yang begitu mengandalkan tempat terapi. Dititipkannya anak spesial mereka dalam waktu yang terbatas di tempat terapi, kemudian tidak banyak yang dilakukannya di rumah. Padahal menurut bu Herni, hal itu hanya akan membuat perkembangan anak tidak optimal. Karena pada dasarnya ibulah terapis terbaik bagi anak-anaknya, selain waktu yang lebih banyak, ibu juga mengajari anak dengan kasih sayang yang lebih. Ia juga menyayangkan sikap para ibu, yang sering berganti-ganti tempat terapi, mungkin karena banyaknya pilihan tempat terapi saat ini. Hal ini menurut Bu Herni janya akan menghabiskan waktu anak untuk berkembang. Ia juga bersyukur karena informasi belum sebanyak sekarang, membuatnya tidak tahu terlalu banyak mengenai autis, sehingga ia banyak mencari tahu tentang apakah autis itu. Ia berjuang untuk membuat perkembangan Osha optimal sesuai dengan kondisi spesialnya.

Saya sungguh takjub mendengar perjuangan Ibu Herni ini. Osha disekolahkan di sekolah biasa, dari TK sampai SMA, di SD Al Azhar. Membayangkan bagaimana pelajaran yang Osha terima, dan bagaimana sang ibu harus berjuang agar Osha dapat mengikuti dengan baik pelajaran tersebut. Karena dokter sudah menjelaskan bahwa begitu banyak kerusakan pada bagian otak yang terjadi pada Osha.

Osha, yang Autis, sulit membayangkan makna peribahasa “bagai membeli kucing dalam karung”. Karena ia berpikir konkrit. Kucing adalah kucing, dan Osha bertanya “kenapa kucing yang dibeli bu?”

Ibu Herni terus berusaha, membuat Osha memahami pelajaran matematika. Ia bertutur,” sudah berapa kilo apel yang saya habiskan untuk menjelaskan mengenai pecahan pada Osha”. Lalu bagaimana ia mengajak Osha ke jalan batas kota, mengajak Osha melihat tanda km (kilometer), untuk membuat Osha paham mengenai ukuran panjang. Subhanallah.

Ibu Herni juga memasukkan Osha ke dalam berbagai kegiatan,bukan untuk memuaskan ambisinya, tetapi hanya untuk mengetahui potensi yang dimiliki Osha, serta untuk melatih kemampuan sosialisasiOsha. Selain itu ia juga menelusuri potensi dari proses belajar Osha di sekolah. Memang untuk pelajaran matematika, nilai Osha tidak terlalu baik, tapi untuk pelajaran sejarah ia selalu mendapat nilai 10. Dalam pengamatan bu Herni, Osha bagaikan scanner saat membaca, daya ingatnya begitu kuat. Potensi ini terus digali, hingga kini Osha duduk sebagai Mahasiswa.

Saya yakin cerita perjuangan ini jauh lebih banyak, daripada yang sudah dituturkan. Dua puluh tahun mendidik Osha tentu tidak cukup diceritakan dalam waktu yang singkat.

Perjuangan seorang ibu spesial, juga tercermin dari kisah Ibu Rosa, ibu dari Lukman, yang didiagnosa autis ringan. Lukman tumbuh bahagia dengan penerimaan yang hangat dari Ayahibunya. Ibu Rosa sampai memutuskan untuk melepas karirnya guna mendampingi tumbuh kembang Lukman. Hal yang pastinya tidak mudah dilakukan, di saat berkembang keyakinan bahwa tidak cukup seorang Ayah mencari nafkah sendiri.

Ibu Rosa sungguh telaten mendokumentasikan perkembangan Ananda Lukman. Hari demi hari. Langkah demi langkah, perkembangan yang terjadi. Semua didokumentasikan dengan baik. Luar biasa. Dokumenatasi dan catatan-catatan perkembangan sangat berguna, tidak sekedar menjadi kenangan, tetapi juga sebagai bentuk evaluasi, dan sebagai sarana untuk menentukan stimulasi yang tepat bagi Ananda Lukman.

Saya menahan air mata mendengar perjuangan tersebut. Sungguh luar biasa.

Pada dasarnya setiap anak adalah spesial. Ada saja PR yang perlu dikerjakan oleh seorang Ayah dan Ibu untuk menemukan potensi anak spesialnya.

Saya mengenal seorang anak yang terus berkeliling di luar kelas. Mulutnya komat kamit dan matanya berbinar-binar menunjukkan begitu banyak ide di kepalanya. Ia begitu kreatif mencipta. Ia begitu senang bereksplorasi. Tapi tidak di dalam kelasnya. Anak ini sangat spesial, saya membayangkan ialah Thomas Alfa Edison masa depan. Entah penemuan apa yang akan ia capai di masa depan. Sesuatu yang hebat.

Namun sayang kehebatan ini tidaklah diamati sebagai sesuatu yang lazim. Kita lebih senang pada anak yang duduk manis, dan diam saat guru menerangkan, lalu tuntas menyelesaikan soal yang diberikan. Masih sulit bagi kita bersikap seperti Ibu Herni dan Ibu Rosa, yang selalu berusaha menggali terus potensi anaknya.

Tidak banyak dari kita yang mau habis-habisan mengajarkan dengan cara konkrit untuk menjelaskan hal yang abstrak pada anak. Padahal, walau anak kita tidak autis, mereka sama-sama membutuhkan pembelajaran konkrit ini. Karena tahap perkembangan kognitif anak, menurut Piaget adalah cara berpikir konkrit. Berapa banyak dari kita yang mau menghabiskan apel, untuk menjelaskan pecahan pada anak. Yang kita lakukan hanya menyodorkan kertas-kertas soal pada anak-anak kita. Memberi contoh bagaimana cara mengerjakannya, lalu melihat hasil kerja anak-anak kita. Lebih ironis, cara belajar seperti ini sudah dialami sejak anak-anak kita di usia pra sekolah.

Berapa banyak dari kita yang mau mengapresiasi setiap potensi anak, walau dalam pandangan mata kita orang dewasa, potensi tersebut tampak kecil. Seberapa jeli diri kita mengamati hal tersebut. Berapa banyak dari kita yang mengandalkan sekolah untuk menemukan potensi tersebut. Padahal kitalah ibunya, yang lebih mengenal anak-anak kita.

Setiap anak adalah spesial, dan mereka membutuhkan ibu yang spesial. Semoga kita selalu dimudahkan untuk menjadi ibu spesial bagi anak-anak kita

– Catatan ini dibuat berdasarkan acara “Aku Sahabat Anak Spesial.” yang diselenggarakan Sekolah Tetum. Terima kasih untuk Sekolah Tetum, untuk acara spesial ini, sungguh saya salut pada Tetum sebagai sekolah spesial. Saya takjub atas ekspresi anak-anak Tetum yang luar biasa, cerminan pola asuh luar biasa dari orangtua dan sekolahnya yang spesial –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s