Untuk Bunda Ci yang Putranya tidak Lulus Tes Masuk SD

March 19, 2010

By Endah W. Soekarsono

Bunda Ci, saya baru saja membaca suratmu tentang keputusanmu memasukkan putramu ke SD kami. Saya terharu membacanya, membayangkan diri saya di posisimu, dalam kegundahan mempersiapkan masa depan Le. Hati kecilmu memilih kami, sekalipun keluargamu mempengaruhimu agar mencari sekolah beragama yang bonafid.
Kau telah mengirim Le ke “medan perang”, bertempur dengan soal-soal tes masuk SD. Kau menaruh harapan pada dua sekolah, dan kau mendapat kekecewaan dua kali pula: putramu tak lulus. Saudara-saudaramu pun bereaksi lagi: akan mengajari si Le membaca dan menulis dalam waktu dua bulan. Tapi kau sudah lelah untuk mencoba lagi, dan akhirnya kau menulis surat kepada saya.
Saya dapat merasakan kegundahanmu, membayangkan dirimu dalam kesendirian dan tidak tahu bagaimana harus mengambil keputusan.
Pernahkah kau bertanya kepada Le, sekolah mana yang disukainya setelah kau ajak dia berkeliling ke sekolah-sekolah? Sekalipun yang mengambil keputusan adalah orang tuanya, pertimbangan Le perlu didengar juga.
Saya pun pernah jatuh hati pada sekolah yang kau pilih. Ketahuilah, Bunda Ci, dulu (15 tahun lalu) saya ingin sekali memasukkan anak sulung saya ke sana. Saya tertarik pada sekolah itu karena di sana ada tokoh-tokoh pendidikan berlevel nasional. Tapi saya terlambat dua hari untuk membeli formulir, dan akhirnya berbelok ke sekolah lain.
Sekarang, saya mensyukuri hal itu. Sekolah itu ternyata tidak mengenal individual differences. Baru-baru ini seorang teman saya bercerita bahwa keponakannya yang bersekolah di sana diminta pindah ke sekolah lain karena tidak dapat mengikuti kegiatan. Dari ceritanya, saya menduga bahwa si anak tergolong special needs. Saya terperangarah. Sekolah yang begitu megah dengan tokoh pendidikan berlevel nasional ternyata telah menihilkan perkembangan seorang anak yang perlu perhatian khusus, dan tidak melakukan antisipasi pula. Jadi apa artinya tes masuk SD?
Beruntunglah bila Le tidak lulus dalam tes. Sekolah itu sungguh tidak beruntung, karena tidak memiliki putramu yang begitu santun. Ya, kami terkesan ketika semester lalu Le meminta maaf karena tidak lagi mengikuti suatu kegiatan ekstrakurikuler. Suatu hal yang tak perlu ia lakukan, tapi ia lakukan dengan spontan.
Kesantunan itu akan kami rawat di sekolah kami kelak. Bersama teman-temannya, ia akan berada di lingkungan yang membuatnya berjalan dengan tenang; berbicara dengan suara secukupnya; berbagi; menjaga alat-alat belajar (termasuk mengambil dan mengembalikannya); menggunakan bahasa yang baik; menghargai orang lain; dan menjaga kebersihan. Dia juga akan disiplin karena lingkungannya membuat dia disiplin (membersihkan kotoran dengan sapu kecil, membuang sampah, mengembalikan barang ke tempatnya); dia dan teman-temannya berada di kelas yang hening bukan karena tidak boleh berisik namun karena keasyikan bekerja; ia akan memotivasi diri sendiri dengan mengerjakan tugas pilihannya, bukan dimotivasi guru; ia mengoreksi sendiri pekerjaannya, bukan gurunya; ia mempunyai kebebasan bergerak di kelas, tidak duduk di tempat tertentu dalam waktu tertentu; ia bebas melakukan penemuan, bukan diarahkan guru.
Ya, masih banyak lagi. Ia tak akan merepotkanmu dengan pekerjaan rumah, tapi akan menyerap kehangatan dan cinta darimu dan ayahnya. Mendongeng, makan bersama, mengobrol, bersepeda, bermain dan melakukan segala sesuatu atas pilihannya akan jauh lebih berarti daripada memaksanya duduk mengerjakan pekerjaan rumah.
Di sekolah ia tak akan dibandingkan dengan temannya dalam sistem ranking, tapi akan dibandingkan antara dirinya yang sekarang dan sebelumnya. Ia akan bertindak karena motivasi internalnya, bukan demi survival mempertahankan hidup yang penuh persaingan.
Bunda Ci, kemarin saya mengunjungi suatu sekolah internasional, dengan metode seperti yang saya impikan; sebuah sekolah yang memberikan kebebasan berpikir kepada anak, berkreasi, dan peka terhadap lingkungan. Saya melihat mereka berlatih mempresentasikan pelajaran yang mereka dapat. Saat mereka presentasi, mereka duduk menunggu giliran, dan bertepuk tangan ketika teman mereka selesai. Mereka menyapu, membersihkan debu, mengelap meja basah. Mereka memilih pelajaran yang mereka sukai, mengambil buku dan terdiam bekerja. Di akhir sesi, mereka menunjukkan kepada teman-teman mereka apa yang telah mereka lakukan. Oh ya, ketika makan bersama, seseorang menawarkan pepaya kepada saya.
Anak-anak ini berada dalam lingkungan yang tidak menggegas kognitif mereka, dan gerak tubuh mereka menunjukkan bahwa mereka punya kematangan dalam aspek sosial emosi, motorik dan kecerdasan.
Di lingkungan yang dimasuki Le kelak, dia akan berada dalam situasi seperti itu.
Selamat datang dalam ketetapan hati, Bunda Ci. Rasakanlah senyum Paulo Freire, Montessori, Piaget dan Helen Keller karena kau telah menjalin hubungan batin dengan karya-karya mereka.
Endah Soekarsono – Sekolah Tetum
(Tulisan ini adalah fiktif sekalipun mengambil inspirasi dari pengalaman nyata – Terima kasih untuk Satori, Popay & Fundi Montessori)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s