Untuk Bunda Ci yang Putranya tidak Lulus Tes Masuk SD

March 19, 2010

By Endah W. Soekarsono

Bunda Ci, saya baru saja membaca suratmu tentang keputusanmu memasukkan putramu ke SD kami. Saya terharu membacanya, membayangkan diri saya di posisimu, dalam kegundahan mempersiapkan masa depan Le. Hati kecilmu memilih kami, sekalipun keluargamu mempengaruhimu agar mencari sekolah beragama yang bonafid.
Kau telah mengirim Le ke “medan perang”, bertempur dengan soal-soal tes masuk SD. Kau menaruh harapan pada dua sekolah, dan kau mendapat kekecewaan dua kali pula: putramu tak lulus. Saudara-saudaramu pun bereaksi lagi: akan mengajari si Le membaca dan menulis dalam waktu dua bulan. Tapi kau sudah lelah untuk mencoba lagi, dan akhirnya kau menulis surat kepada saya.
Saya dapat merasakan kegundahanmu, membayangkan dirimu dalam kesendirian dan tidak tahu bagaimana harus mengambil keputusan.

Children Learn What They Live

by Dorothy Law Nolte

If children live with criticism, they learn to condemn.

If children live with hostility, they learn to fight.

If children live with fear, they learn to be apprehensive.

If children live with pity, they learn to feel sorry for themselves.

If children live with ridicule, they learn to feel shy.

If children live with jealousy, they learn to feel envy.

If children live with shame, they learn to feel guilty.

If children live with encouragement, they learn confidence.

If children live with tolerance, they learn patience.

If children live with praise, they learn appreciation.

If children live with acceptance, they learn to love.

If children live with approval, they learn to like themselves.

If children live with recognition, they learn it is good to have a goal.

If children live with sharing, they learn generosity.

If children live with honesty, they learn truthfulness.

If children live with fairness, they learn justice.

If children live with kindness and consideration, they learn respect.

If children live with security, they learn to have faith in themselves and in those about them.

If children live with friendliness, they learn the world is a nice place in which to live.

Rationale Use of Tests and Therapy

Tulisan ini saya ambil dari Notes Facebook Ibu Alzena N. Masykouri, seorang psikolog.

February 14, 2010

Tadi sempat ubek-ubek file, cari bahasan tentang RUTT ini. Seingatku, aku pernah menulis untuk Majalah Inspired Kids, sebelum tahun 2008. Lama banget yak,, sayang, file-nya belum ketemu.

Sebenarnya, senjatanya Psikolog itu bukan tes lho. Ada dua senjata utama psikolog : anamnesa dan observasi. Dengan dua keterampilan tersebut, Psikolog bisa memberikan ‘working diagnosis’ yang akan digunakan untuk menegakkan diagnosis.

Jadi kapan seorang anak perlu di tes psikologi? jawabnya adalah JIKA PERLU. Ada kondisi-kondisi tertentu yang mengharuskan seorang psikolog untuk melakukan pengetesan kecerdasan (tes IQ) terhadap seorang anak. Pertama, jika ada pihak lain yang memerlukan hasil pengetesan. Biasanya, ini terjadi bila anak harus menjalani evaluasi psikologis sebagai persyaratan masuk ke sekolah atau sebagai informasi bagi pihak guru untuk menganalisis dan mengatasi permasalahan yang terjadi pada anak di sekolah. Kedua, jika ternyata kasus yang dihadapi seorang anak berkaitan dengan aspek kecerdasannya. Bila tidak diperlukan angka kecerdasannya, maka tidak perlu suatu tes. Continue reading