Mencari Sekolah Untuk Totto-Chan

By Endah W. Soekarsono

2006

Pertama kali memasukkan anak ke sekolah adalah pengalaman luar biasa bagi orang tua….

Sekolah A gurunya ramah tapi halamannya sempit, sekolah B fasilitasnya bagus tapi lokasinya dekat menara tegangan tinggi, sekolah C dekat rumah, tapi belum berpengalaman….

Seperti petugas riset saya datangi TK-TK di dekat rumah saya. Di kepala saya sudah ada daftar pertanyaan, serta ceklis untuk mengobservasi fasilitas sekolah dan guru. Tentu saja saya juga siap untuk mengendus apakah di sekolah itu ada kesan menyenangkan seperti sekolah Tomoe di buku Totto-Chan. Saya harus punya data lengkap untuk bos saya… tak lain diri saya sendiri, seorang ibu yang pertama kali akan menyekolahkan anaknya.

Itu terjadi bertahun-tahun silam. Kini, ketika terlibat dalam pengelolaan lembaga prasekolah, saya seperti melihat diri saya lagi setiap kali bertemu dengan ayah dan ibu, yang mencarikan sekolah untuk Totto-Chan mereka. Saya bisa merasakan kegembiraan, kecemasan sekaligus kebanggaan orang tua saat balita mereka memasuki dunia sekolah. Oh ya, saya juga bisa “membaca” template pertanyaan di benak mereka; sekalipun tidak mereka ungkapkan, tetapi bisa terlihat dari sorot mata dan bahasa tubuh mereka.

Sekolah yang baik seperti apa?

Sekalipun sudah berkeliling ke berbagai sekolah, terkadang orang tua tidak mendapatkan sekolah ideal yang mereka cari. Ya, seperti pengalaman saya dulu ketika “riset”: sekolah A gurunya ramah tapi halamannya sempit, sekolah B fasilitasnya bagus tapi sayang berlokasi di dekat menara tegangan tinggi, sekolah C dekat rumah, tapi baru dibuka tahun ini….

Ketika itu, setelah lelah berkeliling, akhirnya saya putuskan untuk meniru ibunda Totto-Chan: mencari sekolah yang bisa membuat anak saya bahagia. Pilihan saya jatuh pada suatu sekolah yang ketika saya dan anak saya datang, para guru langsung berdiri menyambut kami, serta menyapa anak saya dengan ramah. Sekalipun tidak berani berharap para guru itu akan seideal Pak Kobayashi, guru Totto-Chan, saya merasakan setidaknya di sekolah itu dikembangkan iklim bahwa anak adalah subjek.

Bukankah kebahagiaan anak pula yang dulu diimpikan oleh “Bapak Taman Kanak-Kanak”, Friedrich Froebel, ketika menciptakan “kindergarten” di tahun 1840-an? Kindergarten berarti taman untuk anak-anak, dan, menurut Froebel, anak bagaikan tanaman yang sedang tumbuh, sehingga perlu dirawat dengan baik.

Masalahnya, sekarang banyak TK yang sudah tidak menjadi taman sejati, tetapi semacam bimbel (bimbingan belajar). Sekolah-sekolah “bimbel” itu menitikberatkan pada prestasi, bukan kenyamanan anak. Ada sekolah yang memberi PR, ada pula yang mengirim anak pada lomba yang diikuti ribuan anak. Dalam kasus seperti ini, ada yang terlupakan: bahwa dalam perkembangan anak, yang penting adalah proses yang dia jalani, bukan hasilnya. Ketika anak mengerjakan PR atau kelelahan mengikuti prosesi lomba, adakah proses bereksperimen, menjelajah, menemukan, mencoba, menyusun, berbicara dan mendengar? Proses-proses seperti itu, menurut John W. Santrock, dalam buku Life-Span Development, adalah yang krusial dalam tumbuh kembang anak.

Sekolah kami tidak mempunyai deretan piala yang didapat dari lomba di luar sekolah, tetapi menyediakan penghargaan untuk setiap anak. Penghargaan itu berupa kesempatan menjadi child of the month setiap bulan. Sebagai child of the month, seorang anak akan mendapat kesempatan memimpin senam dan doa di kelas, membantu guru, bercerita tentang diri dan kelas di depan teman-teman, membawa mainan atau hewan kesayangan, serta memajang display karya bersama bunda dan ayah di depan kelas. Cara menumbuhkan rasa percaya diri anak yang alamiah, bukan?

Apa yang harus disiapkan sebelum anak masuk sekolah?

Jika sebelumnya anak hanya mengenal ayah, ibu, kakek, nenek, dan mbak, maka ketika sekolah ia akan bertemu dengan orang-orang di luar rumah. Karena itu, anak perlu dipersiapkan dengan keadaan di luar rumahnya sebelum sekolah. Membawa anak mengunjungi calon sekolahnya adalah satu cara agar anak tahu bahwa sekolahnya adalah tempat yang menyenangkan, bahwa dia akan mempunyai guru yang menyayanginya dan banyak teman bermain.

Dalam buku Human Development karangan Papalia, dkk, disebutkan bahwa anak-anak yang menunjukkan perilaku prososial lebih disukai lingkungannya. Sebaliknya, anak-anak yang tidak menunjukkan perilaku prososial kerap mengalami konflik dengan guru, kurang partisipatif dan kurang berprestasi.

Di samping keterampilan sosial, keterampilan motorik dan kognitif pun perlu dipersiapkan sejak anak belum masuk sekolah. Apa yang kita lakukan kepada anak sejak bayi sesungguhnya merupakan persiapan baginya untuk masuk ke dunia sekolah. Ketika dia baru beberapa bulan, misalnya, kita melatih motorik halusnya dengan menaruh mainan di telapak tangannya untuk dia genggam; kita menstimulasi motorik kasarnya dengan memberinya semangat ketika dia merangkak; dan kita menstimulasi kognitifnya dengan memperkenalkannya pada warna.

Sayangnya ketika si anak lancar berjalan, semangat kita untuk menstimulasinya cenderung tidak sebesar sebelumnya. Kalau dia mau makan, kita menyuapinya; agar dia tenang, kita mengambilkan mainannya; usai dia mandi kita ambilkan bajunya. Apalagi kalau kita punya baby sitter atau pembantu yang terampil, kita cenderung membiarkan si kecil jadi raja yang dilayani 24 jam.

Akibatnya, ketika mulai sekolah dia mungkin akan kesulitan melakukan berbagai hal, seperti menutup tas, membuka tempat makan, atau memasukkan kaki ke dalam sepatu. Keterampilan semacam itu tidak bisa diperoleh secara instan di sekolah, tetapi melalui pembiasaan di rumah.

Berproses, bukan menguasai

Kobayashi, kepala sekolah Tomoe Gakuen tempat Totto-Chan bersekolah, tidak mengajarkan murid-muridnya menguasai sesuatu, tetapi berproses dengan sesuatu itu.

Di salah satu bagian, Tetsuko Kuroyanagi, penulis Totto-Chan, bercerita bagaimana Pak Guru mengajarkan murid-muridnya tentang makanan bergizi dengan meminta mereka membawa bekal “sesuatu dari laut” atau “sesuatu dari darat”. Totto tidak tahu apakah denbu yang dibawanya berasal dari darat atau laut. Maka, Pak Guru pun bercerita bahwa denbu berasal dari laut, karena dibuat dari ikan yang tulangnya dibuang, dibakar sebentar, dan dipotong-potong agar bentuknya bagus.

Dengan metode pendidikan yang menghargai alam dan bertujuan membiarkan karakter murid tumbuh natural, murid-murid Kobayashi mengalami proses yang luar biasa dan akhirnya menjadi sesuatu. Salah satunya, Tetsuko Kuroyanagi, si tokoh Totto-Chan itu sendiri, yang kemudian belajar opera di Tokyo College of Music, menjadi sosok TV Jepang yang terkenal, dan aktris dengan sederet penghargaan. Mungkin dia tidak akan mencapai sukses seperti itu bila dia tidak bersekolah di Tomoe.

Meskipun sekolah Tomoe beroperasi pada masa Perang Dunia II, di Jepang sistem pendidikan di tingkat dasar yang tidak mengedepankan akademis masih berlaku hingga kini. Dalam suatu penelitian yang diungkap buku Life Span Development ditemukan bahwa kebanyakan TK di Jepang tidak memberi penekanan pada instruksi akademis. Hanya dua persen yang menjawab bahwa tujuan TK adalah “memberi anak awal yang baik secara akademis”. Jadi untuk menyiapkan anak agak sukses di sekolah dasar, sekolah-sekolah di Jepang tidak mengajarkan membaca, menulis, dan matematika, tetapi justru keterampilan seperti konsentrasi dan bersosialisasi.

Sayangnya, di Indonesia keterampilan akademis dianggap penting. Lihat saja, salah satu tes masuk SD adalah kemampuan membaca dan menulis. Akibatnya TK-TK pun mengajarkan murid untuk baca tulis. Dan orang tua menjadi resah bila anak mereka belum bisa membaca dan menulis pada saat akan masuk SD.

Santrock mengemukakan bahwa praktik yang tepat dalam pendidikan anak adalah yang didasarkan pada perkembangan anak dalam rentang usia tertentu (age appropriateness), di samping keunikan anak itu sendiri (individual differences). Dalam hal perkembangan bahasa, praktik yang tepat adalah memberi kesempatan pada anak untuk melihat bahwa membaca dan menulis itu bermanfaat bagi mereka. Caranya, misalnya, dengan mendengarkan dan membacakan cerita dan puisi; field trip; main drama; berbicara; dan bereksperimen dengan menulis. Santrock menambahkan bahwa praktik yang tidak tepat adalah bila membaca dan menulis diajarkan dengan mengenalkan huruf, membaca alfabet, mewarnai di dalam pola dan membuat formasi huruf dalam garis.

Perlukah kelompok bermain?

Ketika anak sulung saya berumur dua tahun, saya ingin memasukkannya ke sebuah kelompok bermain dekat rumah. Saya tidak jadi mendaftar karena kelompok bermain itu ternyata mengarah ke agama tertentu. Seandainya saya jadi menyekolahkannya, mungkin saya akan menyesal karena terus terang motivasi saya saat itu adalah agar dia tak mengganggu adiknya yang baru lahir.

Beberapa tahun kemudian, saya memang merasa tertohok saat membaca sebuah buku yang mengutip perkataan filsuf Swiss, Jean-Jacques Rousseau. Begini katanya: Anda terganggu si kecil tidak melakukan apa-apa. Ya ampun! Bukankah dia sedang bergembira? Tidakkah dia hanya melompat, main, lari sepanjang hari? Tak akan pernah dalam hidupnya dia akan sesibuk usia itu.

Ya, itu saya banget, yang merasa terganggu pada kesibukan anak sulung saya yang senang menyiprat-nyipratkan air mandi adik bayinya, ataupun naik-naik ke punggung kursi di saat saya menyusui. Sesungguhnya yang bermasalah adalah saya, bukan anak saya.

Ketika anak saya yang bungsu berusia tiga tahun, saya pun memasukkannya ke kelompok bermain. Kali ini, karena saya melihat ada banyak segi positif dengan memasukkan anak ke sana. Namun setelah empat bulan, dia mogok. Alasannya sepele, saya memakaikan sepatu terbalik.

Karena saya sudah tahu program-program yang diberikan di sekolah itu, saya buat program sendiri di rumah. Saya pun menggambar di batu bersama anak saya, bermain lompat kodok, dan berbagai aktivitas lain.

Menurut ahli perkembangan anak David Elkind dalam buku Life Span Development, isunya memang bukan soal penting atau tidaknya kelompok bermain, tetapi apakah pendidikan di rumah dapat menggantikan program yang ditawarkan di kelompok bermain. Jika orang tua mempunyai kemampuan dan sumber daya untuk memberikan berbagai pengalaman belajar dan kesempatan bersosialisasi kepada anak, serta kesempatan bermain, maka home schooling dapat memberi pendidikan yang cukup bagi anak. Tetapi jika orang tua tidak mempunyai komitmen, waktu, energi dan sumber yang setara dengan program yang diberikan kelompok bermain, kelompok bermain adalah alternatif yang baik.

Belajar dari pengalaman sendiri, dan melihat kegelisahan para orang tua di sekeliling saya, saya pikir ada baiknya kita selalu membuka Totto-Chan, buku kecil sederhana namun sangat inspiratif bagi orang tua maupun pekerja pendidikan.

Endah Soekarsono – Sekolah Tetum
Tulisan ini sudah dimuat di majalah Reader’s Digest Indonesia, edisi Maret 2006. Tulisan mengandung hak cipta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s