Sedang Apa Anda Saad Ini?

Wrote by Endah W. Soekarsono

May 5, 2009

Kalimat di atas ditulis oleh seorang anak bernama Reza di status Facebook-nya. Tulisan itu merupakan terjemahan dari ”What are you doing right now?”, tagline pada Facebook dalam desain yang lama.

Demam Facebook membuat Reza yang masih kelas 1 SD ingin berfesbuk juga, meski kemampuan baca tulisnya masih terbatas. Reza rajin mengganti statusnya, dan memberi komentar pada foto.

Reza adalah bagian dari masyarakat literasi: ia sadar bahwa tulisan adalah bagian dari kehidupan.

Ya, bagi anak yang besar di masyarakat literasi (literate society), penguasaan terhadap literasi merupakan tugas perkembangan yang penting. Dengan menguasai keterampilan literasi (yang mencakup kemampuan membaca dan menulis), ia dapat mengenal konsep-konsep dalam kehidupannya. Nama jalan, alamat rumah, judul buku, judul film, nama toko buku, nama koran, merek susu, iklan makanan, dan lain-lain, dapat dipahaminya dengan membaca tulisan yang hadir di sekitarnya.

Begitu pentingnya literasi dalam kehidupan masyarakat modern, sehingga kerap menjadi pertanyaan, kapan dimulai dan bagaimana cara keterampilan membaca dan menulis diajarkan kepada anak.

Pemerolehan Literasi dan Proses Neurologi

Secara alami manusia mengembangkan keterampilan berbahasa dengan mendengarkan dan kemudian berbicara. Dalam psikolinguistik dibahas bahwa anak melakukan komprehensi (pemahaman) terlebih dahulu baru kemudian memproduksinya. Ketika bayi, kita mendengar suara ibu kita, kemudian kita mengeluarkan bahasa bayi. Proses ini berkelanjutan terus sejalan dengan kematangan organ tubuh dan kognitif kita. Akhirnya ketika kita dewasa, mendengarkan dan berbicara menjadi proses pertukaran komunikasi yang bermakna dalam interaksi antarmanusia.

Dalam perkembangan peradaban manusa, keterampilan mendengar dan berbicara saja tidak cukup. Membaca dan menulis menjadi kebutuhan agar kita dapat berinteraksi dengan sekeliling. Contohnya saja Reza. Dia menikmati kemampuan baca tulisnya yang masih sederhana dengan melakukan chat dengan om-omnya atau siapa saja yang dilihatnya sedang online. Dia bertukar komentar dengan papanya yang berada di kantor. Dia menulis nonsense words untuk judul foto-fotonya.

Tidak semudah itu proses yang dijalani Reza. Saat melakukan chat, lawan bicaranya harus bersabar menunggu tulisannya muncul: Reza masih harus mengeja setiap kata yang ditulisnya.

Bagi Reza, kegiatan baca tulis tidaklah semudah bila bahasa oral. Saat mendapat input dalam bentuk lisan, maka bunyi-bunyi ditanggapi di korteks pendengaran. Setelah diterima, maka bunyi bahasa dikirim ke area Wernicke untuk diinterpretasikan. Setelah dipahami isinya, maka bunyi itu bisa disimpan di memori, bila perlu tanggapan secara verbal, maka dikirim ke area Broca.

Bila bekerja dengan tulisan, maka input diterima oleh korteks visual primer, karena tulisan diterima sebagai gambar. Setelah itu tulisan dikirim ke area Wernicke untuk dipahami. Bila perlu tanggapan verbal, maka input itu dikirim ke area Broca juga.

Begitu kompleksnya proses berbahasa di dalam otak, sehingga kita tidak dapat memaksakan seorang anak untuk dapat langsung membaca dan menulis tanpa memahami tumbuh kembangnya.

Literasi Dini
Di atas sudah disebutkan bahwa input tulisan dikirim ke area Wernicke untuk diberi makna. Jika area Wernicke sudah siap, maka seorang anak akan bahwa tulisan mempunyai makna. Memahami bahwa tulisan bermakna adalah pencapaian besar dalam literasi dini (emergent literacy). Literasi dini mencakup keterampilan, pengetahuan dan sikap yang terbangun sebelum anak belajar membaca dan menulis.

Seorang anak sudah menunjukkan “kematangan” untuk membaca ketika:

• Menunjukkan kemampuan bahasa oral dengan mengeksplorasi maknanya, memperhatikan strukturnya dan melakukan uji coba dengan bunyi bahasa. Misalnya, anak sudah lancar berkomunikasi dan mengucapkan kalimat lengkap untuk mengungkapkan keinginannya. Ketika minta diambilkan minum, ia mengatakan, “Mama, aku ingin minum” bukan hanya “Minum”. Ia juga dapat bermain-main dengan bunyi bahasa. Misalnya, tahu rima kata dari “roda” adalah “kuda”. Atau kata-kata yang berawalan dengan “di” adalah “diri” dan “dinosaurus”.

• Mengetahui makna dari simbol-simbol di sekitarnya. Misalnya, tanda-tanda lalu lintas, label makanan, billboard restoran siap saji favoritnya.

• Berupaya memproduksi simbol atau huruf. Bunda Hegar bercerita bahwa begitu Hegar belajar menulis nama sendiri di sekolah, dia terus menulis di rumah. Dia mencontoh tulisan di buku-buku, bahkan buku-buku resep pun penuh dengan tulisannya.

• Melakukan perilaku literasi orang dewasa, seperti pura-pura membaca atau menulis daftar belanja. Gerrard baru berumur 3,5 tahun tapi dia kerap “membaca” buku-buku yang habis dibacakan oleh gurunya.

• Mengulangi proses sampai membaik, misalnya menyanyi dengan gerakannya.

• Mulai mengaitkan tulisan dengan bunyi. Misalnya “Y-a” dibaca “ya”.
Agar siap membaca, maka seorang anak harus terlebih dahulu mengembangkan kemampuan membedakan bentuk-bentuk geometris, mempunyai kemampuan spasial (dapat membedakan atas bawah dan kiri kanan), dan keteraturan bentuk.

Kegiatan meronce dalam berbagai pola, menyimpan benda pada tempatnya, menyusun sandal, memakai sepatu mulai dari kaki kanan dan melepas mulai dari kaki kiri, pembiasaan yang rutin, dapat membantuk anak memahami keteraturan. Dalam membaca, keteraturan itu akan selalu ditemuinya karena sifat bahasa adalah sistematis. Dalam bahasa ada suku kata dalam bentuk pola (entah itu konsonan-vokal, misalnya “ba” dan “da” maupun vokal-konsonan, misalnya “at” dan “is”), ada struktur kalimat (subjek-predikat-objek, dalam “Aku makan pisang”), ada kata-kata yang berawalan sama (“Iis” dan “ikan”) maupun berakhiran sama (“pantai” dan santai”).

Kegiatan matematika dalam kehidupan sehari-hari juga dapat membantu anak untuk siap membaca. Pemahaman bahwa bola itu bulat, pintu berbentuk kotak, mainan tertentu berbentuk segitiga akan membantu anak mengembangkan pemahaman bentuk. Kelak ketika belajar membaca, ia akan dengan mudah melakukan asosiasi bahwa bulat identik dengan O, segitiga dengan A, dan kotak dengan H.
Kemampuan melakukan asosiasi ini berlangsung sejak seorang anak masih bayi. Ia melihat ibunya memakai daster atau bercelana panjang. Sekalipun berpenampilan berbeda, ia tetap tahu bahwa perempuan itu adalah ibunya.

Logika spasial juga penting karena kegiatan membaca memerlukan keteraturan dari kiri ke kanan, dan dari atas ke bawah. Agar anak dapat membedakan kiri-kanan, serta atas-bawah dapat dilatih dari kegiatan sehari-hari. Misalnya, saat ia menggunakan anggota tubuh kanan dan kiri atau saat berbelok ke arah tertentu.

Stimulasi dalam literasi dini

Persiapan agar seorang anak siap membaca berlangsung dalam rentang yang panjang, tanpa perlu menunggu dia melampaui tahap mendengar dan berbicara terlebih dahulu. Kematangan literasi dapat dibangun bersamaan dengan saat anak menyerap kemampuan mendengar dan mengembangkan kemampuan berbicara.

Agar anak siap membaca dan menulis, maka persiapannya sudah dilakukan sejak bayi dan dikembangkan sesuai dengan tumbuh kembang anak.

Berikut ini adalah tahap perkembangan dalam pemerolehan literasi, dan stimulasi yang dapat dilakukan:

• Bayi hingga 3 tahun. Pada tahap ini anak mulai senang memperhatikan gambar pada buku, mendengarkan ketika ibunya menyanyi, dan mendengarkan cerita. Pada tahap sekitar 3 tahun dia mulai senang mencoret-coret sambil bercerita. Stimulasi yang dapat dilakukan ketika masih bayi adalah dengan mengajaknya bercakap-cakap (“Kita mandi dulu, yuk”). Ketika ia sudah dapat mengenggam, kita dapat memberikannya soft book atau mainan di bak mandinya. Permainan dengan benda-benda geometris (yang lembut tentunya) dapat membantu anak mengenal bentuk. Menyanyi dan bercerita adalah kegiatan yang dapat memperkaya keterampilan literasi anak. Definisi bercerita sangat luas, bukan hanya dongeng, tetapi segala kegiatan yang memperkaya kosa kata anak. Percakapan saat memakai baju, mandi, makan adalah kegiatan bercerita juga.

• 3-4 tahun. Di tahap ini anak sudah mengenal bahwa setiap huruf alfabet punya nama, sudah dapat mengenal tanda atau papan petunjuk yang ada di sekitar (misalnya, papan petunjuk “Keluar” di kebun binatang), menaruh perhatian pada bunyi-bunyi bahasa yang berbeda, menghubungkan peristiwa dalam cerita dengan pengalaman sendiri, membuat tulisan dalam bentuk coretan (scribble). Apa yang dapat dilakukan? Membacakan cerita dengan menunjuk huruf di dalam buku dan mengaitkan cerita dengan pengalaman si anak; menunjukkan tulisan nama binatang saat ke kebun binatang, tulisan pada kaleng susunya; menanyakan pengalaman anak (Harus spesifik, tentunya. Misalnya, “Gajah yang kita lihat tadi warnanya apa ya?”), dan memberinya kesempatan menulis dan menggambar dengan bebas.

• Taman Kanak-Kanak (5 tahun). Di tahap ini anak mengenal dan menyebutkan nama huruf besar dan kecil, dapat menyebutkan urutan bunyi dalam suatu kata, dapat menyebutkan judul buku dan pengarangnya, dapat membuat perkiraan cerita dengan melihat gambar, menggunakan tulisan untuk mengungkapkan pesan (dengan ejaan belum yang belum sempurna), dapat menulis nama sendiri; urutan huruf dalam suatu kata, dapat menulis huruf-huruf dan beberapa kata ketika didiktekan. Stimulasi apa yang dapat dilakukan? Pada tahap ini kegiatan membaca dan menulis sudah dapat dipahami sesuai konvensi bahasa, tetapi masih belum sempurna (misalnya, sudah dapat menulis kata, tetapi ejaan masih salah). Mereka juga dapat mengaitkan huruf dengan kata. Misalnya saja, setelah belajar kata-kata dengan huruf depan sama, anak-anak di Sekolah Tetum dengan gembira memanggil penjaga sekolah sambil berima, “Pak Iis. Ikan!” Mereka sudah paham bahwa huruf “i” yang ada pada nama Iis, sama dengan “i” pada “ikan”.

• Kelas Satu (6 tahun). Di tahap ini anak dapat dengan akurat melakukan dekoding terhadap suku kata (bahwa kata “ba” terdiri dari “b” dan “a”), dapat melanjutkan cerita di dalam buku, dapat mengenali kesalahan sendiri saat membaca sehingga suatu teks jadi bermakna, dapat menulis teks tertulis untuk dibaca orang lain. Bila stimulasi literasi sebelumnya berlangsung dengan menyenangkan, maka anak akan menunjukkan rasa haus terhadap kegiatan literasi. Contohnya adalah Reza dan anak-anak seusianya di era fesbuk. Mereka dapat menulis teks tertulis agar orang lain membaca, terkadang dengan ejaan yang belum sempurna. Misalnya, saat chat, Izzan (5 tahun) mengakhiri obrolan dengan menulis, “akumaumakan” (tanpa spasi di antara kata). Reza menulis kata “saat” dengan “saad” karena tulisan “Saad” sudah dikenalnya sejak kecil –nama keluarga ibunya adalah Saad. Stimulasi yang diberikan tentu memberi kesempatan seluasnya pada minat membaca anak, tanpa perlu mengoreksi langsung bila ia melakukan kesalahan. Dengan memberikan contoh, anak dapat menyerap dan mengoreksi kesalahannya sendiri.

Kegiatan baca dan tulis hanyalah bagian kecil dari literasi. Membuat anak menikmati kegiatan literasi menjadi lebih penting, karena kenikmatan dalam berproses akan memberi hasil yang lebih bermakna. ”Sedang apa Anda saad ini” adalah pertanyaan yang menggambarkan keasyikan seorang anak dalam proses literasi. Kita tidak perlu menjawabnya.

Tulisan ini dibuat sebagai wawancara tertulis untuk majalah Nakita dan dimuat di Nakita no 526, 27 April-3 Mei 2009, hal. 4-5

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s