Orang Dewasa Berkebutuhan Khusus

By Endah W. Soekarsono

February 10, 2010

Seorang guru baru di tempat kami mengatakan bahwa dia tidak akan menyekolahkan anaknya di SD yang kami dirikan.

Saya tidak terkejut dengan pernyataan itu karena guru kami memang tidak wajib menyekolahkan anak di tempat kami, kan.

Tapi saya terperangah dengan alasannya: “Masa Dio satu sekolah sama Daru dan Ram (semua bukan nama sebenarnya).”

Daru dan Ram adalah anak berkebutuhan khusus. Daru penyandang dispraksia (gangguan perkembangan yang berpengaruh pada gagasan, perencanaan dan tindakan), sedangkan Ram mempunyai kelainan indrawi.

Saya mencoba menenangkan diri saya sebelum mengatakan, “Bagaimana mungkin kita bisa meyakinkan kepada orang lain tentang konsep pendidikan di sekolah kita kalau kita sendiri membelakanginya.”

Dia terkejut mendapatkan dirinya salah ngomong, dan mencoba melindungi dirinya dengan berkata, “Orang tua Abi –salah satu murid TK B di tempat kami– kemarin bilang, Abi nggak akan disekolahkan di SD X soalnya anak autis di sana lari-lari.”

Bisa dirasakan kan bagaimana dia “lari” dari pembicaraan. Saya bilang, “Orang tua Abi nggak tau kan sekarang ini anaknya satu kelas dengan anak ADD dan dispraksia. Oke aja kan.”

Pernyataan guru baru kami adalah representasi pemikiran umum. Orang-orang yang menganggap anak mereka sempurna, dan tidak boleh disejajarkan dengan anak yang ”tidak sempurna”.

Orang-orang yang mengaku beragama, mengatakan “Allahuakbar” di dalam shalat mereka, tapi sama sekali tidak mengakui keagungan Dia dalam keseharian mereka.

Kehadiran anak-anak berkebutuhan adalah cara untuk menyentuh kebesaran-Nya.

Paling tidak, dalam kasus saya, saya kerap tidak dapat menahan keharuan setiap kali membuka buku-buku yang menampakkan kebesaran-Nya. Tahapan motorik manusia, misalnya, membuat saya kagum pada detail yang dipikirkan oleh-Nya. Dan saya membayangkan Dia melakukannya dengan penuh keasyikan. Dia menciptakan kemampuan melempar dalam berbagai fase. Pada umur 2-3 tahun manusia melakukan gerak melempar dengan kaki diam dan dengan kedua tangan. Pada umur 4-5 tahun pola gerak ditambah dengan memutar tubuh, kaki maju pada sisi tangan yang memutar. Pada umur 6 tahun pola gerak sudah matang.

Dalam kemampuan melompat, manusia melakukannya dengan satu kaki mendahului (2 tahun), lalu dengan kedua kaki (3 tahun). Umur 5 tahun anak dapat melompat sejauh 1 meter atau setinggi 30 cm.

Dan Allah menyiapkan kemampuan motorik kasar itu agar manusia mudah menjalani hidupnya kelak. Kenyataan yang saya hadapi di sekolah: banyak orang tua tidak menduga bahwa kemampuan melompat, melempar dan motorik kasar lain akan menunjang kemampuan motorik halus. Mereka ingin anak mereka segera bisa menulis, tapi mereka tidak memberi kesempatan pada anak mereka untuk bergerak.

Di sekolah, kami melatih anak untuk melompat dengan dua kaki pada usia 3 tahun, dan lompat jauh/tinggi pada usia 5 tahun. Saat ini kesempatan bergerak yang kurang bagi anak-anak membuat banyak anak tidak mencapai kemampuan tersebut. Alhamdulillah, anak-anak yang menjalani terapi –karena hiperaktivitas, dispraksia, impulsivitas, atau gangguan neurologis— memiliki perkembangan signifikan dalam kemampuan fokus, motorik kasar dan motorik halus, bahkan melebihi anak ”normal”.

Dalam membuat kurikulum motorik halus pun, saya terinspirasi dari buku Pre-Braille for Kids. Sebelum dapat meraba huruf Braille, anak-anak dengan gangguan penglihatan dilatih kemampuan motorik halusnya dengan tahapan meraih, menggenggam dan melepas. Jadi, anak-anak tidak dengan gangguan penglihatan pun saya pikir perlu dilatih meraih, menggenggam dan melepas dahulu sebelum mereka memegang pensil.

Orang tua yang mengira anaknya normal, kerap tidak menyadari bahwa anak mereka pun mungkin mengalami gangguan motorik halus, kalau di rumah tidak pernah dilatih untuk self care: memegang gayung, memencet shower, memegang sendok, membawa tas, merapikan mainan ….

Pola asuh yang cenderung meladeni akhirnya menghasilkan anak-anak dengan tonus otot lemah dan membuat mereka tidak dapat memegang pensil dengan tepat.

Guru baru itu pun –saya tahu—masih membiarkan anaknya makan disuapi Mbak. Saya yakin, kalau anaknya bersekolah di tempat saya, motorik halusnya termasuk yang harus dibenahi.

Saat ini banyak anak ”normal” (how I hate this term) yang datang ke tempat kami, kemudian kami identifikasi memiliki gangguan yang kelak dapat berpotensi menjadi kesulitan belajar.

Masalah yang paling banyak muncul di sekolah kami dalam kurun 3 tahun terakhir adalah gangguan fokus dan keaktifan. Ya, kondisi sosial yang membuat kita bergantung pada wifi dan ponsel membuat sekeliling kita penuh dengan gelombang elektromagnetik yang memicu hiperaktivitas.

Dia (dengan D besar) sudah menyiapkan blueprint manusia, tapi ulah kita jugalah yang membuat anak kita tidak berkembang sesuai blueprint itu. Dampak perubahan lingkungan dan perubahan sosial jelas telah membuat generasi muda kita berubah.

Kita tidak bisa lagi mengira anak kita “normal” dan tidak layak bersisian dengan yang “tidak normal”. Boleh jadi anak kita pun berkembang tidak sesuai dengan blueprint ciptaan-Nya. Sekalipun tidak sesuai blueprint, banyak jalan agar anak kita meraih tahap perkembangan yang sesuai dengan usianya.

Untuk membantu anak-anak agar tumbuh sesuai dengan tahapan perkembangannya, saya membuat kurikulum yang sangat mendasar dan kembali pada blueprint. Kepekaan itu diperoleh karena persentuhan dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Jadi, anak “normal” mendapatkan keuntungan, bukan, karena perkembangannya bisa diidentifikasi dengan tajam.

Bukankah dulu Montessori mengembangkan metode yang mendunia karena dia menangani anak-anak handicap?

Saya bukan Montessori, hanya seorang pengelola sekolah kecil yang menemukan keasyikan berbincang dengan-Nya mengenai blueprint-Nya.

Dan Dia mengirim kepada saya bukan hanya anak-anak berkebutuhan khusus, tapi juga orang dewasa berkebutuhan khusus.

Ya, guru baru itu termasuk kategori orang dewasa berkebutuhan khusus karena pola pikirnya harus dibenahi.

Endah Soekarsono – Sekolah Tetum
(Catatan ini semula saya lansir di FB pribadi saya karena saya anggap bersifat pribadi. Setelah beberapa teman men-share dan mengkopi, dan ada tanggapan positif dari teman mereka, saya pikir tulisan ini tidak lagi hanya untuk kalangan dekat saya. Semoga dapat memberi inspirasi)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s