Mama, Rumah SBY Dimana Sih?

Wrote by Endah W. Soekarsono

June 30, 2009

Setahun lalu Reza bertanya kepada mamanya di mana rumah SBY dan JK, karena ingin bertemu mereka, dan hari ini harapan itu terwujud: Dia akan membacakan puisi di hadapan RI I. Ini menjadi kegiatan puncak dari serangkaian acara membacakan puisi di depan para calon presiden, setelah Mega dan JK.

Reza seperti selebriti cilik yang riuh dengan tawaran manggung, dan menjadi pusat perhatian kerabat orang tuanya. Tapi berbeda, dengan selebriti cilik, Reza menjalani semua itu dengan wajar, sepolos ekspresi wajahnya ketika membacakan puisi di samping JK dan Wiranto, sepolos jawabannya ketika ditanya mamanya: Reza ingin baca puisi didampingi siapa? Jawaban Reza adalah Aurora dan Kania, dua teman semasa di TK, dan kini berbeda sekolah.

Secara kebetulan memang mereka bersekolah di Tetum, dari sekitar tahun 2004-2008. Kebetulan pula ketiganya cukup menonjol dalam berekspresi. Jadi ketika mama Reza bertanya kepada saya, apakah Aurora dan Kania yang dipilih, saya menjawab, “Keduanya sama baiknya, tapi kalau kita memilih Aurora, kita mendukung kemampuannya berpuisi.” Tapi Tuhan tidak ingin membedakan Aurora dan Kania. Aurora mendapat kesempatan mendampingi Reza dalam acara membacakan puisi di hadapan Mega dan kemudian JK, tapi dalam kesempatan dengan SBY, Kania yang maju, karena Auora mudik.

Rasanya baru kemarin melihat mereka bermusuhan-berbaikan-bertengkar-tertawa-bermain, namun kini mereka bekerja sama, agar acara yang melibatkan pemimpin-pemimpin negara ini berlangsung sukses. Tidak mudah tentu, karena mereka masih anak-anak. Ibu Reza dan Aurora bercerita bagaimana kedua anak itu bertengkar dengan duduk berjauhan, tapi juga bisa akrab kembali; bagaimana mereka ngambek karena harus menunggu. Namun di saat membacakan puisi mereka menunjukkan penampilan terbaik, dengan rasa percaya diri yang mengagumkan. Rasa percaya diri seperti itu tidak muncul seketika, tetapi dengan stimulasi sesuai tahapan usia dan dan lingkungan yang kondusif.

Reza, Kania dan Aurora beruntung karena berasal dari keluarga yang membiarkan mereka tumbuh wajar, bahkan happy anak-anak mereka bersekolah di sekolah yang tidak mendorong ke arah akademis. Sikap semacam itulah yang mengantar mereka ke prestasi yang tidak dimiliki semua anak. Ya, Radio Female memilih Reza sebagai pembaca puisi dalam pertemuan dengan calon-calon presiden karena kemampuan verbal dan kognisi serta kepolosannya dalam acara-acara tanya jawab dengan Paman Gery di pagi hari. Prestasi ini tidak akan terulang dua kali, karena dalam pemilihan presiden di tahun 2014 mereka akan berusia 12 tahun, sudah terlalu gede untuk acara semacam itu. Belum tentu pula akan ada acara serupa.

Kalau ada yang bertanya, kok bisa ya Reza terpilih? Ini karena network ibunya yang wajar dengan Radio Female. Ibunya “hanyalah” salah seorang pendengar radio yang setia dan sering mengirim SMS yang melibatkan Reza. Dulu ketika TK, sebelum berangkat sekolah Reza kerap mendapat telepon dari Paman Gery di acara Your Morning Coffee, dan mendapat pertanyaan sehari-hari semacam “Sudah makan Reza?”, dan Reza menjawab, “Sudah, makan nasi goreng.” Tapi Reza membuat kejutan ketika “berceramah” soal pemanasan global: pulau Sumatra akan tenggelam dan Padang menghilang dari bumi (keluarganya dari Minang). Dia memang punya kepedulian khusus terhadap lingkungan. Di sekolah TK-nya dia cerewet mengingatkan gurunya mematikan lampu ketika keluar ruangan, dan memakai payung karena matahari makin menyengat.

Sekalipun berpikiran out-of-the-box, Reza tetap tumbuh wajar, seperti percakapan dengan ibunya di bawah ini, yang dimuat di blog Sekolah Tetum . Percakapan ini merupakan kutipan dari surat yang dikirim ibunya ke Tetum. Dalam cerita itu, R adalah Reza, M adalah Mama, dan P adalah Papa.

R: ‘Mama, rumahnya SBY dimana sih?’
M: ‘Di Cikeas, Bogor. Kenapa?’
R: ‘Kapan-kapan kita kesana kalau SBY lagi dirumah ya’
M: ‘Mau ngapain?’
R: ‘Kasih tahu tentang pemanasan global ini sama SBY’
M: ‘Ooo, SBY sih sudah tahu tentang pemanasan global. Malahan baru-baru ini ada pertemuan para pemimpin dunia, Global warming Conference di Bali, SBY jadi tuan rumahnya’
R: ‘Jusuf Kalla datang juga?
M: ‘Duh, Mama lupa, kayanya enggak deh’
R: ‘Rumahnya Jusuf Kalla dimana?’
M (sambil nahan ketawa, udah tau Reza pasti bilang mau kesana, mau kasih tahu tentang pemanasan global ini sama JK) “Sepertinya di Menteng rumahnya’
R: ‘Nomor berapa rumahnya?
M: ‘Wah jalan apa sama nomor berapa Mama nggak tahu. Papa barangkali tahu”
R: ‘Reza tanya sekarang ya’
M: ‘Iya’ (karena udah gak tahan mau ketawa)
P: ‘Lho kok belum bobo, Reza?’
R: ‘Papa tau nggak rumahnya Jusuf Kalla dimana?’
P: ‘Papa nggak tahu. Kenapa?’
R: ‘Reza mau kasih tahu tentang pemanasan global sama Jusuf Kalla’
P: (bingung, kok tau2 Reza ngomongin pemanasan global) ‘Mama mana, sayang?’
R: ‘Dikamar’
P: ‘Ya sekarang bobo dulu sama Mama ya’

Ternyata harapan Reza terpenuhi. Dua minggu lalu dia bertemu JK, dan hari ini bertemu SBY, sekalipun tidak membahas masalah pemanasan global.

Harapan yang polos ternyata diprioritaskan untuk menjadi kenyataan oleh Sang Pencipta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s