Developmental Milestones

Tulisan berikut saya kutip dari facebook note kenalan baru: Ibu Muthmainnah Djamal Irdian, seorang terapis, yang menurut saya bagus sekali untuk dibaca para orangtua.

Happy reading!

February 3, 2010
Ketika seorang ibu bercerita kalau anaknya sangat hebat karena melewati step merangkak dan bisa langsung berdiri, saya hanya bisa tersenyum…..Ketika kembali bertemu lagi sang ibu kembali bercerita kalau sekarang anaknya sudah bisa berlari… Anaknya tidak melangkah selangkah dua langkah tertatih-tatih tapi langsung berlari… Sang ibu berkata “anakku hebat ya!?!” saya kembali tersenyum.

Setahun berlalu, tiba-tiba saya mendapat telfon dari ibu tersebut yang mengeluhkan tentang anaknya yg tidak pernah berhenti bergerak dan hingga saat ini belum bicara. Sebisa mungkin saya menjelaskan tentang tahapan perkembangan anak dan kebutuhan sensori anak. Akhirnya kami membuat janji untuk assessment.

Saya dan beberapa rekan selalu berdiskusi tentang berbagai macam hal, termasuk tentang begitu banyaknya kasus anak2 yg datang dan butuh bantuan kami ternyata hampir 70% melewati tahapan merangkak.

Banyak diantara kita yg tidak memahami betapa besarnya kuasa ALLAH yg sudah memberikan begitu banyak berkah kepada makhluknya. Kita tidak sadar bahwa hanya melewati satu step diantara begitu banyaknya step yang harus dilewati manusia akan berpengaruh besar didalam hidupnya di kemudian hari.

Saya akan bercerita tentang saya yang menurut ibu saya juga melewati tahapan merangkak. Ibu saya bilang kalau dulu saya tidak merangkak tapi mengesot. Sekarang saya baru memahami betapa besarnya arti merangkak itu. Saya mengalami gangguan yang dalam medis disebut dyspraxia, dimana saya mempunyai kelemahan dalam melakukan aktivitas. Saya terkadang melakukan hal2 yang tidak perlu dahulu sebelum sampai saya sampai tujuan utama saya. Contoh simpelnya, terkadang dipikiran saya mau mandi dan sudah pasti saya mengerti tahapan2 mandi tapi saat pelaksanaannya saya mungkin akan cuci piring atau mencuci baju dan saya melakukan itu tanpa saya sadari. Artinya ide dan pelaksanaan tidak sinkron.

Dan efek lain yang saya rasakan karna saya tidak merangkak adalah saya mudah lelah saat menulis, bahkan kalau dipaksa menulis lama maka jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan saya bisa merah dan akhirnya kapalan karna saya memegang pensil terlalu keras karna kekuatan otot lengan dan tangan saya tidak kuat, dan saya terlalu memfokuskan kekuatan pada jari2 saya. Akhirnya saya tidak menyukai aktivitas menulis atau menghindari aktivitas menulis. Itu saya alami hingga saat ini. Dan postur tangan saya pun agak bengkok karna tidak adanya penguatan otot. Berterima kasihlah saya pada mesin foto copy, computer dan teman2 yg mau meminjamkan catatannya untuk saya foto copy.

Hanya beberapa teman saya yang tahu bahwa saya juga mengalami gangguan keseimbangan, dimana saya tidak dapat berjalan mengikuti garis lurus. Karna itulah saya sebenarnya takut ketika harus menyetir. Ketika menyetir, saya membutuhkan konsentrasi dua kali lipat dibandingkan orang lain. Saat orang lain bisa menyetir sambil mendengarkan radio, saya tidak dapat melakukan itu. Saya harus benar2 berkonsetrasi pada jalan di depan saya dan banyak2 berdoa dalam hati demi keselamatan saya.

Beruntungnya saya hingga saat ini saya sudah mampu mengadaptasi. Ketika saya sudah belajar dan tahu tentang milestone dan tahap perkembangan anak saya menyadari kalau kesulitan2 yang saya hadapi sejak dulu bukan hanya karna faktor malas tapi juga karna faktor ketidak matangan perkembangan ( ini agak sedikit ngeles…). Mungkin kalau jaman saya kecil okupasi terapi sudah berkembang dengan baik, saya pasti diharuskan terapi. Dan orang tua saya harus mengelurkan extra money untuk saya. Untunglah saya masih bisa bertahan dan dapat melewati kesulitan2 itu, walaupun harus terseok-seok.

Dari beberapa buku yang saya baca , ternyata ketika anak melewati satu step dari milestone maka orang tua dapat memaksakan anak untuk kembali lagi belajar. Karena tahap perkembangan yang tidak sempurna merupakan proses belajar dan kalau diberikan terus menerus setidaknya akan menempel dalam otaknya. Kalau tidak mencoba maka anak tidak belajar.

Setiap hari bekerja dengan anak2 yang punya kebutuhan extra dibandingkan anak lain membuat saya semakin bersyukur. Saya bersyukur setiap hari ALLAH memberikan saya kesempatan untuk belajar. Saya bersyukur diberikan kesempatan untuk membantu anak2 tersebut. Saya bersyukur setiap hari dapat tertawa dan tersenyum melihat begitu banyaknya tingkah laku anak2.

Cerita ini hanya bukan untuk menakut-nakuti orang tua. Saya hanya ingin berbagi dengan semua orang tua yang pasti akan melewati berbagai macam step tersebut. Jangan terlalu khawatir kalau anak melewati satu step. usahakan untuk tetap memberikan stimulus kepada anak.

Selamat belajar dan berbagi……

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s