Halo!

Di blog ini saya menempatkan tulisan-tulisan yang inspirational, dan tulisan-tulisan yang saya rasa perlu untuk dibaca siapapun yang pernah berkunjung ke blog Reza’s and Lukman’s Joy of Learning :-)

Advertisements

MENGATASI  AMARAH PADA REMAJA AUTIS

Tulisan Ibu Any Sonata di facebook group LRD Member.

Penyebab marahnya bisa beragam : 

1. Keterbatasan komunikasi. 

2. Keinginan yang tidak dipahami / dipenuhi. 

3. Keterampilan memecahkan masalah yang belum ada. 

4. Merasa tegang, tegang dan n tidak nyaman. 

5. Ingin keluar dari situasi yang menekan.


Mereka sering kesulitan mengekspresikan : 

1. KEmarahan 

2. Kecemasan 

3. Ketakutan 

4. Frustrasi

5. Ketegangan 

6. Kebingungan


Sehingga mengekspresikan perilaku agresif kepada: 

1. Anak lain 

2. Diri sendiri 

3. Org dewasa lain. 


Mereka mungkin : 

1. Memukul 

2. Menendang 

3. Melempar 

4. Membenturkan kepala.

5. Menjambak 


Langkah-langkah mengatasi : 

1. Cari pemicunya apa. 

2. Pelajari respon anak terhadap pemicu tersebut 

3. Ketahui apa target anak dengan  perilaku tersebut


Contoh kasus yang umum terjadi : ibu jd korban jambakan anaknya, kenapa? ternyata bahasa si remaja spt ini : Mama tuh orang yang paling deket sama aku, paling ngerti aku, kenapa sekarang : 

1. Selalu suruh2 aku 

2. Selalu tekan aku 

3. Selalu tidak ngerti aku

4. Tidak bantu aku di waktu aku bingung dengan diriku.  


Setelah diskusi dengan banyak orang tua, saya membuat semacam kesimpulan  ternyata banyak kondisi anak berubah tapi : 

• POLA ASUH  tidak berubah, masih anggap anak seperti anak kecil 

• Pikiran dan pemahaman orangtua tidak berubah

• Pengalaman orang tua tidak membekali hadapi perubahan ini 

• Orang tua tidak memahami perubahan anak ini adalah sesuatu yang wajar, dalam tahap kehidupan seorang anak.   


Oleh karena itu perlu sekali Mama Papa membuat komitmen buat belajar / membaca / diskusi  mengenai parenting / cara mengasuh dengan berbagai kasus-kasus remaja, bahkan di anak regular pun gejolak remaja kadang sulit di atas, masalah pergaulan, cermin diri, harga diri, hormonal, ego, dll sudah  muncul susul menyusul.


Solusinya : 

1. Ajarkan problem solving terhadap masalah. 

2.  Biasakan sharing kehidupan. Ceritakan masalah-masalah yang kita hadapi di kantor, di rumah, di dalam keseharian kita.  

3.  Ajarkan anak menulis atau bercerita lebih banyak 

4.  Beri contoh cara marah yg benar di rumah. 

Kalau orangtua sedang marah, banting pintu anak akan tiru banting pintu, banting gelas anak akan banting gelas juga. 

5.  Belajar dari pengalaman teman lain, dari grup atau komunitas, baca dari mana saja. 

 

Perlu diingat oleh kita, anak marah, kita juga bisa ketularan naik darah.  Ini pegangan kita : 


• Marah boleh, jangan berbuat dosa. 

• Marah boleh, jangan sampai matahari terbenam. 

• Marah meningkat, ingat kita juga harus belajar mengampuni.

• Jaga hati kita.  Jangan terpancing. Jangan terbawa. 

• Cari jalan keluar, cari solusi, kalau perlu diskusi dengan pihak lain, teman senior atau professional. 


Kita dan Remaja Autis perlu melatih diri untuk mengendalikan kemarahan dengan  : 

1. Tarik napas panjang. Tahan nafasnya. 

Hitung 1- 5 atau sampai  10. 

Makin marah, makin panjang tahan nafasnya, setelah sampai hitungan 7 biasanya reda. 

Tarik napas – tahan – buang napas. 

Coba 5 – 10 x  Biasanya mereda.  

Kalau belum reda, teruskan tarik napas.  

2. Remas bantal sambil tarik napas, tahan, hitung seperti di atas dan buang napas. Lepas remasan.

3. Kepalkan jari, Tarik napas, tahan, hitung 1-10, buang napas, lepaskan kepalan. 


Juga perlu diingat : 

1. Kemarahan saja tidak selesaikan masalah. 

2. Cari win-win solution 

3. Tidak  ada yang sempurna di dunia, jadi terima dan belajar terus untuk  lebih baik. 


Cara mencari tahu penyebab anak marah, sebagai berikut: intervensi biomedis : 

1. Apakah ada diet bocor, makanan berphenol, makanan yang kita anggap aman dan masih diberikan.  Catatan makanan sangat diperlukan untuk melihat masalah ini.   

2.  Apakah banyak makan daging merah 

3.  Apakah ada masalah dengan kalsium (bisa kekurangan atau kelebihan) 


Pengamatan lainnya : 5W + 1 H dll  

1. Kepada  siapa marahnya 

2. Kapan marahnya 

3. Dimana marahnya

4. Apa penyebabnya

5. Mengapa anak marah 

6. Bagaimana anak marah 

7. Apakah ada obsesi


 


Catatan Tambahan : 


1. Penyebab lainnya anak agresif , kojsumsi daging merah yang berlebihan, diet yang tidak ketat, banyak melanggar atau kelolosan makanan. 


2. Agresifitas yang tidak di tangani akan terbawa sampai dewasa.  Atasi segera setelah kejadian pertama, sebab kejadian kedua bisa menyusul juga. 


3. Perubahan hormon pada laki laki dan perempuan sama pengaruhnya pada kestabilan emosi.


4. Peran ayah dan ibu sebaiknya seimbang, di mana ayah dan ibu tidak ada good parents dan bad parents, sama sama konsisten, memberikan pujian di kala anak berbuat benar dan memberi konsekuensi lainnya. 


5. Kondisi mineral terutama kalsium (baik kurang maupun lebih) bisa membuat anak kemungkinan menggigit diri sendiri atau orang lain


6. Orangtua tidak boleh terlihat lemah ketika anak sedang marah.   Bisa meninggalkan anak, tapi bahas setelah anak tenang. Kembali kepada materi BAIK DAN TIDAK BAIK.   


7. Hal-hal baik harus dijadwalkan dengan baik, supaya bisa dilakukan sampai 6 mingguan di bawah pemantauan kita.  Kalau sudah lebih dari 6 minggu akan menjadi kebiasaan.   Buat jadwal ya…   Ini untuk menghindari anak yang ngamuk karena tidak mau belajar.     


8. Jangan merespon perilaku buruk anak dengan mengabulkan keinginannya.    Perilaku buruk yang dikabulkan keinginannya akan membuat anak mengulangi terus menerus.  Sebab dia pikir, dengan begitu, akan diperoleh yang diinginkannya.  


9.  Dulu saya mengalami hal-hal yang sulit di mall, jadi pernah saya alami, masuk mall, cari satpam dulu untuk melaporkan masalah anak.  Sehingga bala bantuan bisa diantisipasi.   Anak juga tidak berani sengaja melakukan hal-hal yang tidak baik, karena ada pihak otoritas yang ikut mengawasi gerak geriknya.   Aman.  


Contoh kasus 

1. Anak menangis meraung-raung di mall,  main di tempat yang sama berulang, padahal sudah 12 kali main itu terus.  Solusi :  

• bisa ditinggal agar anak tidak mendapatkan perhatian atau 

• langsung angkat bawa pulang.  

• Alihkan perhatian kita dan anak ke hal lain.  

•  Lain kali sebelum ke mall, kita buat perjanjian dulu sama-sama secara tertulis.    

 

2.  Remaja menjatuhkan barang sampai pecah, dalam rangka melampiaskan kekesalan dengan ekspresi biasa saja, solusi  :  

• tidak perlu diberikan respon berlebihan karena bisa jadi anak melakukan hal tersebut karena suka bunyi pecah, atau reaksi teriakan /kehebohan kita. 

• Suruh ambilkan alas kaki untuk si remaja

• ambil sapu dan pengki 

• minta si remaja untuk bersihkan sendiri.  

• Jangan dibantu.  

• Nada suara datar. 

• Instruksi dengan tenang. 

• Perhatikan anak mengerjakannya dengan baik.

The Lab Rat Chronicles

Catatan Ibu Wiratna Widjaja di LRD Member fb group  20 Feb 2018

Saya ingin berbagi salah satu bacaan yang menarik dari salah satu buku yang saya miliki: “The Lab Rat Chronicles: A Neuroscientist Reveals Life Lessons from the Planet’s Most Successful Mammals, oleh Kelly Lambert.” Di salah satu bab di buku tersebut adalah mengenai percobaan yang dilakukan oleh Yong-Seok Jee dan rekan-rekannya di Korea, dimana tikus-tikus muda dan tua dipaksa berlari di treadmill selama 30 menit sehari selama enam minggu. Percobaan ini menemukan:

Dalam waktu singkat 10 hari, terlihat peningkatan aliran darah di hippocampus (bagian otak yang berperan dalam mengkonsolidasikan informasi memori jangka pendek ke memori jangka panjang dan berperan dalam memori spatial yang berfungsi dalam navigasi.

Dalam waktu 30 hari dipaksa lari di treadmill, terjadi angiogenesis (tumbuhnya pembuluh darah yang baru), meningkatnya aliran darah di motor cortex para tikus.

 

Continue reading

Pendidikan Seks Untuk ABK

Pendidikan Seks untuk Anak Autis

Minggu, 4 April 2010 | 07:43 WIB

KOMPAS.com — Gangguan perkembangan, terutama dalam berkomunikasi, berinteraksi sosial dan berperilaku, yang dialami oleh anak-anak autis membuat kebanyakan orangtua lebih fokus untuk meningkatkan kemampuan anak dalam berkomunikasi dan bidang akademik lainnya.
Padahal, anak-anak berkebutuhan khusus juga akan berkembang menjadi seorang remaja, mengalami masa puber, dan tertarik pada hal-hal yang berbau seksualitas. Itu sebabnya anak-anak autis tetap perlu mendapatkan pendidikan seks sejak dini.
Sementara itu, kebanyakan orangtua sering kali menghindari diskusi masalah seks dengan anak autis. Padahal, seorang remaja autis tidak punya pengetahuan yang cukup untuk mengerti soal seks karena keterbatasan kemampuan motorik dan perilaku.
Itu sebabnya banyak anak autis punya masalah dalam hal seksualitas, misalnya kebiasaan memegang kemaluan atau menyentuh bagian privat tubuh orang lain.
“Masalah-masalah tersebut biasanya baru disadari orangtua saat sudah menjadi masalah besar, misalnya anak terbiasa melakukannya di tempat umum. Ini karena orangtua tidak mencermati atau mengabaikan perilaku seks anaknya,” ungkap Dra Dini Oktaufik, praktisi terapi perilaku.
Dini menuturkan, seorang anak autis juga bisa berkembang layaknya seorang anak normal, baik fisik maupun hormonal. “Mereka juga akan mengalami perkembangan seksual dan punya dorongan yang sama seperti remaja normal,” ungkapnya.
Perlu dilatih
Tidak mudah memang mengajarkan seksualitas kepada anak berkebutuhan khusus seperti anak autis. Namun, bila diajarkan sesuai dengan tingkat pemahaman anak dan dilakukan secara berulang-ulang, maa anak akan mengerti.
“Seks adalah sesuatu yang alamiah dan dorongan ini dimiliki semua manusia. Tak perlu kaget jika anak masturbasi karena itu dorongan naluri. Yang penting, ajarkan anak agar tidak melakukannya di sembarang tempat,” ungkap Dini di acara Tanya Jawab Autisme yang diadakan oleh Masyarakat Peduli Autis Indonesia (Mpati) di Jakarta, Sabtu (3/4/2010).
Dini menambahkan, sebelum mengajarkan hal-hal yang lebih rumit, seperti perubahan hormonal, yang pertama perlu dimiliki adalah kepatuhan anak. Misalnya, mengajari tentang penggunaan toilet, kebersihan badan, dan rasa malu.
“Anak juga perlu memahami privasi dan bagian-bagian tubuhnya sendiri. Apa yang tidak boleh dipandang ketika berbicara dengan orang lain, serta sentuhan yang boleh dan tidak boleh dilakukan orang lain,” paparnya. Untuk anak perempuan, ajarkan mengenai kebersihan saat menstruasi.
Sikap orangtua dan terapis terhadap seksualitas akan memengaruhi pemahaman anak terhadap seks. Untuk itu, Dini menyarankan agar pertama-tama orangtua dan terapis menghilangkan pikiran tabu mengenai seks. “Kita tidak cukup mengasuh anak, tapi juga harus mendidiknya menjadi individu yang mandiri,” katanya.
Penulis: AN   |   Editor: Anna Dibaca : 497

Titip Salam Iedul Fitri Untuk Orangtuamu

Tulisan Rektor untuk mahasiswanya menjadi Viral, rektor idaman 😍

TERUNTUK MAHASISWAKU: TITIP SALAM IEDUL FITRI UNTUK ORANGTUAMU

Ditulis Prof. Joni Hermana

Saya turun menuju kendaraan dinas yang sudah menunggu di pelataran gedung Rektorat. Segera rasa sepi menyergap, suasana tampak lenggang, tidak seperti biasanya. Tempat parkir yang saat waktu nomal masih penuh, juga tampak kosong. Dengung candaria dan lalu lalang para mahasiswa masih tertancap dalam bayangan saya walaupun saya tidak melihat seorang mahasiswa pun sore itu.

Lalu mobil berjalan di sepanjang koridor jalan kampus ITS yang hijau dan rindang, mengantarkan saya menuju kediaman. Saya merasakan suasana yang hening dan kemudian  mata terasa mulai membasah…

Hanya 3 hari lagi lebaran tiba, namun suasana haru sudah mulai hinggap. Gaung takbir yang menggetarkan sebentar lagi akan kembali terdengar. Bayang keteduhan pohon di sepanjang jalan kampus yang saya lewati justru membuat hati bercampur aduk. Sebab biasanya pada saat-saat seperti ini, saya dan keluarga sedang melaju di jalan raya lintas utara Surabaya- Bandung untuk mudik dan bertemu orangtua. Walaupun menyupir dalam keadaan berpuasa, bahkan untuk perjalanan yang sangat jauh karena setidaknya membutuhkan waktu 16 jam untuk mencapainya, saya tetap melakoninya dengan semangat dan sabar. Terbayang kebahagiaan saya bertemu orangtua dan saudara-saudara keluarga besar. Sebagian bahkan hanya setahun sekali kami sempat bertemu karena kesibukan rutinitas masing-masing. Perjalanan panjang seperti itu hanyalah bagian dari tantangan menyenangkan untuk bisa saya lewati. Walaupun berat, tetap hal ini ini tidaklah cukup kuat untuk menahan rasa rindu berkumpul kembali dengan keluarga besar.

Suasana dan peristiwa  itu, tanpa terasa, sudah berlalu lebih dari 10 tahun, saat terakhir saya masih mendapat kesempatan bertemu ibunda yang sudah sepuh termakan usia. Sekarang semua itu tinggal kenangan belaka. Walaupun terasa sedih, namun kehidupan memang harus terus berjalan dan berubah. Tinggallah semua yang terjadi diantaranya yang akan melekat memberi pelangi kenangan yang kadang akan bangkit kembali ketika ada momen yang mendukung. Seperti saat sore itu, di sepanjang koridor jalan kampus ITS yang sepi nan redup tertutup oleh rindangnya pohon-pohon Akasia yang berjajar di sepanjang jalan. Semua bayang-bayang kenangan tercetus begitu saja. Air mata hangat terasa mulai menggayut.

Duh Gusti, betapa bahagianya mereka yang masih memiliki orangtua, sebab mereka adalah perekat yang mampu membuat anak-anaknya rela menempuh jarak jauh untuk datang dan berkumpul bersama di saat hari lebaran. Bukan semata berkumpul sebenarnya, tetapi lebih dari itu, kita seolah akan kembali ke masa kanak-kanak lagi dengan apa yang ibunda dan ayah lakukan. Tidak peduli berapa usia dan status anaknya saat ini, bagi mereka kita tetap lah anak-anaknya. Terbayang, berbagai makanan kecil,  kue dan jajanan kesukaan kita saat masih anak-anak akan tersedia begitu saja di atas meja makan. Ah, betapa kangennya suasana seperti itu lagi, kita dimanjakan kasih sayang orangtua walau tidak pernah mereka nyatakan dengan kata. Indahnya cinta orangtua…. Karena itu sungguh terlalu jika ada anak-anaknya yang lalu lupa. Kita harus ingat bahwa karena perjuangan orangtua lah kita sampai sekarang ini. Tidak heran jika Allah SWT lalu bersabda bahwa hanya dengan ridho orangtualah maka DIA akan ridho pada kita. Ibu dan ayahanda adalah tiket bagi kita untuk mendapatkan surganya Allah SWT. Karena itu, bagi mereka yang pintar, mereka tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk memuliakan orangtuanya, mumpung mereka masih hidup. Sebab, mereka adalah ladang pahala bagi kita, anak-anaknya. Jangan sia-siakan kesempatan ini, sebab hal seperti ini pasti tidak akan pernah datang kembali.

Dan lebaran Iedul Fitri adalah saat yang tepat untuk menyampaikan rasa sayang kita sebagai anaknya, sekaligus memohon doa dan maafnya.

Selamat mudik anak-anakku, titip salam saya pada orangtua kalian, sampaikan salam hormat saya, dan permohonan maaf jika dalam menjalankan amanah putra-putrinya untuk dididik di ITS masih banyak hal yang belum sempurna. Memang proses pendidikan memerlukan waktu panjang, apa yang kita tanam saat ini, mungkin baru berbuah setelah sekian belas bahkan puluh tahun Ananda lulus kuliah dari ITS…

Selamat Iedul Fitri 1348 H, Taqobalallaahu minna wa minkum,

Shiyaamana wa shiyaamakum,

Mohon maaf lahir dan bathin.

Semoga Allah selalu membimbing kita semua untuk menjadi insan yang bertaqwa, yang cinta orangtua, saudara, bangsa, negara dan agamanya…
AamiinYRA
Joni Hermana, Rektor ITS

(Kampus ITS Sukolilo, Surabaya

Kamis, 22 Juni 2017, pk 17.15…)

Beasiswa LPDP

 

KOMPAS.com – Kehabisan jatah beasiswa seharusnya sudah jadi mitos basi untuk pelajar zaman sekarang. Pasalnya, seperti jalan menuju Roma, ada banyak skema beasiswa yang bisa diraih. Salah satunya adalah pembiayaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan atau beasiswa LPDP.

“Pada 2016 ini akan ada 40 angkatan penerima beasiswa dari berbagai daerah di Indonesia,” ujar Mohammad Kamiluddin, Ketua Persiapan Keberangkatan LPDP, seperti dikutip dari Kompas.com, Selasa (26/1/2016).

Pelajar dapat mengajukan beasiswa untuk berbagai program pendidikan tinggi, baik di dalam maupun luar negeri. Peminat juga bisa daftar dengan tujuan pendaan untuk riset akademis.

Beasiswa ini berhak diperoleh bagi seluruh penduduk yang tercatat sebagai warga negara Indonesia. Tentunya, peminat harus memiliki kemampuan akademis, mempunyai semangat kepemimpinan, serta lolos seleksi.

“Setelah diterima nanti, pelajar juga diharuskan mengikuti Program Kepemimpinan selama enam hari. Penerima beasiswa akan ditanamkan nilai-nilai kenegaraan dengan berdiskusi, membuat karya ilmiah, dan outbond,” ujar Kamil.

Program tersebut ditujukan untuk menyatukan visi dan misi sebelum menempuh pendidikan. Nantinya, penerima beasiswa diharapkan bisa menerapkan ilmunya agar bermanfaat bagi masyarakat dan negara setelah lulus.

Biaya penuh

Beruntungnya bagi mahasiswa, beasiswa LPDP menutup semua biaya yang sekiranya akan dikeluarkan selama masa studi. Penerima beasiswa berhak atas biaya pendaftaran, uang semester, biaya buku, seminar, publikasi, dan wisuda.

Skema ini pun menanggung dana yang bersifat non-pendidikan. Pelajar akan diberikan biaya hidup, meliputi uang bulanan, asuransi, transportasi, dan dana darurat. Jika memilih kampus luar negeri, aplikasi visa serta biaya keberangkatan akademisi pun ditanggung oleh pihak LPDP.

Skema pendanaan tersebut ditujukan agar mahasiswa dapat melanjutkan pendidikan tinggi dengan serius. Beasiswa akan berlaku selama masa tempuh studi, maksimal dua tahun bagi program magister dan empat tahun untuk program doktor.
Pendaftaran

Untuk mendaftar beasiswa ini, peminat wajib menyandang gelar sarjana dan tidak sedang menjalani masa studi di perguruan tinggi mana pun. Peminat juga sebaiknya belum pernah mengambil program studi yang diminati.

Misalnya, mahasiswa S2 tidak diperkenankan untuk mendaftar beasiswa program magister. Namun, ia dapat mengajukan skema beasiswa tesis.

Sekadar catatan, peminat sebaiknya memperhatikan waktu pendaftaran dengan awal masa studi. LPDP menyaratkan minimal rencana perkuliahan dimulai enam bulan setelah tutup pendaftaran di setiap periode seleksi.

Tidak hanya itu. Pelajar disarankan telah mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum mendaftar. Pasalnya, peminat hanya boleh gagal pada seleksi wawancara maksimal dua kali dan setelahnya tidak diperkenankan mendaftar kembali.

Adapun keterangan lengkap mengenai berbagai skema beasiswa LPDP dapat diakses pada situs web http://www.lpdp.depkeu.go.id. Peminat juga bisa mengajukan pertanyaan langsung melalui surel ke cso.lpdp@kemenkeu.go.id.

Selain LPDP, Anda bisa mengetahui berbagai informasi seputar beasiswa lainnya di dalam dan luar negeri pada laman Visual Interaktif Kompas, “Berburu Beasiswa”. Selamat mencari jalan menuju kampus impian! http://edukasi.kompas.com/read/2016/09/02/13030051/Catat.Serba-serbi.Beasiswa.LPDP.yang.Perlu.Mahasiswa.Tahu.

What Teens Need Most From Their Parents

Artikel ini ditulis oleh Sue Shellenbarger sue.shellenbarger@wsj.com
Link artikel: http://www.wsj.com/articles/what-teens-need-most-from-their-parents-1470765906

Apa Yang Paling Dibutuhkan Remaja Dari Orangtuanya

Ketika remaja menjalani tahun-tahun heboh dalam perkembangan mereka, mereka perlu pembinaan, dukungan, contoh yang baik dan yang terpenting: pemahaman dari orangtuanya  Usia remaja dapat menjadi masa yang membingungkan bagi orang tua. Ketika sifat anak berubah, dari yang sebelumnya anak yang rasional menjadi anak yang emosional dan moody, dari yang sebelumnya remaja yang bijak mendadak menjadi remaja yang gemar mengambil tindakan ber resiko.

Berbagai penelitian baru menawarkan penjelasan untuk misteri ini. Pencitraan otak menambahkan jenis lain data yang dapat membantu menguji hipotesis dan menguatkan penyebab remaja berubah perilaku dan emosi mereka. Puluhan penelitian bertahun-tahun terakhir ini telah menelusuri perkembangan remaja dari waktu ke waktu, bukan hanya membandingkan kelompok-kelompok remaja pada satu waktu.

Penelitian baru ini mengubah pandangan ilmuwan tentang peran orang tua dalam membantu anak-anak menjalani masa perubahan ini. Jika dahulu masa ini dilihat sebagai waktu bagi orang tua untuk melangkah mundur, justru sekarang semakin dilihat sebagai kesempatan bagi orangtua untuk tetap memonitor dan terhubung secara emosional.

Penelitian ini memungkinkan kita untuk mengidentifikasi empat fase penting dalam pengembangan keterampilan intelektual, sosial dan emosional yang sebagian besar remaja akan mengalami pada usia tertentu. Berikut adalah panduan untuk temuan terbaru tersebut: Continue reading

Why Ignoring May Backfire: Positive Alternatives for Disruptive Behavior

by Jessica Minahan

Some students will stop at nothing to get attention in class. Banging on the desk, making burping sounds, making inappropriate comments – we have all experienced these tedious behaviors that stop the learning and wear down even the most dedicated and experienced teacher.

Over time, most learn more appropriate ways of drawing the teacher’s attention. The distracting behavior subsides. However, there some for whom attention-seeking behaviors are a comfort zone. They continue to yell, throw things, and otherwise highjack the classroom while the helpless teacher is frustrated and out of patience.

In these cases, ignoring seems logical – we’ve been taught when a student wants attention and we give it to them, we might be reinforcing the behavior. But it is not that simple. When a student a student seeks attention in disruptive ways, it may be due to underlying distress or uncomfortable feelings, such as anxiety. Ignoring the behavior can increase anxiety or discomfort and subsequently increase the student’s behavior.

Ignoring can accidentally reinforce less safe behavior

Continue reading